Chapter - 37

1.4K 68 0
                                        


Happy Reading!
______________

Setelah melewati perjalanan yang cukup lama, akhirnya Andra dan Deva sampai di tempat favorit Deva. Gadis itu terlihat begitu bersemangat. Dapat dilihat bagaimana gadis itu dengan tanpa rasa sabar turun dari motor Andra.

"Andra cepetan!" ucap Deva yang terlalu antusias.

"Sabar Dev"

"Lo mah kelamaan!"

"Terlalu semangat, itu helm dilepas dulu"

"Oh" Deva hanya nyengir lalu melepas helm dan memberikannya pada Andra.

"Ayo" ucapnya lagi sambil menarik lengan baju Andra.

"Iya-iya tunggu"

Deva mendengus kesal,Andra terlalu lama. Ia lebih dulu berlari menuju pantai tanpa menunggu Andra. Pemandangan pantai kesukaannya lebih menarik sampai ia tak menanggapi teriakan Andra memanggilnya di belakang sana. Namun belum juga mendekati pantai, gadis itu malah tersandung hingga ia jatuh bersimpuh.

Dengan langkah cepat Andra menghampiri Deva. "Gini nih kalo batu. Udah di kasih tahu suruh tunggu dulu" Andra membersihkan yang melekat pada Deva dan memeriksa setiap inci, memastikan jika Deva tidak terluka.

"Ada yang sakit?" Deva menggeleng dengan senyum lebar.

"Ada memar di sini" Andra menyentuh lembut memar pada di lutut Deva.

"Gapapa. Memar dikit doang" Deva tertawa geli dengan ekspresi panik Andra "Muka lo biasa aja kali" Andra menghela napas panjang. Ia mengamit tangan Deva dan menggenggam tangan mungil itu erat.

"Biar gak jatuh lagi" ucapnya datar lalu menarik perlahan Deva menyusuri sisi pantai. Sesekali ia menatap tangannya yang tenggelam di genggaman Andra. Tanpa sadar ia tersenyum tipis. Hanya berpegangan tangan saja bisa senyaman ini. Ia menatap tubuh belakang Andra, ia benar-benar seperti bocil jika bersanding seperti ini dengan Andra. Padahal ia lebih tua tiga tahun darinya.

Deva melompat-lompat riang dengan tangan mengayun sambil bersenandung, Andra tersenyum melihat tingkah lucu gadis ini. Teriak dan berjingkrak ketika ombak kecil menyentuh kaki Deva. Andra melepas genggamannya, membiarkan Deva menikmati waktunya bermain ombak.

Diam-diam Andra merekam tingkah lucu Deva dengan ponselnya sambil terkekeh sesekali saking gemasnya dengan Deva.

"Kalau ke pantai kan cocoknya pake baju yang tadi kan? Gimana kalo..."

"Jangan mulai Dev" gadis itu tertawa melihat wajah Andra yang berubah serius.

"Bercanda kali, serius amat"

Setelah puas bermain dan berjalan-jalan sebentar, Mereka memilih duduk di bebatuan yang cukup jauh dari tepi pantai. Mereka sama-sama hening memandang ombak yang sedang berlomba di tambah angin yang membawa aroma khas pantai ke indera penciumannya.

Dari jauh, beberapa pengunjung tampak berlalu lalang. Ada yang sedang berfoto, bermain di air. Ada juga yang hanya duduk di tepi pantai menatap ke langit yang mulai jingga. Untung saja mereka sampai sebelum matahari tenggelam.

Angin mengibarkan rambut panjang Deva. Beberapa kali ia merapikan rambutnya, namun kali ini ia sudah tak tahan. Ia mengambil ikat rambut di tasnya untuk merapikan rambutnya.

DEVANDRA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang