Chapter - 8

2.1K 107 3
                                        


Happy Reading !!

________________________________

   Hari ini Deva tak masuk lagi. Setelah ia mengabarkan kalau ia sedang sakit, Namira dan Ajeng berniat menengoknya ke rumah.

   Dari arah belakang, terdengar suara Melvin memanggil mereka, otomatis mereka menoleh. Terlihat hanya Namira yang memasang wajah tak suka pada Melvin.

   "Deva gak sama kalian?"
 
  "Gak" ucap Namira singkat lalu membuka pintu mobilnya

   "Tunggu, gue mau bicara sama Deva. Dia dimana?"

   "Masih punya muka juga lo nanyain Deva? Mending lo urus selingkuhan lo!" sengit Namira tanpa memperdulikan Melvin yang menatapnya memelas dan langsung masuk ke mobil.

   "Melvin, kasi Deva waktu buat menenangkan diri. Kalau udah sama-sama siap, kalian bisa omongin semuanya baik-baik" ucap Ajeng.

   Melvin menghela nafas berat lalu mengangguk, mengiyakan ucapan Ajeng."Kalau kalian ketemu Deva, gue titip salam ya Jeng"

   "Oke" ucapnya seraya tersenyum lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Melvin.

   Sesampainya di rumah Deva, seperti biasa Shila yang pertama menyambut kedatangan Ajeng dan Namira dengan pelukan.

   "Kalian langsung ke atas ya, nanti tante bawain kue"

   "Makasih tante"

  Namira dan Ajeng menaiki tangga menuju  kamar Deva. Perlahan mereka membuka pintu dan terlihat Deva tengah duduk di kasur dengan menyenderkan punggungnya sambil membaca komik.

   Keadaannya cukup membuat kedua sahabatnya terkejut dengan kening dan lengan yang tertutup kasa kecil serta kaki yang dililit kain.

   Deva menyapa sahabatnya setelah menyadari kedatangan mereka. Namira yang tak dapat menahan tangisnya yang pertama kali berhamburan memeluk tubuh mungil Deva.

   "Lo kenapa bisa kayak gini si Dev? Gue kira lo cuma sakit biasa" ucap Namira di sela isak tangisnya.

   "Gapapa kok, namanya juga musibah kan. Tapi tetap bersyukur gue masih bisa duduk di depan kalian"

   Namira dengan rusuh menuntut penjelasan tentang kejadian yang menimpanya. Ia menceritakan kejadian dari awal sampai akhir dan berhasil membuat Namira dan Ajeng mengeluarkan beberapa ekspresi.

   Tengah asik mengobrol, pintu terbuka dan menampakkan kakaknya dengan kaos putih dan celana krem selutut tengah tersenyum lalu menyapa Namira dan Ajeng.

   "Dek di bawah ada Haris"

   "Ya udah, suruh masuk aja" Rian mengangguk dan meninggalkan kamar Deva.

   Tak lama, Rian kembali bersama dua orang pemuda yang mengikutinya di belakang. Tunggu, dua pemuda?? Deva terkejut saat melihat seseorang di belakang Haris yang seperti biasa memasang wajah datarnya. Kenapa dia disini? Batinnya.

   Lalu menyusul tiga orang lainnya di belakang Andra, siapa lagi kalau bukan pasukan Andra. Mereka benar-benar tak bisa lepas satu sama lain.

   "Hai kak Deva. Maaf kita rusuh ke sini. Kita cuma bawa buah alakadarnya, jangan lihat dari harga tapi lihat dari niat tulus kami. Cepat sembuh ya" ucap Raka lalu menyerahkan sesuatu yang terbungkus tas kecil pada Deva.

   "Makasih ya" Ucapnya ramah sambil tersenyum.

   Haris sudah mendengar kejadian yang menimpa Deva, ia masih tetap terkejut melihat keadaan Deva. Haris duduk dan menatap sedih kaki Deva yang terbungkus.

DEVANDRA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang