◜26◞ Sandaran

4.2K 481 30
                                        

"Hal tersulit sekaligus tersakit adalah ketika kau bertindak acuh walau sejujurnya kau sangat peduli. "

☆☆☆

Gladys berjalan menuruni tangga dengan kedua tangan memegang piring berisi sepotong kue coklat sisa semalam. Gadis itu sudah lengkap dengan seragam sekolahnya.

Saat akan membelokkan diri kearah dapur langkah Gladys terhenti dan menatap datar gadis yang berdiri dihadapannya.

"Pagi Kakak." Sapa Karin namun diabaikan oleh Gladys, gadis itu melanjutkan langkahnya meninggalkan Karin disana.

Karin tersenyum maklum, gadis itu kembali mengikuti langkah Gladys. "Kakak baik-baik aja di rumah kan?"

Karin berdiri disamping Gladys yang tengah mencuci piring bekas cake nya.

Gladys menatap Karin malas dan menghentikan gerakkan tangannya yang tengah membilas piring.

"Jauh lebih baik, hidup gue tentram tanpa lo, Ayah dan Bunda."

Karin terdiam sesaat, Gladys sedikit berbeda.

Memang setelah insiden Gladys meninggalkan rumah saat Gilang merusak gitar miliknya, malam hari saat dirinya pulang Gilang, Farah dan Karin pergi ke Surabaya menghadiri pertemuan bisnis sang Ayah.

Namun sayangnya mereka bertiga melanjutkan perjalanan itu dengan liburan bersama, melupakan bahwa ada sosok putri yang ia tinggalkan sendirian di rumah.

"Kakak nggak kangen Karin gitu?" Karin masih mencoba membuka topik, dirinya sangat ingin berbicara dengan Gladys.

"Gue nggak pernah kangen sama lo!" Tekan Gladys dan melangkahkan menjauh dari Karin.

Karin menatap punggung Gladys dengan tatapan sendu, kapan Gladys akan berbicara padanya dengan nada lembut? Kapan dia dan Gladys bisa layaknya kakak beradik seperti teman-temannya yang lain?

Sedangkan Gladys berjalan menuju garasi mengambil mobil miliknya. Jika bukan karena paksaan Karin kepada Ayahnya mungkin Gladys tidak akan memiliki mobil ini.

☆☆☆

Gio menatap datar gadis yang berdiri dihadapannya saat ini.

"Lo bisa sehari aja nggak usah muncul dihadapan gue?" Kesal Gio yang dibalas gelengan dari Laras.

"Nggak bisa, gue harus liat wajah lo biar gue selalu semangat!" Ujar Laras girang.

Gio memutar bola matanya malas mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Laras.

"Lebay." Gio melangkah menjauh dari Laras, namun gadis itu kekeuh mengikuti Gio dari belakang.

Laras sangat menyukai Gio, bukan hanya menyukai tapi cinta. Berjuang hampir 3 tahun walau hanya penolakan dan perkataan pedas yang didapatkan gadis itu.

Kenapa Laras sangat menyukai Gio? Karena hanya Gio yang paham dirinya, tapi mungkin itu dulu. Sampai pada saat Laras mengungkapkan perasaannya Gio menjauhi dirinya.

Laras berjalan cepat hingga berdiri disamping cowok tampan yang hanya menampilkan eskpresi datar dan dingin saat bersamanya.

"Gi, kantin sama gue sebentar mau nggak?"

Tidak ada jawaban dari Gio hanya diam dan terus melanjutkan langkahnya.

Laras tersenyum miris dalam hatinya, bukan sekali dua kali dirinya diabaikan oleh Gio. Tapi sudah berkali-kali.

Gio mengehentikan langkahnya diikuti oleh Laras, Laras tersenyum apa Gio berubah pikirannya?

"Ja-" Ucapan Laras terhenti saat Gio melangkah menjauh darinya.

SAGLA (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang