20 : Bunda dan Mama

37 19 0
                                        

Andela Cyrenia, saudari kembar dari Diandra Cyrenia, walaupun mereka bukan kembar identik. Sudah lama Bintang tidak mendengar kabar dari Bundanya itu. Karena sejak kematian Mama 12 tahun lalu, Andela memilih untuk menetap di Jepang dan tidak pernah pulang ke Indonesia. Kepergian Diandra juga adalah hal yang berat bagi Andela.

"Tadi yang sama kamu siapa, Bin?"

Setelah dari pemakaman, kedua orang itu langsung pulang. Untuk beberapa hari kedepan, Bunda yang akan menemani Bintang. Bintang juga berkata pada Adnan untuk tidak perlu khawatir karena ada Bunda yang menjaganya.

"Temen, Bun."

Keadaan Bintang sudah jauh lebih baik daripada kemarin malam dan pagi tadi. Mungkin karena kehadiran Bunda Andela, jadi dia merasa lebih baik sekarang.

Bunda menatap Bintang dengan penuh curiga. "Temen apa demen?"

Bintang tertawa kecil. Walaupun Bunda dan Mama adalah kembar, tapi mereka benar-benar tidak mirip. Mungkin cuma sedikit mirip di bagian wajah saja. Selebihnya mereka berbeda. Sifat, cara berpikir, cara bertindak, hobi, bahkan hal-hal yang membuat mereka senang.

Jika Mama lebih pendiam dan lebih suka menghabiskan waktu sendirian. Berbeda dengan Bunda yang sejak kecil selalu suka berteman dengan siapa saja. Jika Mama mengandalkan perasaan maka Bunda lebih mengandalkan logika. Sebenarnya, Bintang lebih mirip Bunda daripada Mamanya.

"Tapi Bunda serius, Bin." Bunda menarik kursi didepan Bintang. "Dia keliatan sayang banget sama kamu."

Bintang kembali tertawa kecil. "Dia cuman temen, Bunda. Gak lebih."

"Tapi bisa aja lebih, kan."

"Udah ah, Bintang gak mau bahas itu."

Kali ini Bunda yang tertawa kecil. Mereka berdua pun kembali melanjutkan makan malam diselingi dengan beberapa obrolan kecil.

"Bunda udah nikah?"

Pertanyaan dari Bintang barusan membuat Bunda terbatuk kecil, perempuan berusia penghujung tiga puluhan itu menggeleng.

"Kenapa?"

"Ya kenapa harus nikah?"

"Bunda...."

Bunda terkekeh pelan, "Bintang, bagi Bunda menikah itu bukan hanya soal udah ketemu jodoh atau belum. Jauh dari itu. Menikah itu soal kesiapan juga soal tanggung jawab."

"Bunda beda sama Mama kamu. Diandra udah siap secara finansial dan mental, dia juga udah bisa bertanggung jawab sama dirinya sendiri. Makanya dia menikah sama Papa kamu."

"Kalau Bunda?"

"Kalau Bunda, belum siap. Iya, mungkin Bunda siap secara finansial tapi secara mental dan tanggung jawab Bunda belum siap."

Bintang hanya diam, berusaha mencerna perkataan Bunda.

"Nanti deh kamu bakal paham."

Setelah makan malam, mereka berdua duduk di halaman belakang rumah yang tidak terlalu luas itu. Menikmati bintang-bintang di langit.

"Langitnya bagus ya, Bun"

Bunda mengangguk. "Itu berarti semesta senang karena Papa kamu udah pulang."

Air mata Bintang kembali jatuh. Ini tidak mudah bagi Bintang. Sangat tidak mudah. Dia sudah yatim piatu sekarang.

"Gimana Bintang bakal hidup setelah ini, Bun? Bintang gak punya siapa-siapa lagi sekarang." Isak perempuan itu.

Titik Dua dan BintangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang