40 : Setelah Ini Kemana?

38 13 0
                                        

Menjadi anak kelas tiga SMA yang sebentar lagi akan lulus sebenarnya tidak cuman dipusingkan dengan berbagai macam ujian, namun juga pertanyaan dari semua orang tentang, selanjutnya mau kemana, selanjutnya bagaimana, dan selanjutnya mau jadi apa? Pertanyaan sederhana yang padahal jawabannya tidak pernah sesederhana itu.

Pertanyaan itu ternyata juga sampai ke markas besar Dionysus. Dikepala delapan anggota inti geng Dionysus ternyata juga berputar pertanyaan-pertanyaan itu.

"Ngapain lo, Sar?" Tanya Adnan sambil duduk disebelah Farel yang sedang asyik bermain game online bersama Bayu dan Haikal.

"Lo gak liat? Gue lagi nyelesain ni soal-soal." Ucap Aksara dengan kening berkerut. "Dan, ini tadi gimana?" Dia kembali menatap Gaydan yang sibuk membaca buku.

"Tumbenan amat." Komentar Adnan.

"Disuruh Neya, katanya biar bisa satu kampus sama Neya." Jawab Biru yang sekarang sedang menonton.

"Seriusan lo?" Tanya Adnan sambil mendorong bahu Aksara. "Emang Neya mau masuk mana?"

Aksara melepaskan pandangannya dari buku latihan dan menatap Adnan sambil menghela napas pelan. "Kampus almamater kuning lah."

Sontak saja jawaban Aksara itu membuat ketujuh temannya terdiam, Farel, Bayu, dan Haikal juga menolehkan pandangan mereka pada sahabatnya itu.

"Yang tabah, bro. Semua ada jalannya." Ujar Bayu menepuk-nepuk punggung Aksara.

"Emang kalian belum ada pikiran mau lanjut kemana gitu? Tinggal sebulan lebih lagi sebelum kelulusan dan ujian masuk kuliah." Ujar Aksara.

Adnan diam. Sebenarnya dia juga sedang memikirkan hal ini. Setelah ini dia akan lanjut kemana, tetap di Indonesia atau ke luar negeri seperti keinginan Papa selama ini. Setelah ini dia akan menjadi apa, mengikuti mimpi Papanya atau mimpinya sendiri?.

"Dan, cita-cita lo apa?"

"Gue mau jadi diplomat, dan karena itu gue nanti rencananya mau ngambil jurusan Hubungan Internasional." Gaydan menjawwab lugas. Sejak kelas 1 SMP dia sudah tau akan kemana arah hidupnya.

"Balik ke NY lo?" Tanya Biru.

Gaydan menaikkan kedua bahunya. "Ya kalo gak di NY, kampus yang sama kayak Neya."

"Lo mah enak. Otak lo memungkinkan buat lo masuk sana." Komentar Haikal yang sekarang sudah berhenti bermain game online.

"Lo Ken?" Aksara beralih bertanya pada orang paling waras kedua, Ken.

"Gue sejak dulu pengen jadi akuntan sih. Jadi nanti palingan gue ambil jurusan akuntansi atau ekonomi sekalian." Ken menjawab. "Yang pasti gue tetep satu kampus sama Jia."

"Ye lo, dari jaman kapan ngikutin Jia mulu. Kapan jadiannya sih?!" Sungut Farel.

Ken hanya diam saja. Tidak mau menjawab ucapan Farel.

"Ya gue palingan mau jadi pengusaha aja, nerusin bisnis bokap sama kakek." Jawab Biru. "Dan soal kampus, mungkin Surabaya. Kota kelahiran nyokap."

"LDR dong lo?" Goda Bayu.

Biru hanya tersenyum saja. "Kalo lo gimana, Bay?"

"Sejak dulu, gue mau jadi pengacara atau hakim. Dan karena itu gue mau masuk jurusan hukum." Bayu berkata mantap.

Adnan menatap laki-laki itu, jarang-jarang dia melihat wajah Bayu seserius ini.

"Tapi gue tetep pengen di Jakarta. Ga tega ninggalin nyokap sendirian. Kalian tau sendiri nyokap seprotektif apa sama gue."

Titik Dua dan BintangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang