2. Satu Pertanyaan

6.6K 1.2K 88
                                        

Jus mangga yang baru selesai diblender dituangkan ke dalam dua gelas panjang, lalu ditambah beberapa buah es batu berbentuk dadu. Setelah siap, dua gelas jus itu di letakkan di atas nampan, lalu dibawanya untuk diberikan kepada Hanum dan suaminya yang sudah menunggu sejak tadi di ruang tengah.

"Lama banget," keluh Hanum lalu meraih segelas jus yang baru Maira letakkan di atas meja itu, dan meminumnya perlahan.

Maira hanya menunduk. Sebenarnya sudah setengah jam lalu tantenya itu meminta dibuatkan jus, tapi Maira menunda perintahnya karena sedang sibuk mencuci baju sekolah Haidar, yang hanya ada satu. Jika dia telat mencucinya, baju itu bisa tidak kering keesokan harinya.

"Maaf, Tan." kata Maira merasa bersalah, kepalanya ditundukkan sambil kedua tangannya memeluk nampan yang kosong.

"Sudah, hal seperti itu tidak perlu dipermasalahkan," ucap Indra, mencoba menengahi.

"Tante ada butuh sesuatu lagi?" tanya Maira.

Hanum hanya menjawab dengan gelengan disertai wajah kecut. Sudah biasa Maira melihat wajah itu, tantenya ini memang bukan main gila juteknya. Jadi, Maira memang sebaiknya tidak perlu mengambil hati akan sikap tantenya. Dia sudah diizinkan tinggal disini tanpa biaya saja harusnya sudah amat bersyukur.

Baru saja Maira akan pergi ke belakang untuk membersihkan dapur, tapi niatnya tertahan saat melihat Haidar tengah di coret-coret wajahnya oleh kedua anak tantenya, di beranda rumah. Maira menjatuhkan nampan ditangannya begitu saja, dan segera berlari menghampiri mereka.

"Mama ...." Haidar berlari, dan menangis dalam pelukan ibunya.

Haidar tidak suka tinggal di sini. Sejak dia datang ke sini, dia bisa merasakan jika semua pemilik rumah ini tidak ada yang menyukainya. Dia bukan anak yang bodoh, dia sudah paham mana orang baik dan mana orang jahat. Dan baginya, semua penghuni rumah ini jahat. Dia mau pergi dari sini, tapi ibunya tidak pernah mengabulkan permohonannya.

"Naufal, Azmi, mainnya jangan berlebihan dong," omel Maira pada kedua anak tantenya.

Anak pertama Hanum berusia 12 tahun, dan anak kedua berusia 10 tahun, keduanya laki-laki. Meski mereka lebih tua dari Haidar, tapi entah kenapa sikap mereka sama sekali tidak mencerminkan hal itu. Malah, mereka kerap kali bersikap seolah lebih muda dari Haidar, sering mengadu pada ibunya.

"Berani ya kamu, Mai, ngomel-in anak Tante?" tanya Hanum yang sudah berdiri di ambang pintu dengan dagu terangkat dan tangan terlipat di depan dada.

"Mereka jahat, Nek." ujar Haidar menatap wajah Hanum takut-takut.

Hanum membalas tatapan lugu Haidar dengan tajam.

"Kalo kamu nurut sama mereka, mereka gak akan kayak gitu. Bukan anak-anak saya yang jahat, tapi kamu yang bandel."

"Tante—"

"Diam kamu, Mai! Harus Tante bilang berapa kali lagi sih? Jangan ajarin Haidar panggil Tante dengan sebutan Nenek! Tante itu masih muda, dan bukan nenek dia."

Maira memeluk anaknya kian erat. Tuhan, kenapa keluarga satu-satunya yang dia miliki harus begini? Apakah Tantenya itu mulai hilang kesabaran karena kehadirannya dan Haidar di sini hanya menambah beban? Jika seperti itu, lalu kenapa dulu dia begitu memohon agar Maira tinggal di sini? Andai Maira tahu jika tinggal di rumah tantenya akan bernasib seperti ini, tentu saja dia akan lebih memilih untuk tinggal di Bengkulu. Di sana, biarpun dirinya tidak punya ikatan darah dengan sahabat Bu Nur, setidaknya mereka tidak memperlakukan Maira dan Haidar sebegini nya. Lagi-lagi, Maira selalu salah mengambil keputusan. Hal itu membuat Maira kian merasa jika dirinya memang benar-benar bodoh.

"Hanum, sudah! Kenapa sih kamu marah-marah terus sama Maira?"

"Kamu lagi, Mas. Kenapa belain dia terus?!"

Hanum berdecak kesal, lalu menarik kedua anaknya untuk masuk ke dalam rumah. Setelah mereka pergi, Indra mendekati Maira.

"Maira, tidak usah diambil hati ya ucapan Tante mu."

Maira hanya mampu mengangguk.

Indra mengeluarkan dompet dalam saku celananya, lalu mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan dari dalam sana, dan menyodorkannya pada Maira.

"Ambil ini, kamu tidak punya uang 'kan?"

"Tidak perlu, Paman. Terima kasih." tolak Maira halus.

"Sudah, ambil saja. Kamu pasti membutuhkannya."

"Enggak, Paman. Besok Maira mau cari kerja lagi, kok. Jadi, Maira gak butuh."

Sudah beberapa hari ini saat Haidar bersekolah, Maira memang sibuk mencari pekerjaan. Namun, karena ijazahnya yang hanya sampai SMP, membuatnya sulit diterima untuk pekerjaan apapun. Meski begitu, semangatnya untuk mendapatkan pekerjaan masih banyak.

Indra mengembuskan napas berat, dan kembali memasukan uang itu ke dalam dompetnya.

"Ya sudah, semoga kamu segera mendapatkan pekerjaan ya, tapi, kalo kamu butuh apapun, jangan sungkan bicara sama saya."

Maira kembali mengangguk, dan Indra pun pergi dari sana.

"Mama." panggil Haidar yang sejak tadi hanya diam dalam pelukan ibunya.

"Iya, Nak?" tanya Maira, lalu berusaha menghapus coretan yang memenuhi wajah anaknya.

Bibir anak itu kembali bungkam. Dapat Maira lihat dengan jelas, ada perasaan terluka dalam tatapan lugu anaknya.

"Kamu mau bicara apa, Sayang? Bicara aja ya, Mama gak akan marah, kok."

"Janji?"

Maira tersenyum, lalu mengangguk.

"Nabi Muhammad tidak punya ayah sejak belum lahir, tapi Nabi Muhammad tahu, dan aku juga tau siapa nama ayahnya; Abdullah Bin Abdul Muthalib, tapi ...."

Sudah dapat Maira tebak, lanjutan ucapan Haidar pasti akan kembali menyayat hatinya. Tidak Maira tidak, kamu sudah janji tidak akan marah. Jangan nangis... tolong, untuk kali ini jangan menangis.

"Ke-napa di sekolah, cuma aku yang enggak tau nama ayah aku sendiri?"

Maira membisu. Pertahanannya runtuh, dia gagal. Dia tetap menangis, dia lemah. Dan seperti yang telah diduga, pertanyaan itu pasti akan berakhir dengan tidak ada jawabnya. ~

Takut Salah SinggahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang