Happy Reading guys !
____________________________
Deva berjalan dengan gontai menyusuri lorong kampus. Hampir seminggu ia menghilang, sebenarnya masih ingin tidur, tak ada minat sama sekali untuk menapakkan kaki ke kampus. Namun karena bujukan kakaknya, akhirnya ia menyerah.
Ia membuka pintu kelas perlahan dan terlihat Namira yang menoleh pertama kali langsung berhamburan berlari ke arahnya di susul oleh Ajeng. Namira memeluk erat Deva dan di balas sama.
"Lo kemana aja sih Dev, seneng lo bikin gue dan Ajeng panik" bentaknya yang hanya dibalas senyuman dari Deva dengan wajah terlihat lelah.
Namira tak suka melihat keadaan sahabatnya dan menarik Deva ke luar. Hari ini Namira berinisiatif mengajak kedua temannya bolos demi menghibur Deva. Deva sempat menolak namun akhirnya ia bersedia dan mereka berjalan menuju parkiran.
Dalam perjalanan Deva hanya diam, tak ada suara sedikitpun. Akhirnya ia memilih tidur, membuat kedua sahabatnya khawatir.
Setelah lebih dari satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai di sebuah restoran dekat pantai. Mereka masuk dan memilih duduk di kursi dekat jendela tanda kaca.
Deva menutup mata menikmati aroma pantai yang khas yang menjadi favoritnya. Ajeng dan Namira saling pandang karena senang, akhirnya mereka berhasil membuat sebuah senyum kecil terukir di wajah Deva.
Beberapa saat kemudian pesanan mereka sampai. Dengan cekatan Ajeng mengambil beberapa seafood lalu memberikannya pada Deva.
"Dev, makan ya. Gue gak pengen sahabat gue sakit" ucap Ajeng lembut. Sebenarnya ia ingin menolak, namun melihat niat baik sahabatnya, mengangguk dan memakan sesuap. Tentu Ajeng dan Namira tersenyum puas melihatnya.
"Dev, kalo lo ada masalah harus cerita sama kita ya, jangan menghilang kayak kemarin. Lo gak tau gimana paniknya kita sampai Ajeng rela bolos kerja dua hari buat nyari lo" Deva langsung menoleh ke arah Ajeng yang tersenyum ke arahnya. Deva memeluk Ajeng dengan perasaan bersalah.
"Maaf"
Hanya itu yang bisa Deva katakan. Ia tak menyangka akibat keegoisannya malah menyakiti kedua sahabatnya yang tulus menyayanginya sehingga mengorbankan waktu dan tenaga untuk mencari dirinya. Deva merasa sangat bodoh.
"It's okay, yang penting lo udah balik. Gue harap kedepannya lo gak kayak gini lagi ya, jangan bikin kita khawatir. Seberapa berat masalah lo cerita ke kita, okay" ucap Namira yang di balas anggukan oleh Deva yang masih berada di pelukan Ajeng.
Mereka melanjutkan makannya sambil bercerita dan bercanda. Deva pun sudah mulai membaik. Ia sudah terlihat mulai tersenyum dan tertawa. .
Di lain sisi, Kino yang mendapat info kalau Deva sudah kembali ke kampus membuat Melvin segera berlari ke kelas Deva diikuti oleh Bastian dan Kino.
Sesampai di kelas, ia mengedarkan pandangannya melihat setiap satu persatu namun tak menemukan sosok yang ia cari. Ia lalu bertanya pada salah satu gadis dan mengatakan kalau Deva sudah pergi bersama kedua temannya beberapa menit lalu.
Melvin menjambak rambutnya frustasi, lalu dengan perasaan campur aduk ia keluar dan berjalan ke arah taman kampus. Ia duduk dengan kepala tertunduk sambil menjambak rambutnya.
"Kasih dia waktu dulu Vin, tunggu sampai suasana agak tenang. Gue yakin dia bakal ngerti" ujar Kino menepuk pundak Melvin pelan.
