Sudah dua hari ini Adnan selalu uring-uringan, meskipun dia memang tidak pernah memiliki semangat bersekolah, dua hari ini keadaan itu semakin parah. Apalagi saat jam berangkat dan pulang sekolah, Adnan seperti induk ayam kehilangan anaknya. Berteriak pada pasangan yang pulang atau berangkat sekolah bersama. Berkata bahwa mereka menganggu Adnan, padahal Adnan yang menganggu mereka.
Tentu saja satu-satunya orang yang bisa membuat seorang Adnan Gerdapati yang kewarasannya sudah minim itu semakin minus hanyalah Bintang Cyrenia. Perempuan yang memasang tembok kokoh dan tebal pada semua gombalan maut Adnan.
"Kenapa lagi sih tu anak?" Tanya Haikal yang melihat Adnan seperti ikan dicabut tulangnya sedang menunggu Bintang untuk memasuki area kantin.
"Ditolak lagi sama Bintang." Jawab Ken singkat.
Haikal, Bayu dan Farel tertawa.
"Woi Adnan, udah keberapa kalinya lo ditolak Bintang?"
"Sepuluh!" Jawab Adnan yang memperhatikan satu persatu siswi yang ada di kantin.
Jam istirahat pertama, kantin dipadati oleh siswa-siswi yang kelaparan. Tapi meja pojok kantin bebas dikuasai oleh mereka berlima dan teman-teman geng Dionysus yang lain.
"Kenapa gak nyerah aja sih, Nan, tuh Amel udah nunggu lo dari kapan hari!" Haikal berteriak.
"Gak mau!" Adnan menggeleng.
Dia lalu merebahkan kepalanya diatas meja. Sejak kecil laki-laki itu bercita-cita menjadi seorang petualang sejati seperti Giocomo Casanova, seorang petualang dari Venesia. Tapi bukannya jadi petualang yang menjelajahi dunia, Adnan malah menjadi petualang cinta.
Adnan menemukan kembali semangat berpetualang dan memecahkan misteri juga melaksanakan misi-misi saat dia bertemu dengan Bintang. Ada sesuatu yang berbeda dari gadis itu. Sesuatu yang tidak Adnan dapatkan pada perempuan lain. Tantangan dan petualangan. Dan Adnan menyukai itu.
Butuh waktu tiga hari untuk Adnan mendapatkan nomor Bintang, padahal biasanya hanya butuh tiga detik untuk mendapatkan nomor perempuan mana saja. Mungkin itu yang menjadi alasan kenapa Adnan tidak mau orang lain.
"Nan, lo beneran gak cuman penasaran kan sama Bintang?" Ken bertanya.
Adnan menegakkan kepalanya. Lantas berteriak kencang dan membuat orang-orang menoleh pada laki-laki itu, "Gue beneran suka sama dia."
"Ya udah kejar dong!" Bayu menyaut.
Entah mendapat energi semangat darimana, Adnan tiba-tiba berdiri dari duduknya. Dia menaikkan satu kaki ke atas kursi dan berteriak kencang. "Merdeka! Merdeka!"
Kelakuan gila Adnan itu membuat semua orang dikantin jadi menahan tawa. Apalagi keempat teman Adnan yang sekarang sudah tidak menganggap Adnan sebagai sahabatnya lagi.
"Gue gak punya sahabat kayak dia." Bisik Farel.
----
Sambil membawa dua buah keresek putih berukuran besar, Adnan datang pagi-pagi kesekolah sambil tersenyum lebar. Tidak biasanya dia datang sepagi ini, bahkan dia memaksa keempat temannya juga untuk datang lebih awal.
"Kenapa sih lo nyuruh kita buat datang jam segini?" Haikal bersungut.
"Gue ada rencana baru!"
"Duh, rencana apa lagi sih, Nan?" Farel bertanya.
Adnan mengangkat keresek putih yang sejak tadi dia bawa. "Ini!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Titik Dua dan Bintang
Ficção AdolescenteNama laki-laki itu Adnan Gerdapati Maharaja, laki-laki paling tampan dan populer seantero SMA Merpati. Dia juga adalah ketua geng Dionysus, salah satu geng motor yang sudah berdiri sejak lama dan memiliki reputasi mengerikan. Adnan dicap sebagai ana...
