27. Bersaing

3.6K 814 121
                                        

Sepulang dari rumah Binar, Anfal langsung bertolak ke indekos Abbas. Semua masalah ini harus segera diselesaikan, Anfal harus tahu bagaimana hubungan antara Maira dan Abbas.

Karena gang kecil yang hanya bisa dimasuki kendaraan roda dua, Anfal pun memarkirkan mobilnya di halaman pemilik toko depan gang seperti biasa. Dia menyusuri gang kecil itu dengan berbagai macam persoalan yang berkecamuk dalam pikiran.

"Rasa itu belum hilang kan, Mai? Masih ada kan yang tersisa, walau sedikit?"

Maira tidak ada memandang wajah Anfal, sejak tadi dia terus menunduk.

"Kenapa kamu menanyakan hal itu? Bukankah saat pertama kali kamu mengatakan cinta padaku, kamu tidak benar-benar mencintai aku?"

"Aku menyesal, aku salah saat itu."

"Ya, kamu salah, dan aku pun salah karena semudah itu jatuh cinta sama kamu. Dan atas kesalahan aku itu, aku belajar untuk tidak mau lagi jatuh cinta pada orang yang salah."

Tanpa sempat mendengar apa yang ingin Anfal katakan lagi, dengan segera Maira meminta Anfal untuk pergi, lalu dia bergegas masuk ke dalam. Anfal terdiam, sangat tidak puas dengan ucapan Maira. Karena dia merasa belum menemukan jawaban atas pertanyaannya. Kenapa Maira tidak menjawab pertanyaannya? Serumit itu kah apa yang dia tanyakan?

Kamar indekos Abbas sedikit terbuka, dan di depannya terdapat sepatu lusuh. Bisa dipastikan, pemiliknya ada di dalam.

Tanpa mengucapkan salam, atau basa-basi, Anfal masuk ke dalam setelah membuka sepatunya.

Abbas menatapnya sekilas, dan kembali mengalihkan pandangannya pada laptop. Anfal berdecak, lalu menutup laptop itu tanpa permisi.

"Sejak kapan lo berteman sama Maira?" tanya Anfal to the poin.

Abbas menghela napas. Sudah dia duga, ini lah yang akan lelaki itu tanyakan.

"Sejak SMA."

Lagi, Anfal berdecak. "Okay, sejak kapan lo tau Maira ada di Jakarta?" tanyanya.

"Sejak Maira ada di Jakarta."

Sial. Kenapa Anfal jadi sebal pada Abbas?

"Lo tau kan gue cinta sama dia?"

"Terus?"

"Terus apa maksud lo deketin dia?"

"Karena gue juga cinta sama dia."

Anfal menggeleng, tidak terima.

"Enggak, lo tau apa yang udah terjadi antara gue dan Maira. Masa lo jatuh cinta sama dia sih? Gak ada cewek lain apa?"

"Sorry, tapi bukannya lo udah gak ada hubungan apa-apa lagi ya sama Maira? So, gue berhak dong jatuh cinta sama dia."

"Gak ada hubungan lo bilang? Terus Haidar? Dia anak gue, Bas!"

Membayangkan seandainya Maira mencintai Abbas, lalu mereka menikah, dan Haidar akan memanggil Abbas dengan panggilan 'Papa'. Sumpah, rasanya Anfal mau gila kalau semua itu benar terjadi. Jangankan mendengar Haidar memanggil 'Papa' pada orang lain, melihat Haidar dekat dengan orang lain saja Anfal tidak rela.

Abbas hanya tersenyum santai, seolah tidak ada beban sama sekali.

"Anak? Tapi apa dia pernah panggil lo 'Papa' atau sejenisnya? Enggak, kan? Dia panggil lo 'Paman' kan? Itu berarti, kita sama aja."

"Enggak, gue punya ikatan darah sama dia. Dan gak ada yang berhak dipanggil 'Papa' oleh Haidar selain gue."

"Lo punya hak apa atas Haidar? Sejak bayi sampai detik ini hanya Maira yang merawatnya. Jadi, lo gak punya hak untuk larang Haidar panggil siapapun dengan sebutan 'Papa' selama dia mau."

"Bas, kita saudara, gue benci kalau harus bersaing sama saudara sendiri."

Abbas terkekeh singkat. "Jadi lo merasa tersaingi sama gue?" tanyanya tidak habis pikir.

"Gue cinta sama Maira, dan gue mau liat dia selalu bahagia. Kalau dia gak cinta sama gue, dan lebih milih lelaki lain, ya it's okay. Karena kalau dia bahagia, gue pun akan ikut bahagia. Itu sih yang gue tau tentang cinta, jadi gue gak pernah ngerasa bersaing dengan siapapun buat dapetin dia. Mungkin, kita beda pendapat."

Terdiam Anfal mendengar perkataan sepupunya. Dia mengaku, dia mencintai Maira, tapi hatinya tidak akan selapang itu untuk membiarkan Maira menjadi milik lelaki lain. Karena bagi Anfal, cinta adalah memiliki dan mempertahankan. Abbas benar, mereka memiliki pendapat yang berbeda soal cinta. Dan pertanyaannya, siapa yang benar? Siapa yang lebih tulus?

"Apapun alasan lo, intinya gue gak mau lo liat lo terlalu dekat dengan Maira dan Haidar."

"Dan apapun yang lo bilang, intinya lo gak ada hak sih buat ngomong gitu," balas Abbas, sekadar menyakinkan Anfal jika Maira memang bukan siapa-siapanya.

Anfal menatapnya tajam, lalu membuang napas gusar. Berdebat dengan Abbas memang hanya membuat lelah, daripada memperkeruh keadaan, dia pun akhirnya memilih bungkam. Tubuhnya dihempaskan ke kasur busa tipis di sana, lalu matanya lurus menatap langit-langit kamar. Jika dia percaya Maira masih mencintainya, harusnya dia tidak perlu merasa bersaing dengan lelaki manapun untuk mendapatkan Maira. Dan jika Maira tidak mencintainya, harusnya dia juga bisa berlapang dada seperti Abbas, yang akan ikut bahagia kalau perempuan yang dia cintai bahagia, meski tidak bersamanya. Sayangnya, dia tidak bisa seperti itu.

Sejak beberapa tahun lalu dambaan terbesarnya adalah hidup bersama Maira dan Haidar di bawah atap yang sama. Kalau itu tidak terwujud, lalu apalagi tujuannya hidup?

Memejamkan mata sejenak, dalam hati dia berdoa kepada Tuhan agar keinginannya itu bisa terwujud, semoga Tuhan mengabulkan doanya.

"Fal, lo mau tidur di sini?" tanya Abbas, menatap Anfal yang masih memejamkan matanya.

Anfal menggeleng. "Enggak, sejak Papa gak ada, Mama gak pernah mau tinggal sendirian." jawabnya.

"Pekerja di rumah lo kan banyak."

"Iya sih, tapi tetap aja rasanya beda. Lo dengar sendiri kan dua hari setelah kepergian Papa, Mama nyuruh gue buat gak nyerah minta kesempatan kedua sama Maira. Mama udah sayang sama Haidar, dia juga berharap gue bisa nikah sama Maira, biar rumah gak sepi lagi. Biar Mama, gak ngerasa kesepian lagi."

Abbas mendengar percakapan hari itu, karena dia juga ada di sana. Dan mengingat kembali harapan besar Bu Aisha, Abbas jadi merasa tidak tega jika seandainya Anfal tidak lagi diberi kesempatan oleh Maira. Entahlah, dia mencintai Maira, tapi dia juga tidak mau menyakiti orang lain kalau suatu saat dirinya bisa mendapatkan Maira, apalagi menyakiti keluarganya sendiri. Sial, kenapa kisah cintanya jadi serumit ini sih?

Tidak, selagi ada kesempatan, Abbas tidak boleh menyerahkan Maira kepada lelaki lain. Sekali-kali, dia juga berhak egois, karena ini demi masa depannya.

Pertanyaannya sekarang adalah, kepada siapa hati Maira akan berlabuh?

Takut Salah SinggahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang