Setelah terlelap dalam tidur yang cukup panjang, Bintang akhirnya bangun. Matanya pelan-pelan terbuka, masih menyesuaikan dengan cahaya terang yang ada dalam ruangan ini. Ruangan? Benar, Bintang sekarang berada di sebuah ruangan serba putih.
Dimana Bintang sekarang? Surga? Ah, tidak ternyata ini adalah rumah sakit.
Bintang menatap sekelilingnya. Ruangan ini cukup luas. Dengan jendela besar yang ada di sisi kanan Bintang, dan seorang laki-laki yang tertidur di sofa itu, juga laki-laki lain yang tertidur di sambil duduk disebelahnya.
Laki-laki yang tidur di sofa tersebut pastilah Gaydan, sedangkan yang disebelah Bintang sekarang sudah pasti Adnan.
Ah, kepala Bintang masih terasa sangat sakit. Rasanya seperti ada beban puluhan kilo yang di taruh di atas kepalanya. Apalagi saat Bintang tidak sengaja mengingat kejadian semalam. Benar-benar mengerikan. Dan untuk sekali lagi, dia berhasil melewati salah satu kejadian mengerikan dalam hidupnya.
"Bin." Suara Adnan tercekat saat Bintang menoleh ke arahnya.
Bintang tersenyum tipis. Adnan langsung menggenggam tangan perempuan itu. "Masih sakit?" Tanyanya lembut sekali.
Bintang menggeleng perlahan. Ternyata dibelakangnya Gaydan juga sudah bangun. Laki-laki itu terdiam sambil berjalan mendekat ke arah Bintang.
"Lo gapapa, Ren? Masih ada yang sakit? Perut lo gapapa?" Gaydan bertanya bertubi-tubi.
Bintang sekali lagi tersenyum tipis. Dia hanya mengangguk saja. Bahkan dia masih belum bisa membuka suara karena kepalanya yang terasa sangat sakit.
"Bentar, gue panggilin suster dulu!" Gaydan sudah berlari keluar.
Sedangkan Adnan sejak tadi hanya memegang tangan Bintang sambil meantap perempuan itu. Dia benar-benar bersyukur saat melihat Bintang membuka matanya.
"Lo masih inget sama gue, kan?" Tanya Adnan.
Kali ini senyum Bintang lebih lebar, dia kemudian mengangguk.
Suster yang dipanggil Gaydan pun datang. Setelah memeriksa, suster itu mengatakan bahwa Bintang baik-baik saja. "Pasien baik-baik saja. Tapi dia butuh istirahat di sini selama 2-3 hari."
Adnan dan Gaydan mengangguk.
"Jangan suruh pasien untuk banyak gerak, apalagi gerakan yang menggunakan perut."
Adnan dan Gaydan sekali lagi mengangguk. Setelah itu suster itu pamit undur diri.
"Kalian gak sekolah?" Itu adalah kalimat pertama yang Bintang ucapkan pagi ini.
"Gue mau jagain lo." Jawab Adnan.
"Gue juga mau jagain lo, Ren." Gaydan menjawab.
"Kan disini banyak suster yang jaga. Lagian gue udah gapapa kok, kalian bisa pergi sekarang." Bintang menyuruh kedua laki-laki itu untuk segera pergi.
"Tapi lo gapapa sendirian disini?" Adnan bertanya.
Bintang mengangguk saja.
Tapi Adnan masih tidak yakin untuk meninggalkan Bintang sendirian. Dia memiliki rencana sendiri. "Ya udah kita pergi dulu, kalo ada apa-apa langsung telfon gue atau Gaydan." Ujar Adnan kemudian menarik tangan Adnan untuk pergi.
Bintang tersenyum tipis saat melihat kedua laki-laki itu keluar dari ruangan ini. Ternyata mereka bisa akur juga.
----
KAMU SEDANG MEMBACA
Titik Dua dan Bintang
Teen FictionNama laki-laki itu Adnan Gerdapati Maharaja, laki-laki paling tampan dan populer seantero SMA Merpati. Dia juga adalah ketua geng Dionysus, salah satu geng motor yang sudah berdiri sejak lama dan memiliki reputasi mengerikan. Adnan dicap sebagai ana...
