39. Yakin

2.2K 591 80
                                        

Rasanya Anfal ingin mencabut infusan di tangannya, keluar dari sini, lalu menjemput Maira dan Haidar yang entah sedang apa bersama Abbas di Bandung sana. Namun, apalah daya, keadaannya yang memang masih sangat lemah serta sang ibu yang terus berada di sini, membuat Anfal sulit melarikan diri. Dia hanya bisa berdoa, semoga segera sembuh atau setidaknya, Maira tidak usah lama-lama di Bandung, sampai menginap segala lagi.

Pikiran lelaki itu makin kacau karena hadirnya Kamila. Entahlah, Anfal tidak mengerti, kenapa meski dia terus bersikap dingin, Kamila sampai sekarang masih tetap terlihat tidak pernah lelah mencoba mendekatinya? Bukankah dia bisa menemukan lelaki yang lebih baik, dan melupakan Anfal?

Kehadirannya disambut hangat oleh Bu Aisha, dia bahkan sampai membawakan makanan segala, yang bilangnya buatan sendiri. Ingat jika belum melaksanakan salat isya, Bu Aisha pun pamit keluar dan meninggalkan mereka berdua. Anfal tetap diam, meski Kamila terus mencoba mencairkan suasana.

Kamila tahu, tidak mudah menarik seseorang yang hatinya masih dimiliki orang lain. Namun, bukan Kamila namanya jika menyerah begitu saja. Sejak awal pertemuan, perempuan itu sudah kagum pada Anfal. Selain karena memiliki paras yang menawan serta karier yang cemerlang, lelaki itu juga punya attitude yang sangat baik, tidak peduli seburuk apapun masa lalunya. Awalnya, Kamila memang hanya berniat ingin menjadi teman Anfal, tapi makin lama perasaan yang telah muncul itu tidak bisa dicegah.

"Haidar gimana kabarnya?" tanya Kamila, mencoba beralih topik.

Sejak Kamila merobek foto Haidar di kantor saat itu, dapat dia lihat betapa sayangnya Anfal pada Haidar. Hingga, dia merasa sangat bersalah atas apa yang dia lakukan. Dia sudah berulang kali meminta maaf pada Anfal, tapi sampai berbulan-bulan Anfal enggan memaafkan. Lelaki itu baru mau bicara lagi dengannya setelah dia menangis sejadi-jadinya di depan Bu Aisha, dan benar-benar menyesali perbuatannya.

"Baik."

"Maira?"

Meski Kamila belum pernah bertemu langsung dengan Maira, tapi dia tahu seberapa istimewanya perempuan itu di hati Anfal. Tentu saja, hati Kamila selalu kesal dan sakit setiap mendengar nama itu, tapi dia tidak boleh membenci Maira hanya karena alasan yang tidak jelas.

"Baik juga."

"Tante Aisha bilang, udah dua hari Maira buatin kamu bubur sampe kamu mau makan banyak. Katanya, bubur buatan dia enak banget ya? Tapi sekarang dia lagi liburan, jadi gak bisa buatin bubur lagi. Gimana kalau besok aku yang buatin?"

"Enggak perlu."

"Fal, gini-gini aku jago masak, kok. Bubur buatan aku pasti enak juga, ya walaupun mungkin gak akan seenak bubur buatan Maira," ujar Kamila, lalu terkekeh kecil.

Anfal terus membuang pandangannya ke arah lain dengan kedua tangan dilipat di dada. Dalam diam dia tengah berpikir, bagaimana caranya agar perempuan ini bisa segera pergi? Ah, mungkin kalau dia pura-pura mengantuk Kamila akan pergi, benar juga.

Lelaki itu menjalankan misinya, menguap, seolah-olah dirinya benar-benar mengantuk.

"Kamu mau tidur?"

"Hm," gumam Anfal, sangat berharap Kamila pergi sekarang juga.

Kamila tampak kecewa, sebab makanan yang dia buat belum dicicipi oleh Anfal, tapi tidak apalah kalau Anfal ingin tidur. Semoga, dia mau memakannya saat bangun nanti. Tidak ingin mengganggu, Kamila pun akhirnya bangkit dari duduknya, lalu meraih tasnya di meja, dan pamit untuk pergi.

Anfal tersenyum lega setelah bayangan Kamila menghilang. Dan tidak lama setelah itu, Bu Aisha pun kembali masuk.

"Kamila kok udah pulang aja, kamu usir ya?" selidik Bu Aisha.

"Enggak."

Bu Aisha kemudian duduk di kursi yang sempat Kamila tempati sebelumnya, memandang Anfal dengan penuh tanya.

"Udah setahun loh kalian temenan, tapi sikap kamu masih gitu-gitu aja. Mau sampai kapan kamu bersikap dingin begitu sama Kamila?"

"Mama—"

"Karena kamu takut bikin Kamila berharap? Karena di hati kamu cuma ada Maira? Pasti itu kan jawaban kamu?"

Anfal terdiam, karena tebakan ibunya benar.

"Anfal, bukannya Mama gak suka sama Maira, tapi ada baiknya kamu mulai belajar buka hati pada perempuan lain saja."

Membulat mata Anfal mendengar perkataan ibunya. "Maksud Mama?" tanyanya, tidak mengerti.

Bu Aisha mengembuskan napas berat. "Kamu pikir saja, sampai sekarang Maira masih belum mau menerima kamu kembali. Bagaimana kalau dia tidak akan pernah mau membuka hatinya untuk kamu lagi? Mau sampai kapan kamu nunggu dia, Fal?"

Anfal menggeleng, menepis kata-kata ibunya. "Enggak, Ma. Aku pasti masih punya kesempatan, aku cuma mau menikah sama Maira, dan aku akan selalu sabar menunggu sampai dia benar-benar siap."

"Kenapa kamu bisa begitu yakin? Bagaimana kalau di hatinya sekarang ada lelaki lain, dan itu bukan kamu? Apakah kamu siap, dengan kenyataan itu?"

Selama ini yang Anfal tahu, Maira berteman dengan laki-laki selain dirinya hanyalah Abbas. Apakah mungkin, jika Maira memiliki perasaan pada Abbas? Harus Anfal akui, Abbas adalah orang yang mudah dicintai dan sangat baik kepada siapa saja. Bukan hal tidak mungkin kalau Maira mengaguminya, apalagi hubungan Abbas dan Haidar pun begitu akrab. Namun, sebaik apapun Abbas, tetap saja Anfal tidak suka dan tidak rela kalau Maira harus jatuh hati pada lelaki itu. Tidak! Jangan sampai hal itu terjadi! Maira pasti masih memiliki rasa pada Anfal, Maira pasti mau menerima Anfal kembali, Anfal hanya perlu bersabar untuk menantikan hari itu tiba.

"Anfal?"

"Ma, Maira hanya akan menjadi milik aku, tidak akan menjadi milik lelaki manapun."



Beb, ini hanya cerita fiksi, bawa santai dan nikmati saja ya. Kalo bikin eneg, ya wis tinggalkan❤️

Takut Salah SinggahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang