Sebenarnya Anfal sudah berusaha keras agar Maira tidak pergi, tapi Maira bilang dia harus bekerja. Akhirnya, dengan berat Anfal membiarkannya pergi, dengan janji setelah pulang kerja Maira harus kembali menjenguknya. Maira mengiyakan saja, agar tidak mempersulit hidupnya.
Dan seperti apa yang sudah dikatakan, Abbas masih menunggunya di depan rumah sakit, padahal dia cukup lama di ruang rawat Anfal.
"Orang sakit itu bikin masalah ya? Kok, lama banget?" tanya Abbas, saat dirinya dan Maira sudah memasuki angkutan umum.
"Maaf ya, udah bikin kamu nunggu lama."
Semakin mengenal Maira, Abbas makin tahu bagaimana baiknya perempuan itu. Daripada menyalahkan orang lain atau memperpanjang masalah, Maira lebih suka meminta maaf duluan, padahal tidak selalu dia yang berbuat salah.
"Enggak masalah kok," ujar Abbas, lalu tersenyum. Hilang sudah rasa kesalnya karena dibuat lama menunggu, jika sudah melihat wajah manis Maira. Sumpah, dia tidak pernah bisa marah apalagi kesal pada perempuan di depannya ini.
"Mai, libur semester ini aku ada rencana mau pulang kampung ke Bandung."
"Lho, bukannya kamu bilang, kalo rumah almarhum kakek kamu di Bandung, disewakan ya? Kamu mau pulang kampung ke rumah siapa?"
Abbas tidak bisa menahan senyumnya, dia senang, sekaligus tidak percaya jika Maira masih mengingat apa yang pernah dia ceritakan beberapa bulan lalu.
"Masa sewanya udah habis dua minggu lalu, jadi mereka udah ninggalin rumah itu."
"Enggak di perpanjang lagi?"
Enggak, Mai. Karena aku sudah merencanakan hal indah untuk kehidupan kita.
"Enggak."
Maira hanya mengangguk paham, tanpa mengalihkan pandangannya pada jalanan.
"Mai, mau gak kamu sama Haidar ikut aku ke Bandung?"
"Hah?"
"Bu Aini perantau, anaknya sekolah di sini. Dia pasti juga bakal pulang kampung, kan? Jadi, rumah makannya bakal tutup dan kamu juga libur. Mau ya?"
"Tapi—"
"Selama tinggal di Jakarta, aku gak pernah liat kamu pergi liburan. Haidar pasti akan senang, Mai. Kamu tau, rumah aku dekat perkebunan teh, udara di sana sejuk banget. Memangnya, kamu gak kangen ya sama suasana Bandung? Kita bisa pergi ke taman balai kota, atau ke tempat tinggal kamu dulu?"
"Bas, aku gak bisa."
"Kenapa? Oh, apa kamu udah ada rencana liburan sama Anfal?"
Maira berdecak pelan. "Enggaklah. Sekarang aja dia lagi sakit, mana bisa pergi liburan," katanya kesal.
"Berarti, kalau gak sakit kamu akan pergi liburan sama dia?"
"Apaan sih, Bas. Ya, enggak lah."
"Terus, kenapa kamu gak mau ikut aku ke Bandung?"
"Aku mau tidur di mana nanti? Gak mungkin kan tidur di rumah kamu?"
Abbas terkekeh, apakah hanya itu alasan Maira tidak mau ikut dengannya?
"Kalau gak tidur di rumah aku, kamu mau tidur di mana?"
"Lho, kok kamu malah balik tanya sih? Ya, gak tau lah."
Demi apapun ekspresi Maira saat ini menggemaskan sekali. Ingin rasa Abbas memeluk andai Maira sudah jadi istrinya.
"Tenang aja, Mai. Kamu sama Haidar tidur di rumah aku, aku bakal tidur di rumah temen ku, kok."
Maira kembali memandang Abbas, penuh selidik. Awas saja jika dia berbohong.
"Nanti aku pikirkan lagi."
×××
Sepulang kerja, tanpa sempat mandi apalagi istirahat, Maira langsung bertolak ke rumah sakit karena takut Haidar menunggunya lama.
Setibanya di ruang rawat VVIP itu, dilihatnya Haidar tengah asyik berbincang dengan Anfal, hanya berdua. Anak itu bahkan terlihat seperti sudah mandi, karena tidak lagi memakai seragam sekolah dan rambutnya masih agak basah. Namun, baju siapa yang dia kenakan? Maira belum pernah sebelumnya melihat Haidar mengenakan kaus hitam serta jeans panjang yang terlihat masih baru dan bermerek itu.
"Assalamualaikum," sapa Maira, mengalihkan perhatian Anfal dan Haidar.
"Waalaikumsalam."
Haidar tersenyum lebar, lalu berlari dan memeluk ibunya.
"Mama, tadi aku abis ke mall sama Nenek, terus dibeliin banyak baju sama mainan, donat sama es krim juga. Donatnya enak banget, Nenek juga beliin buat Mama."
Anfal terus tersenyum mendengar cerita Haidar pada ibunya. Terlihat anak itu sangat bahagia dan antusias. Lalu, dia meminta ibunya untuk duduk.
"Donat itu emang enak, tapi lebih enak bubur buatan Mama kamu, Sayang," ujar Anfal, sambil mengusap kepala Haidar.
Maira hanya diam, tidak tahu harus bicara apa. Dia ingin mengajak Haidar pulang, tapi saat tahu jika Bu Aisha tidak ada di sini, rasanya sangat jahat kalau Maira meninggalkan Anfal sendirian, sebab kondisi lelaki itu masih belum pulih.
Anfal memandang wajah Maira, paras cantik perempuan itu terlihat sangat kelelahan. Kerudung oranye yang sudah tampak kusut, lingkaran hitam di bawah kelopak mata, keringat membasahi dahi. Sungguh, rasanya sakit setiap kali melihat perempuan yang dicintainya kelelahan karena seharian sudah bekerja, dengan gaji yang tidak sesuai dari lelahnya. Ingin sekali Anfal meminta Maira berhenti bekerja, biar dia yang menanggung kehidupannya juga kehidupan Haidar. Namun, setiap kali Anfal mencoba membujuk Maira agar berhenti kerja, dengan halus Maira malah berkata, bahwa Anfal tidak punya hak untuk memintanya berhenti.
Anfal harus sadar dan sabar, bahwa hingga detik ini Maira masih tetap sama pendiriannya: menganggap Anfal tidak lebih dari teman. Itu pun harusnya bisa Anfal sangat syukuri, karena Maira masih mau berteman dengannya.
"Gimana keadaan kamu? Apa yang masih sakit?" tanya Maira, membuyarkan lamunan Anfal.
Iris perempuan itu ditatap dalam. "Hati aku, Mai. Sakit banget liat kamu kecapekan kayak gini," jawabnya, tidak nyambung.
"Ish, jawab yang serius dong," kesal Maira.
Haidar yang mendengarnya hanya terkekeh, lucu melihat wajah cemberut ibunya.
"Kenapa kamu tanya itu? Khawatir sama kondisi aku?"
"Kamu masih lama dirawat di sini?"
Anfal terus tersenyum, sangat bahagia karena pertanyaan Maira. Mungkinkah Maira peduli pada keadaannya?
"Abbas ngajak ke Bandung saat Haidar libur semester nanti, kalo kamu masih di rawat—"
"Jangan Mai, jangan mau!" potong Anfal, cepat.
"Kenapa?"
"Kamu sama Haidar bisa liburan sama aku, gak perlu sama lelaki itu."
"Mana bisa? Kamu aja masih sakit."
"Sembuh, Mai. Aku yakin secepatnya aku akan sembuh."
Maira menggeleng, tubuh Anfal masih dipenuhi luka, bukan hanya luka luar, tapi juga luka dalam. Rasanya tidak mungkin lelaki itu bisa pulih dalam waktu cepat. Lagipula, kalau pun dia sehat, Maira tetap tidak akan bisa pergi bersamanya, karena Abbas yang sudah lebih dulu mengajaknya.
"Anfal, aku gak bisa tolak ajakan Abbas, jadi tolong jangan memaksakan diri," ucap Maira tegas, lalu memandang wajah anaknya. "Sayang, kamu setuju gak libur sekolah nanti kita pergi ke Bandung sama Paman Abbas?" tanyanya.
Anfal berharap Haidar menggeleng, tapi harapannya sirna saat melihat anak itu malah mengangguk disertai wajah bahagia.
"Setuju dong, Ma! Yeay, akhirnya aku bisa pulang kampung kayak temen-temen!"
Sumpah demi apapun Anfal sangat tidak rela kalau hal itu terjadi. Tidak! Dia harus segera sembuh dan membatalkan rencana itu, Abbas tidak boleh membawa Maira dan Haidar ke Bandung. Karena seharusnya, Anfal yang melakukan hal itu. Sial sungguh sial, kenapa coba dia harus bersaing dengan sepupunya sendiri?
KAMU SEDANG MEMBACA
Takut Salah Singgah
Romance(Sekuel Di Usia 16) Pengalaman pahit sekaligus menyakitkan di masa lalu membuat Maira tumbuh menjadi perempuan yang sulit untuk kembali jatuh cinta, dan beranggapan jika semua lelaki sama; manis diawal, lalu kemudian menyakiti. Jika dia terus berpik...
