Selama 18 tahun hidup, Bintang kadang membenci gengsinya yang terlalu tinggi itu. Salah satunya adalah dalam situasi tidak menentu seperti ini. Bintang terlalu gengsi untuk bertanya kenapa Adnan menghindarinya selama dua minggu terakhir. Bintang tau kesepakatan antara Adnan dan Gaydan. Tapi Bintang hanya ingin bertanya, apakah... apakah... Adnan sudah menyerah?.
Gaydan menatap Bintang yang sejak tadi hanya diam, dia menyentuh pelan tangan perempuan itu, "Mikirin apa, Ren?" Padahal Gaydan sudah tau apa yang Bintang pikirkan.
Bintang menatap Gaydan, terdiam lantas menjawab. "Adnan."
Gaydan tersenyum tipis, "Ketebak."
Bintang menghela napas pelan. "Lo ngancam Adnan pakai cara apa, Dan, sampe dia nurut sama kesepakatan kalian? Padahal di aitu keras kepala dan jarang nurut omongan orang lain?" Bintang bertanya to the point pada Gaydan. "Lo bakal ngabisin dia?"
Laki-laki itu menurukan sendok dan garpunya, menatap Bintang lantas menggeleng. "Lo kan tau gue gak suka kekerasan, Ren."
"Terus?"
"Sama kayak lo yang punya gengsi yang tinggi, Adnan juga punya gengsi yang tinggi. Dia cuman gak mau di cap sebagai pengecut dengan melanggar kesepakatan yang dia buat sendiri."
Bintang diam. Gaydan benar. Adnan dan Bintang memiliki rasa gengsi yang tinggi. Dan itu yang membuat semua ini semakin rumit.
"Apa lo bakal marah kalo gue yang duluan ngobrol sama dia?" Bintang kembali bertanya.
Gaydan menghembuskan napas pelan, "Harga diri Adnan yang bakal marah."
Bahu Bintang turun, "Gue bingung harus gimana, Dan."
Gaydan menatap Bintang. Tidak biasanya perempuan itu bingung dengan perasaannya sendiri. Terakhir kali Bintang bingung dengan perasaannya sendiri adalah saat Gaydan harus pindah ke New York tiga tahun lalu. Saat itu Bintang bingung harus senang atau sedih karena Gaydan akan pindah.
Sekarang Bintang kembali bingung dengan perasaannya sendiri. Dan Gaydan langsung tau bahwa perasaan yang Bintang miliki untuk Adnan bukan sekedar perasaan nyaman, tapi lebih dari itu.
Gaydan mencengkram tangannya kuat-kuat. Dia ingin sekali berkata jujur pada Bintang. Gaydan ingin mengungkapkan perasaanya. Gaydan ingin berkata bahwa dia menyukai Bintang selama lebih dari satu dekade mereka berteman. Gaydan ingin mengatakan bahwa dia lebih baik daripada Adnan.
"Ren." Panggil Gaydan.
Bintang yang sedang menatap makanan didepannya langsung menatap Gaydan. "Kenapa?"
"Maafin gue."
Bukannya kata suka yang keluar dari mulut Gaydan melainkan permintaan maaf. Dan hal itu membuat Bintang menaikkan kedua alisnya.
"Buat apa?"
"Karena udah bikin Adnan ngejauhin lo. Karena udah menang waktu tanding sama Adnan kemaren."
"Maafin gue karena udah suka sama lo, Ren." Gaydan hanya mampu berkata seperti itu di dalam hatinya. Dia tidak bisa mengatakannya secara langsung pada Bintang.
Bintang menggeleng. "Bukan salah lo, Dan. Lo gak perlu minta maaf untuk hal-hal kayak gitu. Itu bukan salah lo. Gue kan udah pernah bilang sama lo, gak usah minta maaf buat hal-hal yang bahkan diluar kendali lo."
Gaydan menatap Bintang. Dan perasaannya terhadap perempuan itu semakin dalam. "Lo bener."
Bintang tersenyum. "Gue baik-baik aja. Lo gak usah khawatir."
KAMU SEDANG MEMBACA
Titik Dua dan Bintang
Teen FictionNama laki-laki itu Adnan Gerdapati Maharaja, laki-laki paling tampan dan populer seantero SMA Merpati. Dia juga adalah ketua geng Dionysus, salah satu geng motor yang sudah berdiri sejak lama dan memiliki reputasi mengerikan. Adnan dicap sebagai ana...
