BAB 2

11.5K 324 1
                                        

Hari ini tepat satu tahun pernikahan kami, aku dan mas bram tinggal bersama dirumah orang tua mas bram. Sampa saat ini mas bram belum meminta haknya bahkan kami tidak tidur seranjang, aku tidur di sofa dan dia tidur di ranjangnya katanya dia tidak bisa tidur sempit-sempitan jadi aku mengalah padahal aku tau itu hanya akal-akalannya saja karena yang ku tahu dia sangat membenci pernikahan ini.

 Sampa saat ini mas bram belum meminta haknya bahkan kami tidak tidur seranjang, aku tidur di sofa dan dia tidur di ranjangnya katanya dia tidak bisa tidur sempit-sempitan jadi aku mengalah padahal aku tau itu hanya akal-akalannya saja karena yang...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Saat ini aku sedang bersantai didalam kamar sambil melihat album foto pernikahan kami mas bram sudah berangkat bekerja dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya maklum dia adalah CEO Wijaya Corp

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Saat ini aku sedang bersantai didalam kamar sambil melihat album foto pernikahan kami mas bram sudah berangkat bekerja dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya maklum dia adalah CEO Wijaya Corp.  jadi tidak bisa libur terlalu lama bahkan saat libur pasca pernikahanpun dia tetap sibuk dengan laptopnya. Sedangkan ayah dan ibu mertuaku mereka sedang ke bandung untuk menemui saudara ayah.

Telepon berdering

"Iya bu, arini sedang istirahat sambil melihat album foto pernikahan kemarin.....Iya ibu dan ayah hati-hati di jalan yah" ibu mertuaku menelfon memberitahukan bahwa mereka sedang di jalan menuju rumah aku bergegas untuk memasak makan siang.

ah jam 11.15

_______________________________

Makan siangpun jadi, aku hanya memasak makanan simpel saja sup ayam, perkedel kentang dan ayam kecap. Kebetulan ibu dan ayah mertuaku sangat menyukai sup ayam aku senang mertuaku meyukai semua masakanku terlebih sup ayam. Walaupun disini sudah ada koki khusus keluarga wijaya tetap saja aku memasak untuk sarapan, makan siang dan mkan malam. mertuaku sempat melarangnya tapi mau gimana lagi aku sudah terbiasa memasak di rumahku sebelum aku jadi menantu mereka, hobiku memang memasak. Dulu aku sering memasak dengan mamah.

"Sup ayam ibu datang" ibu mertuaku datang di ikuti ayah di belakangnya

"Ibu, arini rindu" kami berpelukan seperti ibu dan anak.

"Putriku, kau hanya merindukan ibumu saja?" dengan wajah terlihat kesal.

"Aku juga merindukan ayah" kamipun berpelukan.

"Sayang, kau memang yang terbaik. mencium harum masakan dari gerbang ibu langsung tau kau memasak sup ayam" ibu berbicara sambil mengambilkan mencomot perkedel kentang.

AriniTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang