Sebenarnya Maira belum mau menemui Anfal, tapi Abbas yang mengajaknya. Abbas bilang ingin memberitahukan kabar gembira ini kepada Bu Aisha dan juga Anfal, sebab bagaimanapun juga mereka masih keluarga Abbas. Akhirnya sore hari mereka pun datang ke rumah Anfal, tentu saja Haidar juga ikut serta. Anak itu begitu bahagia ketika tahu ibunya akan menikah dengan Abbas, sebab sejak awal lelaki yang sangat dia harapkan untuk menjadi ayahnya adalah Abbas atau Anfal. Dia tidak kecewa jika ibunya memilih Abbas, karena baik Abbas ataupun Anfal, dua orang itu sama-sama Haidar sayangi.
"Paman, Mama bilang Paman akan bawa kita ke Bandung?" tanya Haidar, dagunya ditempelkan pada pundak Abbas, terlihat begitu nyaman dalam gendongan Abbas.
"Iya, dan kita akan tinggal bersama. Enggak masalah kan kalau Hae harus pindah sekolah lagi?"
"Enggak, waktu di Bandung aku punya beberapa teman, mereka baik, aku senang tinggal di rumah Paman."
Maira tersenyum, merasa lega. Diusapnya penuh sayang rambut anaknya itu. Merekapun masuk setelah gerbang rumah terbuka, entah kenapa Maira jadi merasa deg-degan.
"Anfal sudah berusaha terima semua ini, kamu tenang aja ya?" Abbas memandang Maira, berusaha meyakinkan.
Karena pintu utama terbuka, Abbas pun menurunkan Haidar dari gendongannya, lalu bilang pada Maira untuk tetap menunggu di depan dulu, sementara dia masuk, mencari keberadaan Bu Aisha.
"Assalamualaikum, Ma," sapa Abbas, saat menemukan Bu Aisha tengah duduk di sofa, sambil membaca sebuah buku resep makanan.
Bu Aisha mengalihkan pandangannya pada Abbas, lalu meletakkan buku itu ke atas meja, dan tersenyum seraya bangkit menghampiri Abbas.
"Waalaikumsalam, anak Mama." Wanita itu memeluk Abbas penuh sayang, hal yang biasa dia lakukan jika Abbas datang ke sini.
"Anfal ada di rumah?"
"Masih di tempat kerja, mungkin sebentar lagi pulang. Kamu duduk dulu, Mama suruh Bi Asti buatkan minum ya?"
"Sebenarnya Abbas gak datang sendiri, Ma."
Bu Aisha menaikkan satu alisnya heran, Abbas kemudian menarik lengannya menuju ke depan.
"Maira?"
Maira tersenyum, lalu menyalami tangan orang tua itu, disusul oleh Haidar.
Semakin banyak pertanyaan yang muncul dalam benak Bu Aisha. Ada apa ini? Jadi benar Abbas yang Maira cintai? Lalu kenapa Maira harus kembali datang ke sini setelah mematahkan hati Anfal, sudah begitu dia datang bersama Abbas. Tidak ingin terlalu pusing, dia pun beralih memandang wajah polos Haidar, lalu mencubit kedua pipi anak itu.
"Nenek kangen sekali sama kamu. Pas sekali kamu datang, tadi siang Nenek bikin brownies cokelat, kamu mau?"
Haidar mengangguk antusias, tentu saja dia mau.
Bu Aisha tersenyum, lalu menggenggam tangan anak itu, dan meminta mereka untuk masuk ke dalam. Setelah itu, dia memerintahkan Bi Asti untuk membuatkan minum.
"Ada yang ingin Abbas katakan," ucap Abbas, terdengar serius.
Melihat wajah Abbas dan Maira, Bu Aisha pun semakin dibuat bertanya-tanya. Dia kemudian memandang Bi Asti yang baru selesai meletakkan 4 gelas minuman di atas meja.
"Bi Asti, beri Haidar brownies buatan saya tadi siang ya, sekalian temani dia makan di taman, sambil bermain ayunan, Haidar mau kan?"
"Kalau aku mau susu cokelat juga, boleh, Nek?"
Maira memandang anaknya, tidak menyangka dia bisa begitu berani meminta pada Bu Aisha. Bu Aisha lalu terkekeh, dan mengusap rambut Haidar.
"Boleh dong, Sayang. Kamu mau apa saja, tinggal bilang ya ke Bi Asti?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Takut Salah Singgah
Romance(Sekuel Di Usia 16) Pengalaman pahit sekaligus menyakitkan di masa lalu membuat Maira tumbuh menjadi perempuan yang sulit untuk kembali jatuh cinta, dan beranggapan jika semua lelaki sama; manis diawal, lalu kemudian menyakiti. Jika dia terus berpik...
