43 : Eight of April

32 13 0
                                        

Bintang sedang duduk sendirian di bangku panjang taman ini, langsung menghadap ke danau dengan air jernih dan tenang itu. Sudah hampir setengah jam Bintang sendirian disini, berpikir tentang banyak hal, berpikir tentang hidupnya sendiri.

Bintang juga mengenang banyak hal. Mengenang masa-masa dimana Mama dan Papa masih hidup. Masa-masa saat semuanya masih baik-baik saja. Dan yang menjadi favorit Bintang adalah kenangan saat dia pertama kalinya bertemu Adnan, hari itu, saat Adnan kecelakaan motor.

Bintang tersenyum saat mengingat kenangan-kenangan yang melibatkan Adnan itu. Semuanya menyenangkan, tapi entah kenapa hati Bintang terasa sakit saat mengingatnya. Padahal itu adalah kenangan yang menyenangkan. Sepertinya semesta memang terlalu suka bercanda dengan takdir manusia.

Pandangan Bintang sekarang tertuju pada kumpulan bunga gerbera yang ditanam tidak jauh dari tempatnya duduk. Bintang tersenyum tipis. Bunga gerbera, lambang cinta yang abadi, lambang cinta yang sudah lama terjalin. Pantas saja Mama selalu suka bunga itu.

"Bi, maaf aku telat datengnya." Dengan terburu-buru Adnan duduk disebelah perempuan itu.

Bintang menoleh pada Adnan lantas tersenyum tipis dan menggeleng. Dia menatap laki-laki yang sedang tersenyum kepadanya itu.

"Kenapa gak bilang mau kesini? Aku kan bisa nganterin kamu."

Bintang menggeleng pelan. "Aku lagi pengen sendiri aja ketemu Mama sama Papa."

Adnan mengangguk. Dia menatap Bintang. Saat dalam keadaan seperti ini Adnan sadar diri untuk tidak banyak bicara dan hanya mengamati perempuan itu. Mungkin pikiran Bintang sedang penuh dengan banyak hal, nanti dia juga akan bicara sendiri. Iya, Adnan sudah mengenal Bintang sedalam itu.

"Nan, kalo Jakarta diibaratkan sebagai manusia, dia pasti adalah orang paling berisik, paling suka ketawa kalo di tempat rame." Bintang membuka mulutnya dan membuat Adnan menoleh pada perempuan itu yang masih menatap kedepan.

"Tapi kalo lagi sendirian, di tempat sepi, waktu gak ada orang yang ngeliat, air matanya suka tiba-tiba jatuh sendiri." Lanjut Bintang.

Jujur saja, Adnan tidak mengerti kenapa Bintang mengatakan hal ini. "Kenapa kamu bilang gitu, Bi?"

Bintang tersenyum tipis, "Karena Jakarta, kota yang katanya tempat impian semua orang ini, ternyata cuman kota dengan banyak tipuan." Bintang menoleh pada Adnan. "Jakarta gak pernah jujur sama perasaannya sendiri, Nan."

Pandangan mereka berdua terkunci. "Apa itu artinya kamu gak bahagia di Jakarta, Bi?"

Bintang tersenyum tipis, dia tidak mengangguk juga tidak menggeleng. "Jakarta menuntut aku buat kehilangan banyak hal."

Adnan menatap perempuan itu. Dia paham betul apa maksud Bintang, dan apa hal-hal yang sudah hilang dari hidup Bintang.

"Terus kalo kamu gak suka di Jakarta kamu sukanya dimana, Bi? Bandung?" Adnan kembali bertanya.

Pandangan Bintang kembali tertuju kedepan. "Bandung." Perempuan itu menggeleng. "Bandung itu terlalu egois, Nan."

"Egois?"

Bintang mengangguk. "Dia egois. Tembok yang Bandung bangun untuk melindungi dirinya sendiri itu terlalu tinggi. Jadi alih-alih melindungi, Bandung malah menyakiti dirinya sendiri, Nan. Terlalu egois, terlalu sombong."

"Dia gak mau merasa tersakiti jadi dia menolak semua perasaan orang lain, dia bahkan menolak perasaannya sendiri." Bintang sekarang menghadap Adnan. "Bandung yang terlalu sombong karena merasa setelah membangun tembok setinggi itu gak akan ada yang bisa menyakiti dia, tapi nyatanya Bandung malah menyakiti dirinya sendiri."

Titik Dua dan BintangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang