11. Egois?

4.8K 998 123
                                        

Sejak tinggal di rumah Binar, tidak ada lelahnya Maira terus mencoba mencari pekerjaan. Terhitung sudah hampir sebulan dia tinggal di Jakarta. Namun sayangnya, hingga kini dirinya belum juga dapat pekerjaan. Padahal Binar pun sudah mencoba membantu, tapi memang sepertinya belum rezeki untuk dia dapat kerja.

Dua hari lalu suami Binar pulang, dan kini lelaki itu masih ada di rumah. Benar apa yang Binar katakan, suaminya memang sangat baik dan ramah. Dia suka anak kecil, dan sangat tidak sabar ingin menjadi seorang ayah, tapi nahasnya Binar belum juga dipercaya untuk menjadi seorang ibu. Namun, meski begitu dia tetap sabar menunggu. Dan kehadiran Haidar di rumahnya seolah menjadi hiburan baru buatnya. Dari awal pertemuan saja mereka bisa menjadi begitu akrab. Entah kenapa, Maira malah tidak nyaman akan hal itu.

Seperti pagi di hari Minggu ini, Maira hanya bisa memandang Haidar dari kejauhan yang terlihat sedang asyik belajar menanam pohon bersama Galih (suami Binar) di halaman belakang rumah.

"Uncle, ini pohon apa?" tanya Haidar begitu penasaran setelah selesai menanam pohon yang masih sangat kecil.

"Pohon Belimbing. Haidar pernah coba buah itu?"

Haidar menggeleng. Nama buah itu terasa asing di telinganya.

"Belum. Seperti apa rasanya?"

Galih tersenyum hangat. "Manis, mengandung banyak air, dan segar. Tertarik nyobain?"

"Berarti, mirip semangka?"

"Oh, beda. Ini ada rasa asamnya juga, sedikit."

"Kalo gitu, aku gak mau nyobain deh, Uncle." Haidar tampak tidak tertarik lagi pada jenis buah itu. Dia tidak suka dengan rasa asam, meski sedikit, tetap saja baginya tidak enak.

"Kenapa kamu masih panggil Uncle? Panggil Papa saja, ya?" pinta Galih penuh harap.

Galih tahu nasib Haidar. Dan dari cerita istrinya, dia pun kini makin yakin jika Haidar sangat mendambakan sosok ayah. Oleh sebab itu, dirinya akan sangat bahagia jika Haidar mau memanggilnya 'Papa'. Meski mereka tidak memiliki ikatan darah, tapi Galih memang sudah menyayangi Haidar layaknya anak sendiri.

"Boleh?"

"Tentu, Nak."

Haidar tersenyum lebar, lalu memeluk tubuh Galih.

"Akhirnya aku punya Papa!"

Melihat kejadian itu, tentu Maira tidak tinggal diam.

"Haidar," panggil Maira, yang kini sudah berdiri di depan Haidar.

Haidar yang baru menyadari kehadiran ibunya itu langsung meleraikan pelukannya, lalu menatap ibunya lekat-lekat.

"Ayo cuci tangannya, kamu belum sarapan."

Tanpa meminta persetujuan, Maira segera menarik tangan Haidar, membawanya masuk ke kamar.

Setibanya di dalam kamar, Maira langsung mengunci pintu rapat-rapat. Dirinya kemudian duduk di kursi samping kasur, sementara Haidar masih berdiri dengan kepala ditundukkan.

"Mama gak suka kamu panggil Uncle Galih dengan sebutan Papa." ucap Maira penuh penekanan.

"Tapi Papa Galih yang minta, Ma."

"Haidar! Jangan panggil dia Papa! Dia bukan Papa kamu!" bentak Maira.

Haidar semakin menunduk begitu dalam. Bahunya sampai tersentak ketika mendengar bentakan keras ibunya. Mendengar nada penuh amarah disertai getaran itu membuat mata Haidar seketika terasa panas. Dan ya, anak itu pun mulai menangis.

Jari-jari mungilnya yang masih kotor berlumur tanah merah saling bertaut, seolah mencari kekuatan. Kenapa ibunya bisa se-marah ini? Apa kesalahannya begitu fatal? Apa salahnya dia memanggil Paman Galih dengan sebutan Papa?

Deru napas Maira terasa tersengal. Dia memandang anaknya, dan penyesalan itu pun muncul. Apa yang dia katakan barusan? Harusnya dia tidak perlu kan membentak anaknya?

Maira segera mendekati Haidar, lalu memeluknya penuh kasih.

"Maaf, Ma." lirih Haidar, masih belum berani menatap mata ibunya.

"Mama yang harusnya minta maaf, Sayang ... maafin Mama."

~

Menjelang sore Maira dan Binar duduk di beranda, mengobrol banyak hal. Dan kegiatan itu sudah seperti ritual wajib bagi keduanya. Binar senang sejak Maira tinggal di sini, karena dirinya tidak lagi merasa kesepian tiap kali suaminya harus pergi ke luar kota.

"Mas Galih seneng banget ada Haidar di sini. Sejak dia kenal Haidar, hampir tiap malem sebelum tidur dia selalu ceritain kegiatannya sama Haidar. Hae anak yang baik, dan sangat manis. Dia mudah sekali dicintai, kamu beruntung Mai punya anak seperti Haidar." ucap Binar, tatapannya lurus ke depan memandang beberapa tanaman bunga matahari yang telah menunduk karena senja mulai nampak.

Maira hanya tersenyum kecil, mengingat kejadian tadi pagi ketika dia membuat anaknya menangis, hatinya jadi sakit lagi. Dia merasa sangat bersalah, harusnya dia tidak perlu membentak Haidar.

"Kenapa kamu larang Haidar buat panggil Mas Galih 'Papa'? Mas Galih yang minta, Mai. Dan aku juga seneng kok dengar panggilan itu."

Binar bohong, itu yang ada dalam benak Maira saat ini, entah pikirannya benar atau tidak. Bayangkan saja, Haidar memanggil Binar dengan panggilan Aunty, lalu apa yang akan terjadi jika Haidar mulai membiasakan diri memanggil Galih dengan panggilan Papa?

Apa yang akan terjadi ketika Maira sedang bersama Binar dan Galih, lalu Haidar meneriakkan kata Mama dan Papa pada Maira dan Galih. Bukankah itu hal yang sangat aneh? Perasaan Binar tidak mungkin akan baik-baik saja, bukan?

"Kurang pantas, Nar." balas Maira.

"Kurang pantas gimana? Mai, please deh, jangan mikir macem-macem. Kita ini bersahabat udah lama, jadi aku gak akan keberatan kok kalo Haidar menganggap Mas Galih sebagai papanya."

"Enggak, Nar. Aku tetep gak suka dengernya."

"Tapi kalo hal itu bisa bikin Haidar bahagia, kenapa enggak? Mai, ingat, Haidar sangat mendambakan sosok yang bisa dia panggil Papa. Kamu nyadar gak sih? Sikap kamu selama ini tuh egois banget. Kalo kamu gak mau Haidar memanggil Mas Galih dengan panggilan Papa, apa kamu mau memberitahu siapa Papa Haidar. Enggak, kan?"

Maira terdiam, demi apapun ucapan Binar sangat menusuk ulu hatinya.

"Oke. Aku paham, kamu sakit hati atas sikap bajingan Kak Anfal, tapi sekarang dia udah berubah. Kalau pun kamu gak bisa terima dia lagi, seenggaknya kasih tau Haidar siapa ayah dia."

"Haidar berhak tau, Mai."

"Untuk apa? Untuk membuat dia makin menderita karena tahu jika sosok yang dia dambakan, dulu menginginkan dia tidak ada?"

"Mai, tapi Kak Anfal sekarang bukan seperti itu. Dia sangat sayang sama Haidar, dia juga ingin merawat Haidar. Aku bisa liat Mai dari matanya, dia benar-benar menyesali perbuatannya dan mau memulai semua dari awal."

Maira menggeleng, kedua telapak tangannya menutupi telinga. Raut wajahnya menyiratkan kegelisahan, nyatanya melupakan kenangan masa lalu itu amat sulit.

"Kalo kamu gak mau terima Kak Anfal, atau kamu juga gak mau Haidar memanggil Papa pada Mas Galih. Ya udah, jalan satu-satunya ya ... kamu belajar buka hati buat lelaki lain, untuk menjadi ayah Haidar."

"Maaf Mai kalo kamu gak nyaman sama ucapan aku, tapi aku cuma gak mau liat Haidar seperti ini, kasihan."

Binar lalu bangkit ketika motor suaminya masuk ke halaman rumah. Perempuan itu tersenyum dan melambaikan tangannya pada Haidar yang duduk di jok belakang, membawa plastik berisi mainan yang baru dibelikan Galih. Wajah Haidar tampak begitu bahagia, melihat hal itu, Maira pun segera menyembunyikan kesedihannya dan ikut tersenyum menyambut mereka.

Takut Salah SinggahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang