16. Bugenvil

4K 831 90
                                        

Lembaran baru di pagi hari yang cerah. Lelaki berpakaian dinas pendidikan itu tersenyum, dan bibir tipisnya yang kemerahan membuat senyum itu kian terasa manis.

"Assalamualaikum."

Itulah sapaan yang selalu Maira dapatkan di pagi hari jika Abbas datang ke rumah Binar. Dengan penampilannya yang sudah rapi, lelaki itu berdiri di depan pagar, sambil terus tersenyum memperhatikan Maira yang sedang menyiram tanaman.

Karena tidak membalas salam itu dosa kecuali jika sedang berada di dalam toilet, maka Maira pun membalas salam itu tanpa mengalihkan perhatiannya pada bunga-bunga segar yang sedang dia siram.

"Waalaikumsalam."

Mengingat kembali kejadian kemarin membuat Maira malu, entah karena apa. Pokoknya dia malu!

Udah Mai, lupain aja. Kemarin Abbas cuma bercanda, lupain lupain!

"Sibuk banget keliatannya, butuh bantuan?" tanya Abbas, yang kini sudah ada di samping Maira.

Sekarang Maira semakin yakin, jika apa yang Abbas ucapkan kemarin hanya bercandaan. Buktinya, lelaki itu terlihat biasa-biasa saja seperti sebelumnya. Jadi, tidak ada alasan bagi Maira untuk malu.

"Enggak usah." tolak Maira, lalu mengarahkan selang air di tangannya pada tanaman yang belum tersiram.

Abbas terus memperhatikan kegiatan Maira, membuat Maira merasa tidak nyaman.

"Kenapa?"

Apa penampilannya aneh? Maira pun memperhatikan penampilannya sendiri. Gamis hitam serta kerudung dengan warna senada, tidak ada yang aneh, kok.

You look so beautiful. Batin Abbas, lalu segera menggeleng mengenyahkan pikiran konyolnya.

"Eum, kamu hari ini mau nyari kerja lagi?"

Maira mematikan keran air, lalu menyimpan selang di samping keran. Kini, tangannya asyik menyentuh bunga mawar merah yang mekar begitu indah.

"Entahlah, aku makin pesimis. Semakin yakin kalo ujung-ujungnya pasti gagal lagi." balas Maira, yang sudah mulai kehilangan semangat mencari kerja.

Abbas terkekeh. "Mai, kamu baru satu bulan tinggal di Jakarta. Ada yang udah tiga tahun jadi pengangguran, tapi sampai sekarang dia masih semangat kok nyari kerja."

"Masalahnya, hampir semua perusahaan udah aku kunjungi, aku gak mau kalo nyari kerja ke tempat yang jauh dari rumah Binar. Memangnya, siapa yang udah tiga tahun jadi pengangguran itu?"

Ya ampun, Maira kenapa mudah sekali percaya sih? Tolonglah, itu tadi Abbas hanya perumpamaan saja.

Abbas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu tersenyum. "Gak tau siapa namanya, tapi ada sih kayaknya orang kayak gitu." balasnya asal.

"Ish, kamu tuh emang suka bercanda ya?"

"Iya, tapi gak lucu."

"Sadar."

"Tapi untuk ucapan aku kemarin, itu bukan candaan loh, Mai."

Maira menunduk, dia tidak siap membahas hal itu.

"Lupain aja."

"Kok gitu—"

"Awh!" Maira meringis saat jari telunjuknya tertusuk duri dari tangkai mawar yang tidak sadar dia sentuh. Karenanya, jarinya jadi terluka dan berdarah.

"Ya ampun, Mai ...."

Abbas terlihat sangat panik, dia mencoba meraih tangan Maira untuk diobati, tapi dengan cepat Maira menepisnya. Wajah Maira menjadi pucat, dia tidak mau disentuh oleh lelaki yang bukan mahramnya.

Takut Salah SinggahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang