3: Misi Pertama

91 22 0
                                        

SMA Merpati yang memiliki hampir tiga ribu murid ini memiliki satu kantin yang sangat luas, dengan sepuluh stand penjual. Bahkan luas kantin disekolah ini sama besarnya seperti luas aula yang berada tidak jauh dari kantin. Dan seperti biasa, saat jam istirahat kantin akan selalu dipadati para murid.

Seperti cerita-cerita tentang geng yang ada pada novel kebanyakan, wilayah pojokan kantin yang jauh dari keramaian, adalah sarang berkumpulnya geng itu. Dan tentu saja itu juga berlaku di SMA Merpati. Pojok kiri kantin yang langsung berbatasan dengan lapangan belakang sekolah menjadi tempat favorit para anggota Dionysus.

Kelompok laki-laki itu akan menghabiskan banyak waktu disini, bukan hanya jam istirahat tapi juga jam pelajaran. Melakukan berbagai macam kegiatan selain makan, misalnya bernyanyi, bermain alat musik, menganggu para siswi, main game diponsel, atau bahkan menonton video tak senonoh. Ya, namanya juga remaja.

Tentu saja Adnan adalah bagian dari kelompok laki-laki yang duduk dipojok kantin itu. Sejak tadi dia tidak duduk ditempatnya, melainkan mondar-mandir sambil memegang kepalanya.

Adnan sedang berpikir tentang misi pertamanya hari ini. Sebuah misi awal yang biasa dia lakukan untuk mendapatkan hati seorang perempuan.

Misi pertama Adnan Gerdapati : Mendapatkan nomor telfon Bintang Cyrenia.

Tapi yang jadi masalahnya adalah, sudah 10 menit sejak waktu istirahat dimulai dan Bintang belum juga menunjukkan batang hidungnya di kantin ini.

"Nan, lo kenapa sih dari tadi mondar mandir terus?" Bayu yang gerah melihat tingkah Adnan akhirnya bertanya.

"Lo bisul, Nan?" Kali ini Haikal bertanya.

"Sembarangan!" Adnan menjawab sambil memukul kepala Haikal, membuat Bayu dan Farel tertawa.

"Ya terus kenapa lo dari tadi gelisah banget? Kayak induk kucing mau melahirkan?"

"Lo nungguin Bintang ya?" Farel menggoda Adnan.

"Nah kebetulan tuh Bintangnya udah dateng!" Tunjuk Bayu pada tiga orang siswi yang baru memasuki kantin.

Adnan langsung tersenyum, "Nah kalian bereempat temenin gue cepetan!"

"Kemana?"

"Ke rumah sakit!"

"Ngapain?"

"Duh Haikal bego, ya nemuin Bintang lah!" Jawab Adnan sambil lagi-lagi memukul kepala Haikal.

"Oh ya udah kalo gitu!" Haikal bersemangat, kalau sudah menyangkut soal kaum hawa, Haikal juara satunya. Padahal dia tidak pernah berpacaran. Hubungan terakhir Ananda Haikal adalah dengan tali pusarnya tujuh belas tahun yang lalu.

Mereka bereempat, ditambah dengan Ken yang harus dipaksa dulu, lalu menemui Bintang yang sedang duduk bersama Jia dan Kayla di salah satu meja kantin.

"Ngapain?" Jia bertanya pada Ken yang berdiri didepannya.

Ken menunjuk Adnan yang sekarang menatap Bintang dengan dagunya.

"Mau ngapain tu cowok?" Jia kembali bertanya.

Ken hanya menaikkan kedua bahunya. Dia tidak tau apa rencana Adnan.

"Satu! Dua! Tiga! Mulai!" Adnan memberi aba-aba.

Bintang semakin menatap aneh kelima orang yang sekarang menjadi pusat perhatian di kantin ini. Apalagi saat mereka semua tau bahwa Adnan mendatangi meja seorang perempuan. Semua mata langsung tertuju pada mereke berlima. Tapi itu tentu saja tidak menghentikan aksi yang akan dilakukan oleh Adnan, Bayu, Haikal, dan Farel, sedangkan Ken hanya menonton saja.

Titik Dua dan BintangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang