Satu jam lebih sudah Abbas menemani Haidar menunggu Maira. Dan akhirnya, Maira datang.
Maira berjalan tergesa, lalu memeluk Haidar, dan berulangkali mengucapkan kata maaf. Malah, Haidar hanya tersenyum dan bisa bernapas lega karena ibunya tidak kenapa-kenapa.
"Makasih, Bas." ucap Maira setelah melepaskan pelukannya, dia memandang Abbas dengan rasa tidak enak.
Abbas tidak ada membalas. Dia menatap Maira tidak habis pikir. Abbas tahu, Maira mungkin sibuk mencari pekerjaan, tapi apa tidak bisa dia tidak usah melarang Haidar untuk diantar oleh Abbas?
"Kita pulang ya, Nak?"
Haidar mengangguk, Maira menggenggam tangannya, lalu pamit pada Abbas. Namun, Abbas malah mengikuti. Maira pasrah, mereka pun akhirnya naik angkutan umum bersama.
~
Karena kelelahan, setelah berganti pakaian Haidar langsung terlelap tidur. Galih sudah kembali ke luar kota, dan Binar pun masih di tempat kerjanya.
Maira membuatkan teh manis untuk Abbas yang masih berada di beranda rumah. Setelah teh itu selesai dibuat, dia pun membawanya ke sana.
Teh itu diletakkan di atas meja bundar yang berada di tengah dua kursi. Maira lalu duduk di kursi samping Abbas.
Raut muka Abbas terasa dingin, Maira bisa merasakan hal itu. Maira sadar dia salah, dan Abbas pasti sangat kecewa padanya.
"Bas, maaf. Kamu pasti lama ya nemenin Haidar di depan sekolah?"
Abbas menoleh, lalu tersenyum memaksakan.
"Oh, enggak kok. Cuma satu jam, belum lima belas jam."
Mendengar perkataan Abbas, Maira langsung bungkam dengan perasaan yang semakin kacau. Dan kini, pikirannya malah kembali pada kejadian di depan hotel....
Setelah cukup lama berpikir, Maira akhirnya menyetujui ajakan Anfal untuk pindah ke tempat yang lebih nyaman. Anfal mengajak Maira bicara di ruangan private, yang berada di Hai Dear Hotel 2 itu.
"Bicara apa? Jangan lama-lama, aku gak punya banyak waktu."
Anfal merasa kalimat Maira menohok sekali. Biasanya, dia yang sering bicara begitu pada karyawan atau teman-teman nya.
"Apa kamu masih mau memberi aku kesempatan?" tanya Anfal, tanpa basa-basi.
Tidak butuh waktu untuk berpikir, Maira langsung menggeleng dengan pandangan yang terus dibuang ke samping.
"Mai ... aku cinta sama kamu."
"Enggak. Kamu gak pernah mencintai aku. Sejak dulu kamu tidak pernah tertarik pada perempuan bodoh ini."
"Kalau kamu sudah tidak membenci aku lagi, kamu gak akan berpikir begitu, Mai. Kamu masih benci kan sama aku?"
"Membenci masa lalu hanya membuat hidup ku menderita. Aku tidak mau pergi dalam keadaan hati penuh rasa benci. Aku sudah memaafkan kamu, bahkan sejak Haidar masih dalam rahimku. Karena, setelah aku menyadari kehadirannya, aku menganggap jika dia adalah anugerah yang amat istimewa."
Anfal menunduk, dadanya terasa sangat sesak. Kedua matanya pun sudah memerah. Seandainya saja ketika mengetahui Maira hamil dia tidak bersikap se-bajingan itu, mungkin kini dirinya bersama Maira dan Haidar sudah hidup bahagia, dan Anfal tidak akan tersiksa dihantui rasa sesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Takut Salah Singgah
Romance(Sekuel Di Usia 16) Pengalaman pahit sekaligus menyakitkan di masa lalu membuat Maira tumbuh menjadi perempuan yang sulit untuk kembali jatuh cinta, dan beranggapan jika semua lelaki sama; manis diawal, lalu kemudian menyakiti. Jika dia terus berpik...
