Chapter - 26

1.6K 79 0
                                        


Happy Reading !!

_______________

   Hari ini adalah hari yang panjang dan melelahkan untuk Andra. Mulai dari banyaknya tugas sekolah yang mulai menumpuk, urusan OSIS, persiapan ujian serta persiapan pertandingan basket. Di samping itu, ia juga masih ikut andil dengan urusan cafe meskipun kakaknya-Haris banyak membantu mengingat padatnya jadwal sang adik.

  Andra sudah menginjak tahun ketiga dan dalam hitungan beberapa bulan lagi akan lulus dari sekolah ini. Dan di tahun ini sebenarnya Andra tak perlu terbebani dengan beberapa tanggung jawab lagi, contohnya urusan OSIS. Andra adalah mantan ketos saat ia duduk di kelas dua dan awal pelajaran baru ia sudah lengser dari jabatannya. Namun anak-anak OSIS yang baru masih berkomunikasi dengannya karena mereka masih menganggap Andra sebagai panutan terbaik, begitupun ketosnya saat ini, pendapat seorang Andra masih sangat mereka butuhkan.

  Sama halnya dengan basket. Meski sudah duduk di kelas tiga, jabatan kapten masih di pegang oleh Andra. Kenapa? Jawabannya hanya satu, belum ada yang mampu mengimbangi kemampuan Andra baik dari permainan maupun kepemimpinannya. Bahkan guru pun mengakui kemampuan Andra tidak bisa di bandingkan dengan siapapun termasuk dengan seniornya terdahulu.

   Bukannya melebih-lebihkan, hanya saja kemenangan mereka saat ini bermula ketika Andra mulai masuk klub dan menjadi kapten. Sebelumnya tim mereka termasuk dalam tim yang cukup lemah dan bahkan pihak sekolah sempat berencana untuk meniadakan klub basket. Walaupun banyak kegiatan, Andra tak keberatan sedikitpun, khususnya basket. Laki-laki itu sangat mencintai basket.

   Oke, kembali pada Andra saat ini. Laki-laki itu baru saja menyelesaikan permainan yang berlangsung hampir empat puluh menit. Ia berjalan beriringan dengan seorang anggota lainnya ke sisi lapangan lalu duduk di sana, bergabung dengan beberapa temannya yang terlebih dulu di sana. Ia mengatur napasnya perlahan karena permainan tanpa jeda ini benar-benar menguras oksigen serta tenaganya. Dan kini ia mulai merasakan tubuhnya mulai terasa remuk karena lebih dari dua minggu ini ia di sibukkan dengan berbagai kegiatan sekolah.

  Laki-laki itu terlentang di lapangan dengan keringat yang membanjiri tubuhnya. Untung saja cuaca tak cukup panas hari ini, jadi mereka bisa  berlatih di luar. Lapangan di dalam di gunakan oleh anak cheerleader. Karena tahu sendiri kan bagaimana rusuhnya kaum betina ini jika terpapar matahari? Finalnya, mereka mengalah untuk para gadis sebelum telinga mereka dihujani dengan rengekan serta absen kebun binatang dan sejenisnya.

   "Nih" Dion menyerahkan sebotol air mineral untuk Andra yang langsung di minum hingga tandas dalam beberapa tegukan. Dapat ia rasakan aliran air itu melewati kerongkongannya.

  Ia merogoh ponsel di tasnya. Terdapat beberapa pesan dari bunda dan Haris, selebihnya spam grup tak jelas. Ketika hendak memasukkan ponsel, notif pesan dari Haris muncul. Laki-laki itu mengirim foto kru cafe yang diambil diam-diam.

   "Kangen cafe gak?" isi pesan Haris di akhir foto.

     Satu lagi foto yang dikirim oleh Haris yang berhasil mengukir senyum kecil di wajah Andra. Foto cantik seorang gadis dengan senyum yang amat manis dengan rambutnya yang terurai tertiup angin. Sungguh Andra sangat merindukan gadis ini, terlebih senyumnya yang sangat menenangkan sekaligus mendebarkan setiap berada di dekatnya. Ingin sekali ia menemui gadis di dalam foto itu. Walaupun  komunikasi bertukar pesan masih terjaga, tetap saja tak cukup mengobati rindunya.

   "Cie" teriak Raka dan Dion kompak di belakangnya. Sontak saja laki-laki itu terkejut bukan main karena saking fokusnya dengan ponsel sampai ia sempat melupakan suasana keliling. Dengan cepat ia mengunci layar ponselnya lalu memasukkannya ke tas.

DEVANDRA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang