Chapter - 11

1.9K 103 5
                                        


Happy Reading !!

__________________________________


   Suara dering ponsel Deva menggema di telinganya karena ia meletakkan ponsel persis di sebelah kepalanya. Deva sedikit kesal karena terbangun dari dunia mimpinya. Dengan mata yang masih mengantuk, ia mengambil ponsel dan meletakkan di telinganya.

   "Jalan yuk" ucap seseorang di seberang tanpa basa basi.

   "Gue baru bangun Ra" ucapnya dengan suara serak.

  "Ya udah siap-siap gih"

  "Nyawa gue belum ngumpul"

  "Sejam lagi gue otw" ucap Namira lalu memutuskan telpon. Deva mendengus kasar lalu meletakkan kembali ponselnya. Tak berapa, ponselnya kembali berdering. Dengan kesal ia menarik kasar ponselnya.

  "Iya ini gue lagi siap-siap!" Bentaknya kesal.

   "Siap-siap kemana?"

   Mata Deva terbuka sempurna lalu melihat layar ponselnya. Nomor tak di ketahui? Ia kembali menempelkan ponsel ke telinganya.

   "Siapa?"

   "Tas lo ada sama gue, kemarin ketinggalan di mobil" Deva diam menelaah ucapan yang tak ia mengerti dari seseorang di seberang telpon.

  "Halo?" Ucapnya sekali lagi yang tak mendapat respon dari tadi oleh Deva.

  "I-iy-ya iya. Sorry gue baru bangun jadi agak blank" ucapnya gugup namun berusaha menutupinya. "Lo tau nomor gue dari mana?"

  "Haris."

  "Oh"

  "Bentar lagi gue sampe di rumah lo"

  "Ah? Gimana gimana??" Namun Andra langsung memutuskan telepon. Deva melompat dari atas kasur lalu berlari mengambil handuk biru yang menggantung dan masuk ke kamar mandi.

   Beberapa menit setelah bersiap-siap, ia keluar dan menuruni tangga. Terlihat kakaknya duduk di lantai ruang keluarga dengan laptop di atas meja.

   "Kemana dek?" Tanya Rian sambil mengetik sesuatu di laptopnya.

  "Keluar sama Namira kak"

  Deva merogoh saku, mengambil ponselnya yang berdering. Sudah bisa di tebak itu adalah sahabatnya.

   "Gue udah si.."

  "Bokap Melvin masuk rs Dev" Senyum Deva langsung berubah dengan kabar yang baru saja ia dengar.

  "Lo tahu dari mana?"

  "Kino"  Melvin tak memberitahu apapun padanya dan jujur itu membuatnya sedikit kecewa karena ia mengetahuinya dari orang lain bukan dari Melvin sendiri. Pantas saja dari kemarin ia tak ada kabar sama sekali.

  Tanpa menunggu lama ia memutuskan telpon dan berpamitan dengan kakaknya lalu melangkah cepat ke pintu keluar.

   Dari arah gerbang, terlihat seorang laki-laki dengan motor hitam memasuki kawasan rumahnya. Ia berlari ke arah laki-laki itu dengan nafas sedikit tersengal dan spontan laki-laki itu menghentikan motornya.

   "Andra.. hah.. hah.. hah.. gue minta tolong anterin ke rs ya" ucap Deva dengan nafas tersengal.

  "Lo kenapa?"

  "Nanti gue jelasin. Sekarang antar gue ya please" ucapnya memohon. Andra mengangguk lalu menyerahkan tangan kirinya untuk tumpuan Deva naik ke motornya yang lumayan tinggi.

DEVANDRA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang