29 : Salah siapa?

41 17 0
                                        

Begitu sebuah pesan singkat dari Kayla terkirim di ponsel Gaydan, laki-laki itu langsung berdiri dari duduknya. Bilang permisi hendak ke toilet pada guru yang mengajar padahal kakinya berbelok menuju bangunan IPA.

Dengan cepat Gaydan berjalan menuju kelas Bintang. Satu buah kalimat dari Kayla yang mengatakan bahwa Bintang sedang menangis dikelas langsung membuat Gaydan bergegas menemui perempuan itu.

Kelas 12 IPA 4 terlihat sepi, hanya ada Kayla, Jia, dan Bintang yang sedang menenggelamkan wajahnya diatas meja.

"Dan." Panggil Kayla saat melihat Gaydan berjalan menuju mereka.

"Kenapa?" Tanya Gaydan pada Jia dan Kayla.

Kedua orang itu menggeleng. Mereka tidak tau. "Tadi waktu dia balik dari kantin, Bintang tiba-tiba nangis dan belum cerita apa-apa ke kita.

Gaydan menatap Bintang. "Gue boleh minta waktu berdua sama Bintang?" Tanya Gaydan.

Jia dan Kayla mengangguk. "Tolong jagain, ya."

Gaydan mengangguk. Dia kemudian duduk di samping Bintang. Gaydan hanya diam. Dia sudah tau pasti Bintang sudah menyadari bahwa ada Gaydan disampingnya.

"Kalo belum mau cerita sekarang gapapa." Ucap Gaydan. Sejak dulu, dia memang tidak pernah memaksa Bintang untuk menceritakan apa saja, karena tanpa diminta pun Bintang akan menceritakan apa saja pada Gaydan.

Bintang menggeleng. Dia masih menyembunyikan wajahnya.

"Yau dah gapapa. Nangis aja dulu. Gue gak pernah ngelarang lo buat nangis." Gaydan berkata lembut.

Mendengar perkataan Gaydan membuat tangis Bintang semakin deras. Dia kemudian mengangkat wajahnya dan menatap Gaydan.

Gaydan hanya diam menatap Bintang didepannya. Tatapannya sangat teduh dan itu membuat Bintang semakin kencang menangis.

"Nangis aja dulu." Ucap Gaydan.

Bintang menggeleng. Dia kemudian mulai menceritakan apa yang baru saja terjadi di kantin, sambil diselingi menangis karena hati Bintang masih sangat sakit.

Selama Bintang bercerita Gaydan hanya diam saja. Dia menyimak setiap kata yang Bintang ucapkan. Juga sesekali mengelus pelan tangan perempuan itu yang sedang menangis. Dari cerita Bintang, Gaydan tau bahwa Bintang sangat kecewa sekarang.

"Gue.... gue gak tau harus gimana, Dan. Gue bahkan gak tau kenapa perasaan gue bisa serumit ini." Bintang kembali menangis.

Gaydan mengelus pelan tangan Bintang. Bintang adalah tipe perempuan yang jarang menangis. Tapi kalau Bintang menangis berarti hal itu sudah terlalu berat untuknya dan Bintang tidak tau lagi bagaimana cara mengekspresikannya.

"Maafin gue."

Bintang menggeleng. "Bukan salah lo, Dan. Gue udah bilang."

Tapi Gaydan merasa bersalah. "Gue pikir ngebuat Adnan menjauh dari lo adalah keputusan yang tepat, Ren." Ucap Gaydan.

Bintang mengangkat wajahnya.

"Gue tau kalo Adnan bukan cowok baik-baik. Dia ketua geng Dionysus dan dia anggota keluarga Maharaja. Gue tau gimana busuknya keluarga Maharaja itu. Dan gue cuman gak mau lo terseret kedalam masalah yang Adnan punya, Ren." Gaydan memberi penjelasan.

Bintang hanya diam, tidak mampu berkata-kata.

"Gue pikir ini adalah keputusan yang tepat. Karena... karena... gue gak mau lo deket-deket sama Adnan." Akhirnya Gaydan berbicara jujur. Namun dia tidak akan berani jujur untuk mengatakan perasaan sukanya pada Bintang.

Titik Dua dan BintangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang