Sambil tersenyum senang dan bersenandung lagu ceria, Adnan memeriksa penampilannya didepan cermin tinggi yang ada di kamarnya. Senyum diwajah Adnan semakin lebar saat menyadari betapa keren dan tampannya dia hari ini. Adnan mengenakan kaos lengan pendek berwarna putih, luaran berupa kemeja flannel berwarna cokelat muda motif kotak-kotak, dan celana jeans berwarna hitam.
Kemudian, Adnan turun menuju meja makan sambil terus bersenandung. Suasana hatinya benar-benar sedang bagus sepagi ini.
"Eh, Aa tumben udah rapi, mau kemana?" Bude yang heran menatap Adnan di hari libur sudah rapi sepagi ini kemudian bertanya.
Dirumah besar ini panggilan Tuan Muda itu memang adalah Aa, semua orang memanggilnya begitu. Kecuali si bos besar, yaitu Papa Adnan. Panggilan ini adalah kebiasaan dari Mama yang selalu memanggil Adnan dengan sebutan Aa.
"Jalan sama pacar dong, Bude." Jawab Adnan bahagia.
"Wah udah punya pacar aja, Aa."
Tunggu sebentar, pasti kalian bertanya-tanya, apakah akhirnya Bintang menyetujui untuk jalan bersama Adnan hari ini? Apakah begitu? Oh tentu saja tidak. Lantas kenapa Adnan bersiap pergi kerumah Bintang pagi ini? Karena dia nekat untuk menemui perempuan itu.
Dan bonusnya adalah Adnan bisa mencari muka didepan calon mertuanya yaitu Papa Bintang. Jadi, karena sudah tau bahwa pagi ini Bintang akan mengantar Papanya, Adnan mengendarai mobil berwarna hitam hadiah ulangtahunnya tahun lalu.
"Permisi!" Adnan berteriak didepan rumah Bintang.
Tidak berapa lama kemudian, keluarlah seorang laki-laki yang usianya sudah cukup tua namun masih memiliki sisa-sisa ketampanan dimasa muda. Laki-laki itu adalah Papa Bintang.
"Pagi, Pa." Sapa Adnan.
"Eh Adnan, ayo masuk dulu." Papa sudah mengenali Adnan. Selain karena mereka sudah berkenalan, Adnan adalah satu-satunya laki-laki yang pernah Bintang bawa kerumah.
Adnan bersorak dalam hatinya. Rencananya berhasi. Dia sekarang sudah berada di rumah Bintang.
"Mau pergi sama Bintang, ya?"
Adnan yang sudah duduk diruang tamu lantas mengangguk.
"Bintang udah cerita sama saya, tapi dia tolak karena hari ini harus nganterin saya kerumah sakit. Maaf, ya."
Adnan langsung menggeleng, "Gapapa Pa, saya tau Bintang pasti lebih milih Papa daripada saya."
Papa tertawa renyah.
"Pa, telurnya mau didadar atau di ceplok?!" Bintang berteriak dari dapur.
"Di ceplok aja, Ren!"
"Gue didadar, Bin!"
Mendengar teriakan Adnan dari ruang tamu membuat Bintang langsung berlari sambil masih memakai celemek berwarna kuning cerah. "Kok lo ada disini?"
"Dia mau nganterin kita, Ren." Papa yang menjawab.
Adnan menaik-turunkan kedua alisnya pada Bintang. Laki-laki itu memang tidak pernah kehabisan akal agar semua keinginannya bisa tercapai. Entah itu adalah suatu prestasi atau malah sesuatu yang menjengkelkan.
----
Dirumah sakit, dokter bicara beberapa hal. Bintang menemani Papa didalam, sedangkan Adnan duduk diluar. Sejak tadi dia masih tersenyum lebar, senang karena bisa menemani Papa Bintang kerumah sakit, sekaligus jalan bersama perempuan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Titik Dua dan Bintang
Dla nastolatkówNama laki-laki itu Adnan Gerdapati Maharaja, laki-laki paling tampan dan populer seantero SMA Merpati. Dia juga adalah ketua geng Dionysus, salah satu geng motor yang sudah berdiri sejak lama dan memiliki reputasi mengerikan. Adnan dicap sebagai ana...
