Debur ombak, matahari yang sudah sempurna tenggelam, dan para burung yang sedang berterbangan membuat pemandangan petang ini terlihat sangat indah. Tapi meski ada pemandangan seindah itu didepan mata Adnan, sejak tadi laki-laki itu hanya memandangi perempuan disebelahnya, Bintang.
"Lo mau pacaran gak, Bin?"
Pertanyaan dari Adnan mampu membuat Bintang yang sejak tadi menatap debur ombak jadi menoleh ke arahnya. Kening Bintang berkerut, "Pacaran? Sama lo?"
Adnan mengangguk lantas dengan cepat mengoreksi jawabannya, "Eh enggak sama gue aja sih, sama semua orang. Misalnya sama Jay."
Bintang terkekeh, "Emang lo rela gue pacaran sama Jay."
Adnan dengan cepat menggeleng.
Hal itu membuat Bintang tertawa lebar.
"Jadi lo emang gak mau pacaran" Adnan mengoreksi pertanyaannya.
Bintang tersenyum simpul, lantas berpikir sejenak. "Kayaknya enggak dulu deh."
"Kenapa?"
"Ya karena gue belum siap."
"Belum siap jatuh cinta atau belum siap disakitin?"
"Dua-duanya."
Adnan menatap Bintang, "Kenapa?"
Bintang merubah posisi duduknya dan sekarang benar-benar menghadap ke arah Adnan. "Mungkin karena gue belum bisa bener-bener jatuh cinta sama diri gue sendiri."
"Hubungannya apa?" Adnan yang sudah mengubah posisi duduknya jadi benar-benar menghadap Bintang bertanya.
"Kalo gue belum bisa cinta sama diri gue sendiri gimana gue bisa jatuh cinta sama orang lain. Gue aja belum bisa nerima apa adanya diri gue sendiri, terus gimana orang lain mau bisa?"
Adnan tertawa, Bintang dengan segala pikiran logisnya, dan syukurlah Adnan mulai terbiasa dengan itu. "Pasti bakalan ada dong, Bin, orang yang mau nerima lo apa adanya."
Bintang mengangguk. "Iya, mungkin emang ada. But in the end of the day all you have it's your own self, right?"
Adnan sekali lagi mengangguk. "Tapi lo juga butuh orang lain, Bintang."
"Gue emang butuh. Tapi bergantung dan berharap sama orang lain...."
"Sama aja kayak lo nyender di batang kayu yang udah tua dan mau roboh." Adnan memotong.
Kali ini Bintang yang terkekeh. "Lo masih inget."
Tentu saja Adnan masih ingat kalimat Bintang satu bulan lalu itu.
"Gini Nan, gue tau sekarang lo gak paham."
Adnan mengangguk, Bintang sudah tau dia tidak mudah memahami perkataan perempuan itu.
"Misalnya lo nyakitin gue. Ya lo emang penyebab rasa sakit di hati gue, tapi tanggung jawab untuk bikin hati gue gak sakit lagi itu ya ada di gue. Sama kayak perasaan bahagia, mungkin lo emang bikin gue bahagia. Tapi gue sendiri yang bertanggung jawab untuk terus merasakan kebahagiaan atau enggak."
"Bin, bahasa lo." Adnan mengingatkan Bintang bahwa lagi-lagi kata-kata yang perempuan itu gunakan terlalu tinggi dan membuatnya jadi tidak paham.
Bintang menghela napas perlahan. "Misalnya, anggap aja hati gue itu kaca kesayangan yang ada dirumah gue."
"Oke terus."
KAMU SEDANG MEMBACA
Titik Dua dan Bintang
Teen FictionNama laki-laki itu Adnan Gerdapati Maharaja, laki-laki paling tampan dan populer seantero SMA Merpati. Dia juga adalah ketua geng Dionysus, salah satu geng motor yang sudah berdiri sejak lama dan memiliki reputasi mengerikan. Adnan dicap sebagai ana...
