8 April, satu tahun setelah dongeng Adnan dan Bintang berakhir.
Waktu berlalu dengan cepat, hari berpilin menjadi minggu, minggu menjadi bulan, dan bulan menjadi tahun. Tepat sudah satu tahun sejak Bintang memutus hubungan dengan Adnan. Sejak dongeng indah itu harus Bintang akhiri. Semuanya sudah menjadi masa lalu, tapi bagi Bintang itu kenangan yang tak akan terlupakan.
Liburan akhir semester kali ini, Bintang memilih untuk kembali ke Jakarta. Sudah satu tahun pula dia tidak kembali ke kota yang tak pernah mati ini. Sebuah kota dimana dongeng yang tak terlupakan itu dimulai.
Pukul sembilan pagi, Bintang sudah berdandan rapi. Dia sedang merapikan rambut warna cokelatnya yang semula memanjang namun dia potong kembali menjadi sebahu, sama seperti saat dia SMA satu tahun lalu.
Lagu berjudul 'keep you safe' itu sejak tadi terus terdengar dari ponsel Bintang. Dia memperhatikan lagi penampilannya dicermin, wajahnya terlalu pucat, Bintang kemudian menambahkan perona bibir dan pipi agar wajahnya terlihat lebih segar.
Setelah itu, dia melangkah keluar dari kamarnya. Menatap meja makan yang sekarang kosong itu dengan tatapan kosong. Tidak ada Mama, Papa, Bunda, atau bahkan Adnan. Satu tahun ini Bintang benar-benar sendirian.
Ah, apa kabar laki-laki itu? Sudah satu tahun Bintang tidak bertemu dengannya. Sudah satu tahun Adnan pergi dari Jakarta. Sudah satu tahun mereka kembali menjadi orang asing. Dan Bintang tidak pernah mendengar kabar apapun dari Adnan. Bintang hanya tau kabar laki-laki itu dari ketujuh teman-temannya yang dengan senang hati memberitahu Bintang tanpa perlu Bintang tanya.
Terakhir kali Bintang mendengar kabar Adnan adalah satu bulan lalu, Haikal yang memberitahu. Haikal berkata bahwa Adnan baik-baik saja, dia bahkan menjadi salah satu mahasiswa dengan nilai tertinggi. Ah, Bintang selalu tau bahwa laki-laki itu akan membanggakan banyak orang, termasuk dirinya sendiri.
Tapi, apakah Adnan juga mendapatkan kabar tentang dirinya dari teman-temannya? Tidak. Apakah Adnan masih peduli pada Bintang?
Hari ini, Bintang berniat mengunjungi beberapa tempat, sebelum besok dia harus pulang kembali ke Jogja, karena semester baru akan segera di mulai. Dan tempat pertama yang akan Bintang kunjungi adalah SMA Merpati. Saksi bisu betapa membahagiakannya dongeng yang Adnan bangun untuk Bintang itu.
Saat ini Bintang sedang duduk di salah satu bangku yang ada di kantin. Tidak banyak yang berubah dari kantin ini. Mungkin warna catnya saja yang baru. Dan beberapa bangku juga meja kelihatan seperti baru. Dan lagi-lagi semua kenangan tentang Adnan itu kembali terputar di ingatan Bintang.
Pandangan Bintang beralih pada meja pojok kantin, tempat biasa Adnan dan keempat teman-temannya menghabiskan jam istirahat, biasanya Bintang juga ada disitu, menemani Adnan mengerjakan pr, atau hanya sekedar duduk sambil mengobrol bersama laki-laki itu dan teman-temannya.
Bintang menghela napas pelan. Semuanya masih terasa menyakitkan karena dia masih sangat menyayangi Adnan. Hanya saja ada beberapa hal yang memang harus dia relakan karena memang tidak mampu dia genggam, dan Adnan adalah salah satunya.
"Kak Bintang?" Sebuah suara memanggil perempuan itu dan membuatnya menoleh.
Alfi, adik kelas Bintang dan Adnan, anggota Dionysus dulu.
"Eh Alfi, apa kabar?" Bintang tersenyum bertanya.
"Baik, Kak, kakak apa kabar?" Tanyanya.
Bintang mengangguk.
Mereka berdua kemudian berbincang banyak hal. Dari perbincangan ini pula, Bintang tau bahwa sekarang Alfi adalah ketua Dionysus, menggantikan Adnan satu tahun lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Titik Dua dan Bintang
Novela JuvenilNama laki-laki itu Adnan Gerdapati Maharaja, laki-laki paling tampan dan populer seantero SMA Merpati. Dia juga adalah ketua geng Dionysus, salah satu geng motor yang sudah berdiri sejak lama dan memiliki reputasi mengerikan. Adnan dicap sebagai ana...
