Sudah satu bulan Bintang memasuki dunia dongeng yang Adnan janjikan padanya itu. Sudah satu bulan mereka berpacaran, membuat satu sekolah iri akan kemesraan cucu adam dan haw aitu. Rasanya tidak ada yang bisa memisahkan Adnan dan Bintang.
Sekarang Adnan memiliki panggilan baru untuk perempuan kesayangannya itu. Tidak lagi 'Bin', tapi 'Bi'. Sebuah panggilan kesayangan yang Adnan sematkan pada satu-satunya penghuni hatinya, Bintang Cyrenia.
"Selamat pagi, Bi!" Adnan yang seperti biasa sudah duduk di meja makan rumah Bintang menyapa perempuan itu. Sejak mereka berpacaran, Adnan berjanji akan selalu menemani Bintang sarapan, sama seperti yang pernah Papa lakukan pada Bintang.
"Bi? Panggilan baru?" Bintang yang masih asing dengan panggilan itu bertanya.
Adnan mengangguk senang. "Panggilan sayang buat cewek kesayangan aku."
Pipi Bintang bersemu merah. Dia tersenyum simpul. Dan seperti biasa, Bintang menyiapkan sarapan untuk Adnan dan dirinya. Itu sudah menjadi kebiasaan mereka, dan akan sangat sulit untuk dihilangkan.
"Bi, kalo kita udah nikah nanti, aku gak mau pembantu yang nyiapin sarapan aku."
Bintang menatap Adnan. "Kenapa?"
"Aku maunya kamu. Nanti sesibuk apapun aku, aku mau kita sarapan bareng kayak gini."
Senyum terukir diwajah cantik Bintang tatkala mendengar kalimat janji dari Adnan. Dia tidak tau apakah Adnan akan melaksanakan janji itu. Bintang juga tidak tau apakah semesta akan memperbolehkan Adnan menunaikan janji itu. Yang Bintang tau adalah dirinya senang sekarang.
"Kenapa diem, Bi?" Tanya Adnan.
"Aku seneng dengernya." Bintang kembali tersenyum.
Sambil tersenyum senang Adnan menghabiskan makanan yang sudah Bintang masak. Kalimat yang Adnan ucapkan tadi bukan sekedar kalimat, itu adalah sebuah janji yang akan selalu Adnan tunaikan.
----
"Gimana rasanya?" Tanya Kayla sambil menyikut lengan Bintang yang sedang menghabiskan minuman rasa cokelat disebelahnya.
"Rasa apa?" Bintang bertanya sambil sekilas menoleh pada Kayla.
"Rasanya udah sebulan jadi pacar Adnan Gerdapati yang terkenal playboy dan gak pernah pacaran lebih dari dua minggu."
Bintang terkekeh karena pertanyaan panjang yang Kayla lontarkan. "Rasanya?" Bintang menatap lurus ke arah lapangan, tepat pada Adnan yang sedang bermain basket.
"Seneng, mungkin? Bahagia. Ya campur aduk rasanya." Bintang menjawab.
"Ya iyalah lo seneng, dia pacar pertama lo." Jia yang duduk didepan berkomentar.
Bintang hanya tersenyum saja. "Tapi...." Tatapan Bintang berubah sendu.
"Tapi kenapa?" Jia dan Kayla kompak bertanya.
"Gue takut dia bakal ninggalin gue."
"Kok lo mikir gitu, Bin?" Jia bertanya.
Bintang menaikkan kedua bahunya. "Gak ada manusia yang menetap selamanya sama satu manusia yang lain. Entah dia pergi karena alasan lain, atau dia pergi selamanya."
Jia dan Kayla saling pandang. Mereka tau bahwa jadi Bintang tidak pernah mudah. Dia sudah dua kali ditinggalkan oleh orang yang dia sayang, dan ketakutan untuk ditinggal pastilah terbayang di otak Bintang.
"Dia gak bakal ninggalin lo, Bin, yakin sama gue." Jia berkata mantap.
Bintang hanya mengangguk saja. Pandangannya masih tak lepas dari sosok Adnan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Titik Dua dan Bintang
Fiksi RemajaNama laki-laki itu Adnan Gerdapati Maharaja, laki-laki paling tampan dan populer seantero SMA Merpati. Dia juga adalah ketua geng Dionysus, salah satu geng motor yang sudah berdiri sejak lama dan memiliki reputasi mengerikan. Adnan dicap sebagai ana...
