39 : Hal-Hal Kecil

32 15 0
                                        

Satu bulan terlewati lagi seperti biasa, tak ada yang berubah. Adnan semakin menyayangi Bintang dan begitu pula sebaliknya. Dimana ada Adnan disitu ada Bintang, dan dimana ada Bintang di situ ada Adnan. Pemandangan yang sudah menjadi hal lumrah di antara anak SMA Merpati.

Mungkin yang berubah sekarang adalah, Bintang yang giat belajar karena ujian akhir kelas 12 sudah didepan mata. Juga ujian untuk masuk ke perguruan tinggi juga sudah ada didepan mata, jadi sekarang Bintang juga kedua temannya mulai mengurangi jam bermain mereka.

Sedangkan Adnan dan teman-temannya masih sama, masih sering tawuran, balap liar, dan bermain-main. Bintang tidak keberatan dengan itu, baginya Adnan memang perlu bersenang-senang meski dengan cara yang kadang Bintang tidak suka.

Seperti siang ini, saat istirahat kedua, SMA Merpati dihebohkan dengan Adnan yang mendadak bertengkar dengan adik kelas.

"Bin, Adnan berantem lagi di belakang aula!" Kayla yang baru kembali dari kantin berteriak sambil berlari masuk ke kelas.

Bintang yang semula sedang mengerjakan latihan soal dibukunya langsung menatap Kayla, "Sama siapa lagi?" Tanya Bintang biasa saja, seolah mendengar pacarnya bertengkar adalah hal biasa.

"Gak panik lo?" Tanya Kayla.

"Bintang mana pernah panik denger Adnan berantem, dia panik kalau denger Adnan bolos kelas." Jawab Jia.

Bintang tertawa, berdiri dari duduknya dan berjalan menuju belakang aula bersama Kayla, Jia, dan murid-murid lain yang penasaran dengan apa yang sedang terjadi.

"Masih aja berantem padahal ujian tinggal depan mata." Jia mengomel, dia sudah bisa menebak bahwa sahabatnya, Ken, juga ikut serta dalam pertengkaran hari ini.

Belakang aula ternyata lebih ramai daripada yang Bintang duga. Orang-orang yang membentuk lingkaran itu sedang mengelilingi dua orang laki-laki yang sedang jual beli tinju. Bintang menghela napas sambil melihat Adnan yang tanpa ampun menghajar laki-laki yang dari badge-nya sepertinya anak kelas 10.

"Berantem yang keberapa bulan ini?" Tanya Bintang pada Gaydan yang berdiri disebelahnya.

Gaydan membenarkan kacamatanya sambil menatap Bintang. "Keempat. Rekor baru."

"Karena apa?"

"Ga tau." Jawab Gaydan sambil menaikkan kedua bahunya.

Bintang menatap kelima teman Adnan yang lain, dan mereka berlima kompak menjawab tidak tau.

"Kita beneran ga tau, Bin, tiba-tiba aja dia berantem kayak orang kesetanan." Jawab Bayu.

Bintang hanya mengangguk saja. Dia masih menyaksikan Adnan yang sekarang sedang meninju wajah adik kelas itu.

"Sekali lagi gue denger lo ngejelekin Dionysus dan Bintang, abis lo ditangan gue!" Ancam Adnan pada adik kelas itu sambil mencengkram kerah bajunya.

"E...nggak... enggak bang. Gue janji gak bakal ngelakuin itu lagi." Adik kelas yang wajahnya sudah babak belur itu berkata dengan terbata-bata.

"Ya udah pergi sana, sebelum gue berubah pikiran!" Perintah Adnan yang langsung diikuti adik kelas itu.

Bintang hanya tersenyum tipis, dia melangkah maju menuju Adnan yang masih ada di tengah-tengah lingkaran itu.

"Udah puas berantemnya?" Tanya Bintang dengan wajah datar.

Adnan mengangguk sambil tersenyum lebar. "Udah. Maaf, ya."

Sekali lagi, Bintang hanya menghela napas pelan. Menjadi pacar seorang ketua Dionysus yang suka bertengkar dan suka mendapat masalah bukanlah hal yang mudah. Kadang Bintang ingin melarang hobi Adnan yang satu ini, tapi dia kembali ingat bahwa semua orang punya cara masing-masing untuk mengungkapkan rasa marahnya.

Titik Dua dan BintangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang