7: Bunga Gerbera

78 23 0
                                        

"Kayak yang gue bilang tadi, berharap sama manusia sama aja dengan bersandar di batang kayu yang udah tua dan akan roboh. Ya gue bakal sakit kalo batang kayu itu jatuh, kan." - Bintang Cyrenia -

----

Terik matahari siang ini yang mampu membuat siapa saja mengeluh kepanasan tidak melunturkan senyum yang sekarang terbit diwajah Adnan. Laki-laki itu dengan rajinnya memasukkan semua buku-buku ke bawah meja, tidak kedalam tas karena Adnan tidak suka membawa pulang buku-buku tersebut. Membereskan mejanya, dan memasukkan sebuah pena berwarna hitam ke dalam tas yang juga berwarna hitam. Iya, dia hanya membawa satu buah pena.

Dia memegang erat-erat tasnya yang sudah berada dipunggung itu. Adnan sekarang persis anak sekolah dasar berusia 7 tahun yang riang karena dijanjikan orangtuanya pergi ke taman bermain sepulang sekolah.

"Bangun!" Tiba-tiba suara Adnan memecah keheningan kelas ini, Ibu Jalilah yang sedang membereskan mejanya pun dibuat terheran-heran.

"Terimakasih Ibu Guru!" Komando Adnan yang diikuti oleh teman-teman satu kelasnya.

"Terimakasih, Bu!" Mereka sekarang tampak seperti anak sekolah dasar.

Ibu Jalilah yang baru selesai mengajar dikelas bungsu 12 IPS 10 itu hanya geleng-geleng kepala saja. Maklum, kelas itu sudah sangat jarang memberi salam saat akan pulang.

"Riang amat lo, Nan." Komentar Farel saat Bu Jalilah sudah keluar kelas.

"Iya dong!" Jawab Adnan bangga. "Ayo Ken, kita ke kelas IPA 4!" Ajak Adnan dengan menggandeng Ken.

"Gak usah pegang-pegang, najis!" Jawab Ken sewot sambil mendorong bahu Adnan.

Biasanya Adnan akan marah diperlakukan seperti itu, tapi sekarang dia hanya tersenyum saja. Kadar kebahagiaan Adnan sedang tinggi sekarang.

Saat sampai didepan kelas 12 IPA 4, kelas itu baru saja bubar. Adnan mengintip Bintang yang sedang membereskan mejanya dari jendela. Dia melamabai-lambaikan tangannya pada Bintang, seperti Ibu yang senang bahwa anaknya sudah pulang sekolah.

"Kenapa temen lo? Abis obat?" Tanya Jia.

Ken mengangguk. "Obatnya ketinggalan."

"Gak pegel lo senyum terus, Nan?" Kali ini Kayla bertanya.

"Enggak dong! Kenapa? Senyum gue manis ya? Sorry ya, senyum ini cuman buat Bintang seorang."

Bintang yang berdiri disebelah Kayla hanya bisa tertawa dan geleng-geleng kepala saja. Sedangkan Kayla, Ken dan Jia sedang memperagakan orang muntah.

"Ya udah Bintang Cyrenia, ayo pulang!" Ajak Adnan pada Bintang.

Bintang mengangguk, lantas berpamitan pada kedua sahabatnya. "Gue pulang duluan ya, hati-hati kalian dijalan." Ujar Bintang yang dibalas anggukan kedua sahabatnya itu.

"Hoi Adnan, awas aja lo macam-macam sama Bintang!" Teriak Jia.

"Gak bakalan kok, palingan gue bawa ke hotel!" Adnan bercanda.

Bintang yang mendengar itu langsung mendorong bahu Adnan pelan. Benar-benar sudah gila.

Kedua cucu adam dan hawa itu melewati lapangan dengan sorak-sorakan yang ramai dan berisik. Siapalagi kalau bukan dari teman-teman satu geng motor Adnan yang dikomandoi oleh Haikal, Bayu dan Farel.

"Hati-hati dijalan, Nan, semoga selamat sampai tujuan!" Ujar Bayu mendramatisir, seperti melepas kepergian Adnan menuju medan perang.

Bintang hanya tertawa saja mendengar guyonan Bayu. Sedangkan Adnan disebelahnya juga ikut melambai-lambaikan tangan dengan heboh.

Titik Dua dan BintangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang