30 : Misi Keempat

36 16 0
                                        

Minggu malam, saat yang tepat untuk menggelar suatu acara. Dan salah satunya adalah acara yang diadakan oleh keluarga Maharaja. Mengundang para keluarga konglomerat lainnya, keluarga Maharaja memang rutin membuat acara seperti ini.

Ballroom hotel milik keluarga Maharaja ini terlihat ramai. Ada banyak orang-orang berduit yang memakai baju mahal berjalan ke sana kemari sambil membawa sebuah gelas berisi minuman beralkohol ataupun non alkohol. Sambil tertawa dan mengobrol mereka semua memenuhi ruangan ini.

Ditengah-tengah ruangan ini ada Tuan Alfian, Tuan Alvin, dan Tuan Alvicrio, dan tentu saja Tuan dan Nyonya Maharaja yang sedang mengobrol bersama kolega bisnis mereka. Masih di lingkaran yang sama, ada Mama dan Papa Gaydan.

Acara kumpul-kumpul para kaum berduit, begitu Adnan sering menyebut acara ini.

Sedangkan laki-laki bernama Adnan Gerdapati Maharaja itu sedang mengambil minuman non alkohol. Mata tajam tuan Alfian selalu mengawasi anak semata wayangnya itu agar tidak mendekati minuman yang bisa memabukkannya itu.

Di pundaknya tersampir jas berwarna hitam yang sudah dia lepaskan dan menyisakan kemeja putih dengan dasi hitam yang sudah longgar. Adnan merasa panas sekarang.

"Kenapa gak gabung sama mereka?" Gaydan tiba-tiba bertanya sambil berdiri disebelah Adnan.

Adnan menoleh pada Gaydan dan mengikuti arah pandangnya. Mereka menatap sekumpulan remaja yang adalah anak-anak dari orang berduit disini. Adnan kemudian menggeleng. "Gak."

Toh, Adnan memang tidak pernah bergabung dengan mereka. Selain karena Adnan merasa tidak satu frekuensi dengan mereka, orang-orang itu hanya ingin panjat sosial dengan dirinya.

"Lo sendiri kenapa gak gabung?" Adnan balik bertanya.

"Gak sefrekuensi sama mereka." Alasan yang sama.

Adnan hanya mengangguk saja. "Ini kali pertama gue ngeliat lo di acara beginian. Padahal lo anak kebanggaan keluarga Nasution, dan keluarga lo sering dateng ke acara kayak gini."

"Gue tiga tahun di NY. Jadi gue jarang datang ke acara kayak ginian, lagian gak penting juga."

Adnan hanya tersenyum, setuju. Kalau tidak karena Tuan Alfian mengancam akan menyita motor-motornya, Adnan mana mau datang ke acara dimana orang-orang hanya memamerkan kekayaan mereka saja.

"Adnan!" Tuan Alfian memanggil.

"Bos udah manggil." Adnan menegak habis minumannya dan menaruh gelas kosong itu di atas meja, setelah itu berjalan menuju Tuan Alfian yang sekarang berada di tengah teman-temannya.

"Nah ini dia Adnan, anak tunggal saya." Tuan Alfian menepuk pundak Adnan sambil tersenyum lebar.

Adnan basa-basi tersenyum.

"Mirip sekali dengan kamu, Fian." Salah satu teman Tuan Alfian yang tidak Adnan ketahui namanya itu memuji. Entah itu adalah pujian atau hinaan. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa wajah tampan Adnan memang menurun dari Papanya yang juga tampan.

"Sekolah dimana dia, Fian?"

"Di SMA Merpati."

"Oh, anak saya baru saja pindah dari sana." Ternyata itu adalah Papa Gaydan.

"Gaydan?" Tanya Tuan Alfian yang diangguki Raka, Papa Gaydan.

"Gaydan!" Tuan Raka juga memanggil Gaydan.

Sekarang Gaydan yang berjalan menghampiri mereka dan berdiri disebelah Papanya.

"Kalian berteman bukan?" Tanya Tuan Alfian.

Titik Dua dan BintangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang