45. Where are You?

4.6K 738 150
                                        

Jungkook menatap nanar secarik kertas yang ada ditangannya—selembar tiket pesawat. Ia duduk dengan kedua kaki yang terlipat didepan dada. Bersandar di pinggiran kasur kamarnya dan memandangi tiket yang bertuliskan jam keberangkatan sejam yang lalu. Jungkook meremat tiket itu hingga membentuk sebuah gumpalan kertas tak berguna lalu melemparkannya asal. Kedua tangannya meremat rambutnya kasar.

Seharusnya ia berangkat untuk menemui Aera, seharusnya sekarang pesawatnya sudah lepas landas. Namun entah mengapa, Jungkook justru melewatkan kesempatan itu. Dalam hatinya, ia merasa malu untuk bertemu Aera. Ia merasa seperti telah menjadi seorang pengecut. Ia gagal dalam mempertahankan gadis yang dicintainya.

Jungkook tidak tau, akankah ia tersenyum bahagia atau justru menangis saat nanti bertemu Aera. Karena keraguan itulah Jungkook justru berbalik arah dari terminal keberangkatan kembali berjalan menuju tempat dimana mobilnya diparkir. Ia tau dirinya bodoh dan sekarang ia tengah menyesal.

Ia bertanya-tanya dalam benaknya, apakah Aera sekarang sudah makan? Jangan sampai gerd-nya kambuh lagi.

Jungkook sudah absen kelas sebanyak dua kali terhitung dari kemarin dan hari ini. Hal tersebut membuat kedua sahabatnya datang untuk melihat keadaannya. Taehyung dan Hoseok sudah tau tentang masalah yang terjadi pada Jungkook. Selain karena terakhir kali mereka mendengar keributan keluarga itu didalam ruangan rawat Aera yang masih terlelap, dan karena racauan Jungkook yang sedang mabuk kemarin malam.

Pintu kamarnya terbuka, namun Jungkook seakan tuli dan tidak memperdulikannya. Bahkan saat Taehyung dan Hoseok sudah bersimpuh disebelahnya pun Jungkook tetap acuh.

Taehyung dan Hoseok saling melempar tatap sebelum akhirnya Taehyung menghela napas panjang.

"Jung, gue pernah denger kalo orang yang lo sayang itu pergi ninggalin lo, yaudah biarin aja lo cari yang baru." Taehyung langsung mendapat pukulan di kepalanya dari Hoseok.

"Tolol, yang bener kalo ngomong!"

Taehyung mencebik.

"Lo mah gue belom selesai ngomong anjir." Taehyung kembali menoleh pada Jungkook yang masih setia diposisi awalnya.

"Tapi, siap siap lo nyesel karena nggak bakal dapetin lagi yang kayak dia. Kayak Aera. Gue tau lo serius sama Aera, gue tau sayang lo ke dia juga tulus. So? Tunggu apa lagi? Kejar dia Jungkook. Perjuangin Aera. Sekarang. Jangan sampe waktu bikin lo nyesel."

Hoseok mengangguk membenarkan perkataan Taehyung. Jungkook mengangkat wajahnya yang semula tenggelam diantara lututnya.

"Tapi gue udah jadi pecundang. Gue malu ketemu Aera. Gue malu karena gue nggak bisa mertahanin dia." Lirih Jungkook. Pemuda itu menatap kosong kedepan.

"Sianjir lo nggak usah sok sinetron dah, gemes gue." Taehyung mengedikan dagunya, memberi isyarat pada Hoseok untuk berganti memberikan Jungkook petuah legend.

"Jungkook denger ya bro, lo sama Aera itu cuma kehalang status di keluarga as kakak adek. Lo bukan kehalang keyakinan bro, masih bisalah gass!"

Taehyung menepuk jidatnya sendiri. Memang tidak ada yang bener kalau disuruh menasehati Jungkook.

"Apa?" Tanya Hoseok tanpa suara pada Taehyung yang menatapnya dengan alis menyatu.

Taehyung menghela napas, ia menyentuh pundak Jungkook.

"Denger ya, nggak ada namanya hubungan yang berjalan mulus. Ada lubang dimasing-masing jalan. Anggep aja hambatan lo sama Aera itu restu dari orang tua kalian. Gue yakin mereka pasti pengen yang terbaik buat anaknya dan kalo memang lo sama Aera saling membutuhkan, mereka pasti restuin lo. Cuma, lo harus tunjukin pengorbanan lo dulu. Lo harus tunjukin ke kedua orang tua lo kalo lo itu nggak main-main, lo serius."

My Crazy Brother - jjkCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang