44. Kerasukan?

2.3K 597 189
                                        

Judul part ini agak gimana gitu, berasa kayak cerita horor, wkwkwk.

...

Abbas duduk di sudut kamarnya sambil memeluk kedua lutut, menunduk, lalu kembali mendongak dan meremas rambutnya. Dia tahu, inilah konsekuensi yang akan dia dapatkan karena telah menyimpan rahasia pada Maira. Dia pantas dibenci, karena dia yakin Maira pasti sudah sangat kecewa padanya.

Sepertinya Abbas memang harus sadar diri, sebab sejak awal yang lebih berhak untuk mendapatkan Maira adalah Anfal, bukan dirinya. Anfal yang lebih Haidar cintai, sangat wajar karena Anfal adalah ayah kandungnya. Sikap Anfal di masa lalu memang buruk, tapi kini lelaki itu telah berubah. Dari segi materi, Anfal jelas jauh lebih bisa menjamin kehidupan untuk Maira dan Haidar. Dia lelaki idaman banyak perempuan, mungkinkah Maira masih tidak akan bahagia jika memiliki pasangan seperti Anfal?

Membuang napas gusar, lelaki itu kemudian bangkit dari duduknya, dan berjalan keluar kost-an, pergi ke rumah Anfal.

...

Karena jam sudah menunjukkan pukul 23:17, keadaan rumah megah itu pun terlihat nampak sepi. Hanya beberapa pekerja saja yang masih terjaga karena shift malam. Semula Abbas pikir Anfal sudah tidur, tapi ternyata belum. Kamar lelaki itu bahkan tidak terkunci, dan Abbas menemukan Anfal tengah melamun di balkon kamarnya.

Tirai-tirai jendela berkibar tertiup angin yang berembus kencang, malam ini cuaca terasa sangat dingin. Abbas menghampiri, lalu berdiri di sampingnya.

"Bisa gue tebak, kalo lo ngelamun tengah malam kayak gini, pasti lagi banyak masalah."

Anfal mengalihkan pandangannya pada Abbas yang masih memandang ke depan. Wajah lelaki itu ditatap tajam, sudah lah cukup hari ini dia amat sakit karena pernyataan Maira, lalu kenapa Abbas harus datang? Sumpah, Anfal benar-benar merasa semakin benci pada sepupunya itu. Dia sungguh tidak habis pikir, bagaimana bisa Abbas mengambil hati Maira? Kenapa Abbas tidak jatuh cinta pada perempuan lain saja?!

"Iya, dan semua sumber masalah gue datang karena lo."

"Maksudnya?"

Naik turun napas Anfal saat ini, lelaki itu berusaha sekuat mungkin untuk mengontrol emosinya. Namun, tidak bisa! Dia tarik kerah baju Abbas begitu kuat, tatapan tajam masih dipertahankan, seperti elang yang siap menerkam mangsanya kapan saja.

"Kenapa lo harus cinta sama Maira?! Kenapa, hah?!!"

Abbas hanya menautkan kedua alisnya sambil menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan sikap Anfal. Kenapa dia baru begitu marah sekarang? Bukankah sudah hampir setahun dia tahu kalau Abbas juga mencintai Maira? Apakah mungkin Anfal kerasukan karena melamun tengah malam begini? Haruskah Abbas meruqyahnya sekarang?

Bugh!

Satu tonjokan keras melayang pada wajah Abbas, sampai tubuh lelaki itu sedikit terdorong ke belakang. Abbas mengernyit merasakan perih di sebelah pipinya karena tonjokan itu, tapi bukannya membalas, dia malah mengelus dada sambil terus beristighfar. Dalam benaknya saat ini dia makin yakin kalau Anfal sedang kerasukan. Ah, Abbas harus segera mengambil air wudhu untuk meruqyahnya. Baru Abbas berjalan satu langkah, tiba-tiba saja punggungnya ditendang begitu kuat sampai dia jatuh tersungkur.

"Sumpah gue merinding banget, setan mana yang masuk ke raga lo, Fal?" tanya Abbas, sambil menatap Anfal penuh rasa ngeri.

Ketika Anfal melangkah mendekati, dengan cepat Abbas berusaha bangkit.

Takut Salah SinggahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang