17 : Fairytale

46 18 0
                                        

"Bentar tunggu disini!" Bintang baru saja turun dari motor Adnan dan meminta laki-laki itu untuk menunggu sedangkan dirinya berlari masuk keluar rumah. Adnan yang menatap itu hanya bisa mengernyit saja.

Tidak sampai dua menit, Bintang sudah kembali dengan membawa sebuah paper bag berwarna hitam yang berisi kotak didalamnya.

"Buat lo." Bintang memberikan paper bag itu pada Adnan.

"Bin, gak usah repot-repot." Adnan menolak paper bag itu. Dia sudah tau bahwa itu adalah hadiah ulang tahun dari Bintang, tapi jalan seharian bersama Bintang saja bagi Adnan lebih dari hadiah.

"Gue belum pernah ngasih apa-apa ke lo, Nan." Bintang menatap Adnan.

"Kasih cinta aja deh, Bin, udah cukup."

Bintang terkekeh. "Pokoknya lo terima ya."

Paper bag itu akhirnya berpindah tangan pada Adnan. Lantas laki-laki itu tersenyum dan ingin membuka hadiah apa yang Bintang berikan.

"Eh, bukanya nanti aja, dirumah." Cegah Bintang.

Adnan memicingkan matanya. "Kenapa?"

"Gapapa." Bintang menggeleng. "Gih sana pulang, nanti kesorean."

Adnan tersenyum lantas mengacak rambut Bintang dan setelah itu baru melajukan motornya untuk pulang.

Seperti biasa, rumah yang terlalu besar untuk ditinggali Adnan seorang diri itu sepi. Tapi ada yang berbeda, mobil mewah milik Papanya sekarang sedang terparkir di garasi. Tumben sekali Papanya pulang dan menetap di rumah. Bisa dihitung dengan jari kapan Adnan dan Papanya bertemu.

"Baru pulang kamu." Suara berat itu menyapa.

Papanya sedang duduk di ruang tv, masih mengenakan jas.

Adnan berhenti melangkah dan menatap ayah kandungnya itu, "Harusnya saya yang nanya gitu sama Papa."

Tuan Alfian itu menoleh pada putra semata wayangnya.

"Tumben Papa baru pulang."

"Kamu tau Papa sibuk, Nan."

Adnan tersenyum miring lantas mengangguk. "Sangat sibuk sampai waktu untuk bertemu saya saja bisa dihitung pakai jari."

"Adnan Gerdapati"

Rahang Adnan mengeras, tangannya terkepal, "Kenapa? Kenapa Papa marah? Emang bener kan apa yang saya bilang?!"

Walaupun pertemuan mereka bisa dihitung pakai jari, tiap kali bertemu pasti dua orang itu akan bertengkar tentang masalah sepele.

"Sejak kepergian Mama tiga tahun lalu, Papa kayak gak punya rumah!"

"Saya bekerja untuk kamu, Adnan!" Suara Tuan Alfian mulai meninggi.

"Segitu gak ada waktunya buat saya?!" Suara Adnan juga tak kalah tinggi. "Saya gak pernah minta macam-macam sama Papa, saya cuman minta waktu Papa!"

"Saya cuman minta sedikit waktu dari Tuan Alfian Maharaja yang terhormat."

Tuan Alfian hanya menghela napas saja. Dia tidak pernah bisa berdebat dengan Adnan. Keras kepala anaknya itu memang menurun darinya.

"Weekend nanti kita bakal ada acara keluarga, luangin waktu kamu."

Adnan yang sudah hendak menaiki tangga jadi berhenti. "Saya sibuk."

Titik Dua dan BintangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang