Apa yang Maira takutkan terjadi, Haidar histeris, menangis, sampai meronta-ronta begitu hebat saat melihat kondisi Anfal yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Melihat reaksi anaknya sebegitu sedihnya, Maira pun jadi ikut sedih. Maira memeluknya, lalu memintanya untuk tenang. Bu Aisha yang sejak tadi berdiri di belakangnya hanya bisa membekap mulut menahan tangis.
"Sayang, jangan seperti ini," pinta Maira.
Haidar masih sesenggukan, bahunya bergetar hebat. Dia tidak bisa melihat Anfal begini, dia tidak mau kehilangan Anfal. Haidar sangat menyayangi Anfal, jelas saja dia sangat sedih melihat kondisi Anfal kritis seperti ini.
Tidak! Haidar harus membangunkannya, paman kesayangannya itu tidak boleh tidur terlalu lama. Untuk pertama kalinya, Haidar membantah perintah sang ibu. Dia berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan sang ibu, lalu kembali mendekati Anfal dan menarik-narik selimut yang menutupi sebagian tubuh Anfal.
Maaf, kalau Paman terganggu, tapi Paman harus bangun. Aku tau sekarang Paman lagi sakit, tapi Paman gak boleh pergi.
"Bangun Paman, bangun! Paman gak boleh sakit!!"
Maira menggeleng tidak percaya dengan apa yang dilakukan anaknya. Sebelum dokter datang melihat kekacauan ini, segera Maira tarik tangan anaknya, membawa keluar dari ruangan itu.
Dengan seragam sekolah yang sudah berantakan, rambut kusut, air mata bercucuran, Haidar terus menoleh ke belakang saat ibunya terus menarik tangannya.
Ya Allah, sembuhkan Paman Anfal, jangan bawa dia pergi.
"Haidar, Mama kan sudah bilang, ini rumah sakit, jangan bersikap seperti itu. Kamu mau dimarahi dokter?" tanya Maira, setelah membawa Haidar duduk pada kursi yang berjejer di samping koridor.
Haidar menggeleng, baru menyadari kesalahannya.
"Kamu lihat sendiri kan, Paman Anfal sedang sakit, dia butuh banyak istirahat, terus kenapa kamu malah teriak-teriak seperti tadi?"
Lagi-lagi Haidar menggeleng, dia tidak tahu harus menjawab apa, yang dia inginkan sekarang hanya terus menangis karena perasaannya sangat sakit.
"Kalau kamu sayang sama dia, gak mau kehilangan dia, jangan begitu ... doain dia, biar cepat sembuh."
Haidar lalu mengusap air matanya, dia pandang wajah sang ibu lekat-lekat.
"Iya, Ma. Aku mau doain Paman Anfal."
Maira tersenyum, lalu mengusap rambut anaknya.
"Kita berdoa di masjid yuk, sekalian salat zuhur."
Haidar melompat dari kursinya, lalu menarik tangan sang ibu tidak sabaran.
"Ayo, Ma!"
×××
Menjelang malam akhirnya kondisi Anfal membaik, dia sudah sadar, bahkan bisa tersenyum saat melihat Haidar ada di sampingnya. Jika melihat Haidar, rasanya sebanyak apapun luka baik di tubuh atau hatinya, semua tidak akan menjadi sakit, sebab Haidar lah penyembuhnya.
Haidar sedikit membungkuk agar lebih dekat dengan Anfal, lalu dia membisikkan sesuatu hingga Maira dan Bu Aisha hanya bisa tersenyum karena tidak mendengar apa yang dia katakan pada Anfal.
"Paman, tadi Nenek bilang doa anak saleh bakal cepat dikabulkan. Hari ini aku berdoa, minta sama Allah biar Paman cepat sadar dan sembuh, terus Allah mengabulkan doa aku. Berarti, aku anak saleh ya?"
"Iya, dong, Sayang ...." ucap Anfal begitu lemah, menahan sakit di sekujur tubuhnya, tapi dia tetap terus tersenyum.
"Tapi kata orang-orang, aku anak haram."
Senyum Anfal langsung sirna mendengar pengakuan itu.
"Siapa yang bilang seperti itu?"
Haidar terdiam. Banyak, tentu saja. Namun, yang masih sangat Haidar ingat adalah ucapan Hanum. Sebab bukan sekali dua kali wanita itu menyebutnya anak haram, tapi sangat sering jika ibunya sedang tidak ada di rumah. Huft, untung saja sekarang Haidar tidak lagi tinggal di sana. Rasanya Haidar selalu takut jika membayangkan wajah wanita itu beserta dua anaknya.
"Sayang, katakan siapa?"
"Orang-orang."
Jika sejak awal aku mau bertanggung jawab, pasti Haidar tidak akan merasakan penderitaan ini. Ya Allah, ampunilah aku.
"Paman jangan nangis," pinta Haidar, lalu mengusap air mata yang mengalir di wajah Anfal dengan lembut.
Sumpah, dia tidak ada niatan untuk membuat Anfal sedih.
"Sini Sayang, Paman mau peluk kamu." Dengan lemah Anfal merentangkan kedua tangannya, bersiap menyambut pelukan Haidar.
Haidar memeluknya pelan, karena takut menyakiti luka-luka di tubuhnya.
"Boleh Paman katakan sesuatu?" tanya Anfal, sambil mengusap lembut kepala Haidar.
"Apa?"
"Haidar bukan anak haram. Haidar sama seperti anak lainnya, yang Allah titipkan sebagai anugerah paling istimewa," bisik Anfal.
Haidar mendengarkan baik-baik. Apa yang Anfal ucapkan hampir sama dengan yang selalu ibunya ucapkan padanya. Seandainya saja dia bisa satu rumah dengan Anfal, lalu memanggilnya Papa, mungkin hidupnya akan terasa lebih menyenangkan. Namun, apakah sang ibu juga akan merasakan hal yang sama?
Di saat Anfal masih menikmati kehangatan pelukan Haidar, Maira mendekat, lalu meminta Haidar untuk melepaskannya.
"Eum, ini sudah malam, aku sama Haidar pulang dulu ya? Besok aku akan bawa dia ke sini lagi setelah pulang sekolah."
"Mai, besok pagi setelah mengantarkan Haidar sekolah, kamu bisa ke sini?" Anfal bertanya, masih belum mau melepaskan pelukannya dengan Haidar.
Maira menggeleng, dia harus kerja, tidak mungkin libur lagi.
"Aku harus kerja."
"Sebentar aja." Anfal terdengar begitu memohon.
"Untuk apa?"
Anfal diam, sekarang dia malah ragu untuk mengatakannya. Dia ingin bilang, kalau dia mau dibuatkan bubur oleh Maira. Dulu, waktu awal-awal berpacaran, Maira sering sekali membawakannya sarapan. Maira bilang, itu masakannya sendiri. Dan tidak bisa dipungkiri jika semua makanan yang Maira buat sangat enak, jadi daripada makan makanan rumah sakit yang hambar, tentu saja bubur buatan Maira pasti akan lebih lezat.
"Anfal, kok diem?"
Anfal tersenyum pada Maira. "Mai, mau gak, buatkan aku bubur, besok pagi?" tanyanya, lebih terdengar meminta.
Maira malah melirik Bu Aisha, dan Bu Aisha pun tersenyum sambil mengangguk.
"Insyaallah, tapi kalau aku bawa buburnya, kamu harus makan banyak ya, biar cepat sembuh," ucap Maira.
Anfal mengangguk, sangat bahagia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Takut Salah Singgah
Romance(Sekuel Di Usia 16) Pengalaman pahit sekaligus menyakitkan di masa lalu membuat Maira tumbuh menjadi perempuan yang sulit untuk kembali jatuh cinta, dan beranggapan jika semua lelaki sama; manis diawal, lalu kemudian menyakiti. Jika dia terus berpik...
