42 : Matahari Terbenam

36 14 1
                                        

Pertengkaran sore itu cukup berakibat fatal bagi hubungan Bintang dan Adnan. Adnan mendadak tidak ingin bicara pada Bintang, dia mengabaikan semua pesan yang dikirim oleh perempuan itu. Juga pertanyaan dari teman-temannya tentang kenapa Adnan selalu uring-uringan dua hari terakhir.

"Kenapa lagi lo sama Bintang?" Tanya Biru yang duduk di samping Adnan. Mereka sekarang sedang ada dirumah Adnan, menghibur laki-laki itu, atau lebih tepat menganggunya.

Adnan menggeleng. Malas menjawab. Matanya sejak tadi sibuk menatap ponselnya yang sekarang menampilkan wajah Bintang yang sedang tersenyum lebar ke arah kamera. Iya, Adnan sebenarnya memang tidak marah pada Bintang. Dia hanya marah pada dirinya sendiri.

"Karena apa lagi kalian berantem kali ini?" Biru masih tetap bertanya.

Namun Adnan masih diam, dia tetap menggeleng.

"Udahlah, Nan, apapun masalah lo sama Bintang lo gak semestinya diemin dia kayak gini." Aksara yang baru kembali dari dapur angkat bicara.

"Gue setuju sama Aksa!" Ujar Bayu dengan mulut penuh karena camilan.

"Lagian Bintang buat salah apa sih?" Sambil mengambil remote tv, Farel bertanya.

Adnan diam. Tidak banyak bicara. Dia hanya menggeleng.

"Ah jangan nonton ini lah, Rel!" Protes Haikal karena Farel memindahkan saluran televisi.

"Ye terserah gue lah, remotenya ada sama gue!"

Sejak tadi tatapan Gaydan tertuju pada Adnan. Dia tau apa masalah Adnan dan Bintang, tapi Gaydan hanya diam saja. Tidak mau ikut campur karena itu bukan masalahnya, meski rasanya Gaydan ingin sekali ikut campur.

"Bintang mau kuliah di Jogja." Ujar Adnan setelah lama terdiam.

Ruangan yang tadinya berisik itu langsung menjadi hening seketika, semua mata kini tertuju pada Adnan yang sejak tadi masih menunduk.

Sekarang Farel, Aksara, Bayu, Haikal, dan Ken tau masalah apa yang sedang mereka hadapi. Sebuah kesalah pahaman.

"Terus, lo gimana?" Setelah lama semua orang diam, Ken yang akhirnya bertanya.

Adnan menaikkan kedua bahunya. Diantara ketujuh teman-temannya yang lain cuman dia yang tidak lulus ujian kemarin. Bahkan Bayu yang lebih bodoh darinya pun lulus. Sebenarnya itu cukup membebani Adnan, karena itu berarti dia harus ke London, mengikuti kemauan Tuan Alfian.

Dan yang lebih membebani Adnan adalah fakta bahwa dia akan berpisah dengan Bintang.

"Lo ke London?" Tanya Gaydan.

Dengan tegas Adnan menggeleng. "Gak! Gue gak mau ninggalin Bintang disini." Adnan menatap satu persatu teman-temannya. "Kalo perlu gue kuliah di Jogja."

Semua orang diam. Mereka tau seberapa tidak inginnya Adnan meninggalkan Bintang sendirian.

Dan di tengah-tengah keheningan itu, bel pintu rumah Adnan berbunyi. Kedelapan orang yang berada di ruang tengah itu langsung menoleh pada pintu besar yang ada didepan.

"Siapa?" Tanya Haikal.

Adnan menaikkan kedua bahunya. Tidak tau. Tidak ada yang berjanji akan berkunjung. Atau jangan-jangan itu adalah tamu Papanya? Ah, Adnan malas.

"Lah lo gak bukain pintu, Nan?" Bayu mendorong kaki Adnan.

"Males ah. Paling tamunya bokap." Jawab Adnan. "Lo aja yang buka pintu."

"Sinting! Yang punya rumah kan lo!" Bayu menggeleng.

"Sini lah gue aja!" Aksara bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu depan.

Titik Dua dan BintangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang