Happy Reading!!
_________________
Teriakan para supporter menggema memenuhi lapangan indoor SMA Angkasa. Mereka kompak meneriakkan yel-yel dari masing-masing kelompok. Tak ayal mereka saling beradu teriakan antar kelompok.
Di bangku penonton, tepatnya di sudut yang tak terlalu terlihat, Deva duduk menyendiri menatap sosok Andra yang tengah pemanasan. Sesekali Andra menoleh ke arah Deva sekedar melempar senyum sambil melambaikan tangan.
Deva senyum senyum sendiri menatap sosok Andra di tengah lapangan dengan tatapan kagum. Ia sangat mengakui bahwa Andra begitu tampan. Tapi entah kenapa pesona Andra saat di lapangan begitu berbeda. Namun sayangnya, pemandangan itu tak bisa ia nikmati sendiri. Hampir sebagian perempuan meneriaki nama pacarnya dengan antusias. Deva sedikit kesal ketika para pendukung meneriaki Andra sedikit berlebihan. Bahkan tak henti-hentinya mereka membicarakan tentang Andra.
"Hai, boleh duduk di sini?" tanya seorang laki-laki yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sebelahnya.
"Hmm, ya silahkan" ucap Deva.
"Kamu murid SMA Angkasa?Aku gak pernah tahu. Kamu kelas berapa?"
"Gue cuma supporter" jawab Deva seadanya. Perlahan laki-laki itu bergeser mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Dengan terpaksa Deva juga bergeser.
Laki-laki itu mengulurkan tangan "Boleh kenalan? Nama kamu siapa?"
Deva hanya tersenyum simpul menatap ragu uluran tangan anak laki-laki itu. Namun secara mengejutkan, orang lain membalas uluran tangan laki-laki tersebut.
"Andra" ucap Andra lebih dulu sembari menjabat tangan laki-laki itu. Tentunya kedatangan Andra mengejutkan keduanya. Ditambah teriakan para gadis di sekitarnya begitu memekak telinga.
Laki-laki itu meringis sambil berusaha menarik tangannya yang di genggam Andra. Tampak tangan laki-laki itu bergetar karena genggaman Andra semakin kuat.
"Andra, lepas!" Ucap Deva sambil menarik tangan Andra. Terpaksa Andra melepas genggaman itu meski sebenarnya Andra masih belum puas.
"Aku ke sana dulu ya" pamitnya lalu berlari menjauh sebelum Andra melakukan hal lain.
"Pindah depan"
"Gak usah, gue disini aja"
"Gak usah ngebantah. Duduk di depan sama Dion" Andra menarik Deva dan tanpa perlawanan gadis itu pun mengekor. Seketika keadaan hening. Semua pandangan kini tertuju pada keduanya. Terlebih para gadis menatap Deva terang-terangan dengan berbagai ekspresi.
"Lo duduk di sini, kalo di sana lo gak kelihatan. Nanti lo hilang gimana?"
"Gue bukan anak kecil!"
Andra mengacak kepala Deva "Iya deh. Jangan kemana-mana. Dukung pacar lo"
"Bawel! Udah sana pergi"
"Yon, jagain pacar gue"
"Siap-siap" jawab Dion yang tengah merapikan handuk di keranjang
"Gue bilang gue bukan anak kecil! Gak usah lebay"
'Iya cantik" Andra pun meninggalkan Deva sendiri dan kembali ke timnya. Deva sangat risih karena ia sendiri tampak mencolok sehingga menjadi pusat perhatian.
"Mau gue bantu gak?" tawar Deva.
"Boleh kak kalo gak ngerepotin. Emang anjir banget temen gue pada hilang" Deva terkekeh dengan celoteh Dion. Akhirnya ia pun membantu Dion sembari mengobrol ringan.
KAMU SEDANG MEMBACA
DEVANDRA
RomanceFollow sebelum baca ! Devanatasya Kennan, seorang mahasiswi sederhana yang bekerja di sebuah cafe kecil. Kecuali sahabatnya, tak banyak yang tahu jika ia berasal dari keluarga berada termasuk kekasihnya. Dengan alasan perbedaan statuslah yang akhirn...