"Gue gak tau harus gimana lagi No. Gue bener-bener kesel sama diri gue sendiri udah nyakitin Deva" ucapnya lirih
Kino dan Bastian hanya saling pandang, tak mampu untuk bicara karena mereka tau posisi Melvin saat ini juga sulit. Mereka menepuk pundak Melvin, hanya itu yang bisa mereka lakukan untuk menenangkan sahabatnya.
✵✵✵✵✵
Andra dan ketiga sahabatnya memasuki cafe yang tak terlalu ramai. Dengan sigap, pegawai membuat minuman yang sudah ia hafal di luar kepala. Mereka duduk di tempat biasa, di pojok dekat jendela.
Andra mengedarkan pandangan mencari sesuatu entah apa. Seorang pria membawa nampan berisi minuman untuk mereka. Tak lama, Haris datang menghampiri mereka.
"Kenapa muka lo?" Tanya Andra
"Ah gak, gue cuma khawatir sama temen gue. Hampir seminggu tuh anak gak ada nongol" ujarnya sambil menghela nafas
"Temen lo yang mana?"
"Deva. Gak biasanya dia kayak gini"
"Kenapa gak di pecat ajalah. Ngapain orang gak profesional gitu masih lo tampung" ucap Andra namun tak di gubris oleh Haris. Pandangannya tertuju pada seorang gadis yang memasuki cafe. Dengan cepat ia menghampiri gadis itu.
"Lo kemana aja Dev, ponsel lo juga gak aktif. Gue khawatir tau gak" ucapnya lalu memeluk sebentar Deva.
"Sorry Ris, gue..."
"Bisa gak si lo bersikap profesional?" Ucap Andra tiba-tiba di belakang Haris sambil tangan di dada. "Kalo lo gini terus mending mengundurkan diri aja. Masih banyak yang perlu kerjaan bukan cuma lo doang!" Haris mendelik ke arah Andra namun tak dihiraukan.
Deva hanya menatap tanpa minat. Saat ini ia sedang tidak mood berdebat dengan bocah di hadapannya. "Gue minta maaf Ris, kalo lo mau pecat gue juga gapapa. Dia bener, gue gak profesional"
Haris menggeleng kepala dan mengusap kepala Deva lembut. "Gapapa, kalo lo masih butuh istirahat lo bisa pulang dulu, datang kapan lo siap"
"Gue gapapa kok, sekarangpun gue bisa" ujar Deva
"Serius?" Tanya Haris sedikit khawatir dan dibalas anggukan oleh Deva.
"Ya udah, lo ganti pakaian dulu sama Ajeng, kalo lo butuh sesuatu jangan sungkan bilang sama gue" ujar Haris
"Hm"
"Ya udah gue tungguin kalian kerja ya" ucap Namira. Deva dan Ajeng berjalan menuju ruang ganti sedangkan Namira ikut bergabung di meja tempat Andra dan teman-temannya.
Andra kembali duduk sambil memainkan ponsel sedangkan yang lain larut dalam obrolan bersama Namira. Tak lama matanya terpaku pada sosok yang berjalan menuju meja pemesanan
Wajah gadis itu terlihat lelah, tak tampak wajah sinis seperti pertama mereka bertemu. Ia kembali teringat dengan kejadian di pesta beberapa hari lalu. Apakah ada hubungannya dengan sikapnya hari ini? Andra menampik pikiran yang tak jelas lewat di kepalanya. Kenapa juga ia harus peduli.
✵✵✵✵✵
Jangan lupa vote & komen ya guys ✌️
Thank you 💜
NEXT ??
KAMU SEDANG MEMBACA
DEVANDRA
RomansaFollow sebelum baca ! Devanatasya Kennan, seorang mahasiswi sederhana yang bekerja di sebuah cafe kecil. Kecuali sahabatnya, tak banyak yang tahu jika ia berasal dari keluarga berada termasuk kekasihnya. Dengan alasan perbedaan statuslah yang akhirn...
