Lagi-lagi maafkan saya atas keterlambatan update. Ternyata dunia perkuliahan lebih sibuk dari yang saya bayangkan. Tapi terimakasih untuk yang terus membaca cerita ini.
Selamat membaca
----
Pertandingan basket yang sudah dinantikan semua orang itu berakhir dengan mengejutkan. Seorang Adnan Gerdapati akhirnya menemukan lawan seimbang dalam basket. Selama ini lawan-lawan yang pernah bertanding dengan Adnan tidak selevel dengan laki-laki itu. Tapi murid baru bernama Gaydan Neindra itu berada di level yang sama dengan Adnan, atau malah jauh diatas Adnan.
Pada saat awal pertandingan, Adnan memimpin skor. Tapi semakin ketengah, tenaga laki-laki itu mulai habis. Dan Gaydan yang lebih banyak mengambil alih bola. Membuat separuh lebih penonton yang didominasi oleh anak Dionysus menjadi kesal sendiri.
Bintang yang duduk di salah satu bangku penonton bersama Jia dan Kayla hanya bisa menghela napas saja. Bukannya dia meremehkan kemampuan Adnan, dia hanya tidak bisa melihat kekalahan Adnan dan membuat laki-laki itu malu.
Dengan emosi Adnan yang meledak-ledak jauh sebelum pertandingan dimulai, Gaydan yang bersikap tenang dan selalu memikirkan strategi matang bisa dengan mudah mengalahkan Adnan.
Pertandingan itu berakhir dengan senyum merekah lebar di wajah Gaydan sedangkan wajah menggelembung kesal di wajah Adnan.
Gaydan menghampiri Adnan, sambil masih tersenyum dia menjabat tangan Adnan. "Sesuai kesepakatan kita."
Rahang Adnan mengeras. Dia benar-benar kesal sekarang. Rasanya darah mendidih di kepalanya. Dia melirik Bintang yang berdiri dan juga menatapnya. Kemudian langsung pergi dari lapangan.
Sedangkan Gaydan langsung menghampiri Bintang yang turun dari tribun. "Gue menang, Ren."
Bintang hanya tersenyum tipis. "Gue boleh tau apa kesepakatan lo sama Adnan? Lo bilang kalo lo menang lo bakal ngasih tau."
Gaydan mengangguk, "Yang kalah harus jauhin lo."
Seperti ada petir yang menyambar di kepala Bintang, dia terdiam. "Hah?" Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Bintang.
"Iya Adnan harus jauhin lo, Bin. Kalo dia emang gentleman, dia harus jauhin lo."
"Ta...tapi, Dan...."
"Nice game, dude!" Aksara dan Biru sudah menghampiri Gaydan dan bersalaman dengan laki-laki itu.
"Thanks." Jawab Gaydan. "Lo Aksara Gibrani Haryanto kan? Mantan pacar Neya?"
Aksara tertawa lantas mengangguk. Mereka kemudian bercakap-cakap tentang pertandingan tadi.
"Ketua kalian itu terlalu mudah tersulut emosi. Permainan dia bagus, tapi terlalu tergesa-gesa." Jawab Gaydan.
Aksara dan Biru membenarkan hal itu. Tadi Adnan tidak dalam performa terbaiknya. Bisa saja jika dia menampilkan yang terbaik, dia memiliki kesempatan untuk menang.
Setelah bercakap-cakap tentang beberapa hal lagi, Aksara dan Biru pamit pergi hendak menemui teman-teman mereka yang lain.
"Sampai ketemu lagi. Sampain juga salam gue buat Adnan, bilang sama dia jangan sampe ngelanggar kesepakatan."
Akasara tersenyum lantas mengangguk dan berlalu pergi.
Sejak tadi Bintang hanya diam saja. Berusaha mencerna semua kejadian yang terjadi empat jam terakhir ini. Otak Bintang serasa mau meledak.
"Kita pulang sekarang?" Tanya Gaydan.
Bintang berusaha tersenyum sambil mengangguk.
Sedangkan Adnan sekarang sedang mencengkram tangannya kuat-kuat. Menahan amarah yang sudah memuncak. "AH!" Adnan melemparkan botol air mineral itu sembarangan, membuat Haikal, Bayu, Ken dan Farel terdiam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Titik Dua dan Bintang
Novela JuvenilNama laki-laki itu Adnan Gerdapati Maharaja, laki-laki paling tampan dan populer seantero SMA Merpati. Dia juga adalah ketua geng Dionysus, salah satu geng motor yang sudah berdiri sejak lama dan memiliki reputasi mengerikan. Adnan dicap sebagai ana...
