Chapter - 10

2.2K 104 1
                                        


   Happy Reading !!

________________________


   Hampir tiga jam Andra memukul samsak yang berdiri kokoh di hadapannya dengan emosi, tak peduli dengan matahari yang mulai terik menyengat kulitnya.

   Beberapa hari ini moodnya sudah kacau. Ditambah pagi ini ia disambut dengan  postingan seseorang yang tak sengaja lewat di berandanya, membuat Andra membanting ponselnya.

   Sejak kapan akun gadis itu dipenuhi oleh fotonya bersama seorang pria?

   Semenjak kejadian di cafe, pulang sekolah ia menghabiskan waktunya di rumah. Ia bahkan jarang mengangkat telpon dari Haris yang menyuruhnya ke cafe.

    Ia pun tak mengerti ada apa dengan dirinya. Ia akui jika ia memang tak nyaman melihat gadis itu tersenyum dan memeluk kekasihnya di depan mata Andra. Apakah ia cemburu?

  Andra menggeleng kepala kuat, menampik pikiran yang cukup membuatnya merasa aneh.

   "Ngapain gue peduli" ucapnya lalu menendang samsak cukup keras.

   Di dekat jendela, Andi berdiri mengawasi putranya yang sedari tadi tak berhenti memukul dan menendang samsak. Ia agak heran karena terlihat Andra seperti sedang marah akan sesuatu, tapi ia tak tau apa penyebabnya.

   "Bunda"
 
   "Bentar yah" Anita keluar dari dapur dan menghampiri suaminya. "Kenapa yah?"

   "Anak kita ada masalah? Selama ayah gak di rumah, Andra baik-baik aja kan bun?" Sambungnya.

   "Setahu bunda gak ada masalah kok yah. Di sekolah biasa aja, sama anak-anak kayaknya juga gak ada masalah, malah mereka tiap hari ke sini"

   "Gak biasanya Andra sampai kayak gini" ujar Andy khawatir.

  "Gapapa, ayah lanjutin aja dulu kerjaannya, biar bunda panggil Andra" Andy hanya mengangguk.

 
 
   Andra berjalan ke ruang keluarga dan merebahkan diri di sofa setelah tiga jam lebih berolah raga. Ketika hendak memejamkan mata, ponselnya bergetar. Ia melirik sekilas dan muncul nama Haris. Seperti biasa, ia mengabaikan panggilan sepupunya.

   Tak berapa lama, ponselnya kembali berdering. Ia mendengus kasar karena mulai gerah dengan suara ponselnya. Ia menyerah, dengan kasar ia mengambil ponselnya.

   "Apa!" ucapnya kesal, namun tak ada jawaban dari seberang. "Gue lagi gak mood becanda, kalo gak penting gue tutup"
 
  "Andra, ini gue"

  Andra mendadak terdiam ketika mendengar suara yang terdengar familiar di telinganya.

  "Andra, ini gue Deva. Lo dimana?"

  "Kenapa hp Haris sama lo?"

  "Hp Haris ketinggalan di cafe. Dia minta gue buat ngasi tahu lo bawain laptop sama hpnya ke apartemen" Andra mendengus kesal. Tak biasanya pria itu melupakan sesuatu, dan sekarang Haris merepotkan nya yang sedang tidak mood.

   "Ya udah, gue ke sana" ucapnya lalu memutuskan panggilan dan berjalan menaiki tangga menuju kamar untuk bersiap-siap.

                             
                              ✵✵✵✵✵

  Andra memasuki cafe dengan wajah datar seperti biasa. Terlihat beberapa pelanggan wanita menatap kagum Andra yang berpenampilan kasual dengan Hoodie hitam serta celana selutut dengan warna senada.

  Rahangnya mengeras menahan emosi ketika melihat sepupunya sedang duduk santai di depan meja kasir sambil memainkan game di ponselnya. Ia melempar boneka pajangan yang cukup keras ke arah Haris dan tepat mengenai kepalanya.

DEVANDRA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang