Penculik Khai dan Keputusannya

1.6K 133 2
                                        

Malam sebelumnya

Kedua manik itu mengerjap. menyipit sejenak, sebelum kembali terbuka. Berusaha menyesuaikan cahaya di sekitar.

'Sakit'.

Ia meringis. Menahan nyeri di kepala.

" Kau sudah bangun!".

Sebuah suara terdengar. Membuat tubuhnya sedikit menegang.

Ruangan di sekitarnya benar-benar seperti tempat terbengkalai. Sedikit gelap.

Hanya ada sebuah kasur kecil. Air minum diatas meja. Serta beberapa roti.

" Sepertinya kau baik-baik saja".

Ia menoleh.
Menatap bingung sosok lain disana. Berdiri di sebrang tralis besi layaknya penjara. Tersenyum miring.

" Si... Siapa kau?".

Bukannya menjawab. Ia justru tersenyum semakin lebar.

" Kau lupa padaku, P'Khai?".

Khai mengernyit. Ia yakin, tidak pernah bertemu dengan pemuda tampan dihadapannya.

" Sepertinya kau belum mengingatku".

Pemuda itu mengambil sebuah buntalan kalin merah. Membukanya.

Tubuh Khai seketika membeku. Gemetar. Kedua matanya membulat.

" Ka... Kau...".

" Ohhooo... Kau ingat sekarang".

Pemuda itu tersenyum puas. Menyimpan kembali barang kesukaannya.

" Ku harap kau bisa sedikit bekerja sama, P'Khai. Atau... Jari anak dan Omegamu yang akan ada di dalam toples itu".

" APA YANG AKAN KAU LAKUKAN PADA ANAK DAN OMEGAKU, DASAR BREBGSEK!!!".

Bruukk

Khai berusaha bangkit. Namun, kakinya mati rasa. Lemas seperti jeli.

" Ka... Kakiku... Apa yang...".

" Hahahahaha.... Benar-benar obat yang sempurna".

Sosok tersebut tertawa lebar. Ia terlihat sangat senang.

" Tenang saja... Mereka aman. Setidaknya untuk saat ini".

Ucapnya. Menatap lamat kedua mata Khai.

" Tapi... Jika kau tidak mau bersikap baik, jangan salahkan aku. tiba-tiba kau akan melihat berita kematian mereka di telefisi... Hahahaha".

" A... Apa yang kau mau?".

Khai bertanya pelan. Pikirannya di penuhi ketakutan akan bayangan dua orang tercintanya.

Sosok dihadapannya tersenyum miring.

" Uhhhmmmttt.. Apa ya?".

Ia bermain sejenak. Suka melihat ekspresi ketakutan diwajah Alpha dihadapannya.

" Serahkan Dome padaku".

" Kau gila!!! Dome adalah adik ku. Aku tidak...".

" Kecuali kau mau melihat aku menyiksa dua orang tercintamu secara langsung. Sepertinya akan mengasyikan".

Khai bungkam. Tidak tau harus berkata apa lagi.

" A... Apa yang akan kau lakukan pada Dome?".

Pemuda dihadapannya berjongkok. Senyum masih menghiasi bibirnya.

" Aku hanya ingin bermain sebentar. Tenang saja, aku tidak akan membunuhnya".

" La... Lalu..?".

Love possesive (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang