Chapter - 28

1.5K 68 2
                                        

  
Happy Reading!
________________

    Kino dan Bastian saling tatap beberapa saat karena seseorang di hadapan mereka. Tak ada sepatah kata keluar dari mereka. Laki-laki itu menghela nafas beberapa kali sambil menatap benda di tangannya.

  Tangan Bastian terulur mengambil benda itu lalu membaca tanpa suara. Ia sedikit terbelalak, menatap Melvin tak percaya lalu memperlihatkan benda itu pada Kino. Kino terlihat biasa saja, seakan telah mengetahui hal itu.

   "Lo udah yakin sama keputusan ini?" Tanya Kino. Melvin mengangguk pelan dan mengambil benda di tangan Kino.

   "Terus, itu yakin lo undang?"

   "Papa yang suruh"

   "Bokap lo sadis juga ya" Bastian menepuk lengan Kino, memberi kode sahabatnya untuk diam. Kino mengedikkan bahu, tak peduli jika Melvin akan tersinggung. Namun di luar dugaan, Melvin menganguk seperti setuju dengan ucapan Kino.

   "Gue ragu ngasi ke dia" ucap Melvin. Ekspresinya sangat sulit di artikan.
  
   "Kenapa?" Tanya Bastian bingung.

   "Ya lo pikir ajalah njir, mereka baru putus terus putusnya juga kayak gitu. Ini di kasih undangan tunangan apa gak nambahin sakit?" Jelas Kino.

   "Lah kenapa emang. Dia sendiri selingkuhin Melvin kan?  Jadi gak salah dong kalo di tinggal. Sok kecakepan sih pake acara selingkuh. Udah di kasih cowok tajir kagak ada rasa bersyukur banget"
  
   "Heh mulut lo lemes banget kayak cewek!" Ucap Kino jengkel.

   "Lah, gue salah?"

   "Emang lo tahu yang sebenarnya kayak gimana? Kalo ternyata itu salah paham gimana? Kalian tahunya dari sepihak doang"

   Bastian mengernyit dengan pernyataan Kino. Bastian melipat tangan di dada, menatap Kino dengan pandangan menyelidik. "Bentar. Lo kenapa segitunya belain tuh cewek?"

   "S-siapa yang belain. Gue kan cuma keluarin apa yang jadi pemikiran gue aja" ucap Kino sedikit gelagapan.

   "Gak gak gak! Lo aneh. Dari awal cuma lo yang bilang ini salah paham, cuma lo yang bela tuh cewek, cuma lo-"

   "Lo tahu sesuatu No?" Kali ini Melvin membuka suara. Wajah Melvin juga berubah serius dengan nada bicara dingin.

   "Sesuatu apa njir? Gue cuma ngasih pendapat, emangnya salah. Lagian lo sama dia kan udah lama bareng, masak sih lo segampang itu percaya yang kayak ginian?"

   "Gini ya, sekarang lo pikir aja. Kalo emang dia cuma manfaatin lo,gue tanya, hal termahal apa yang pernah dia minta sama lo? Udah berapa juta dia morotin duit lo? Kalo dia selingkuh nyari yang lebih tajir, ada perubahan gak dari penampilannya? Kalo gitu ngapain dia masih kerja di cafe kecil yang gaji nya gak seberapa? Pernah sampai sana gak pikiran lo?" 

   Baik Melvin maupun Bastian sama-sama terdiam dengan ucapan Kino. Kali ini, Melvin seakan setuju dengan pendapat Kino. Jujur saja, ia tak pernah terpikir sampai ke situ.

   Kino menepuk pundak Melvin "Gue gak berniat buat bela dia atau bagaimana, ini cuma pendapat gue. Lo tahu kan gimana hubungan lo gak di restuin sama bokap lo, dan lo tahu ini dari bokap lo. Gue minta maaf kalo mungkin ucapan gue bikin lo tersinggung, tapi apa lo gak pernah kepikiran kalau semua ini emang di rancang buat hancurin hubungan kalian?" Kino melirik jam tangannya. Ia bangkit lalu mengamit tasnya.

   "Kemana lo?"

   "Jemput cewek gue" Kino melangkah menuju pintu sebelum akhirnya ia berbalik badan menatap Melvin.

   "Vin, sebelum lo nyesel, gue saranin lo cek sendiri kebenarannya dan satu lagi" Kino tampak ragu lalu menarik nafas perlahan "Dua tahun kalian bareng, lo tahu gak gimana latar belakang keluarganya? Gue cuma bisa bantu itu, selebihnya lo cari tahu sendiri" setelah itu Kino pergi meninggalkan kedua sahabatnya yanh kebingungan dengan ucapan Kino.

DEVANDRA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang