Chapter - 32

1.4K 62 1
                                        

Happy Reading!

_____________

  "Ajeng"

  Ajeng yang sedang merapikan gelas langsung menoleh dan menghampiri orang yang memanggilnya.

  "Kenapa kak"

  "Jeng gue boleh minta tolong ya. Bantuin gue ngecek stok di gudang, lo tau sendiri kan kalo gue agak rusuh takutnya ntar catatannya gak cocok" ucapnya lalu memberikan buku pada Ajeng.

   "Kerjaan lo biar gue aja yang urus, lo cek itu doang ntar lo boleh istirahat awal deh, oke" sambungnya.

   "Iya- iya santai aja" ucapnya ramah lalu melangkah menuju gudang stok.

   Ajeng memeriksa beberapa barang sambil menghitung dengan teliti sambil menulis. Sesekali ia membersihkan sedikit debu di gudang. Takut kalau kena makanannya.

Ajeng yang sedang fokus menyusun beberapa barang di kejutkan oleh sebuah tangan besar yang melingkar di pinggangnya.

   "KAKAK!" Pekik Ajeng

   "Kakak ngapain disini? Nanti kalau ada yang lihat gimana?"  sambungnya sambil berusaha melepas tangan di pinggangnya. Bukannya melepas, ia malah mengeratkan pelukannya.

   "Aku kangen" ucapnya manja lalu meletakkan kepalanya di pundak Ajeng.

   "Kakak, jangan gini. Kalau ada yang liat gimana? Kalo boss tahu, bisa-bisa aku di pecat"

   "Dia gak bakalan dateng jam segini"

  "Tapi.."

  "Percaya sama aku, oke? Lima menit aja" ucap laki-laki itu membuat Ajeng juga terdiam.

   "Kamu wangi. Aku suka" ucap laki-laki itu lalu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Ajeng, tempat favoritnya baru-baru ini. Gadis itu menggeliat pelan merasakan  geli di lehernya.

   "Kamu gak ada niatan mau open hubungan kita?" Ajeng hanya diam. Ia juga bingung, apakah ia siap menunjukkan hubungan mereka?

   "Sabar ya" hanya itu yang ia bisa katakan.

   "Sampai kapan?" Terdengar ada nada sedih pada ucapan laki-laki itu

   Ajeng juga tak tau harus menjawab apa. Jujur ia masih belum siap jika yang lain tahu hubungan mereka, terutama Deva. Ia memilih untuk bungkam, enggan menjawab pertanyaan laki-laki yang masih memeluknya erat.

   "Kakak udah lepasin" Ajeng berusaha melepas tangan besar itu di pinggangnya namun sebaliknya laki-laki itu semakin mengeratkannya.

   "Sayangnya gue udah liat tuh" ucap seseorang yang tiba-tiba sudah berada di belakang mereka. Kompak mereka menoleh dan di sana seseorang sudah berdiri dengan tangan yang terlipat di dada.

   "DEVA!"


* * *

   Deva duduk di sofa, menatap datar dLlua orang di hadapannya bergantian dengan mata yang mengintimidasi. Ia masih sulit mempercayai apa yang baru saja ia lihat, mungkin juga tak pernah terbersit di otaknya.

DEVANDRA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang