29

97.7K 2.9K 274
                                        

"Oh, jadi gitu ya. Sudah berani maen belakang," ucap Arsen dengan muka yang memerah menahan kesal menatap Nira.

"Maen belakang? Saya kan dari pintu depan pak. Lagian disini nggak ada pintu belakang loh," ucap Nira dengan polos mendengar ucapan Arsen.

Melihat raut kesal Arsen, Nira jadi heran. Kenapa datang-datang mukanya ditekuk gitu. Lagian tumben amat datang ke kosannya sepulang kerja.

"Heh, bocah. Ngapain kamu dari kamar calon istri saya?" tanya Arsen menatap pemuda tengil itu dengan kesal.

"Yaelah. Baru calon kan, Pak? Santai aja keles. Selama janur kuning belum berkibar, kan masih bisa ditikung," jawabnya dengan santai. "Dahlah. Sudah sore. Saya mau mandi dulu biar makin ganteng. Bye!!"

"Kamu!!!"

Melihat aura yang tidak menyenangkan, Nira langsung menarik Arsen ke kamarnya.

"Udah deh jangan ribut. Malu nanti di denger tetangga. Lagian bapak kok tumben sih ke sini."

"Kenapa? Biar kamu bisa bebas dengan lelaki itu?" tanya Arsen dengan sinis.

"Maksudnya? Oh, tadi dia cuma nganterin nasi goreng terus ngajak makan bareng. Gitu doang kok. Emang apa yang salah dengan itu?"

"Ya salah dong."

"Salah dimananya?"

"Ya ... ya salah!"

"Salah dimananya?"

"Berduaan dengan lelaki. Itu salahnya."

"Lah, sekarang juga kita sedang berduaan. Berarti kita salah dong?"

"Ya nggak gitu juga."

"Terus gimana dong?"

"Kamu .... Errrghhh. Sudah jangan dibahas. Sekarang mending beresin baju-baju kamu, mulai sekarang kamu tinggal di apartemen saya."

"Dih, ogah amat."

"Kok ogah?"

"Kemarin malam aja saya nggak bisa tidur. Gimana kalau tidur disana seterusnya. Nggak tidur-tidur yang ada. Nanti saya jadi zombi lagi. Hiiiii."

"Heh, sembarangan. Mana mungkin jadi zombi. Kebanyakan nonton film aneh pasti nih."

"Ya intinya saya nggak mau."

"Oh, biar kamu bisa deketan terus sama lelaki yang tadi gitu?"

"Ehmm, itu sih bonus."

"Niraaa!!"

"Kan kita belum sah, Pak. Masa iya kita tinggal seatap. Ogahhh. Nanti bapak nyolek-nyolek saya, trus saya jadi hamil gimana? Hiii."

"Pede amat kamu. Pengen banget saya colek?"

"Pokoknya gak mau. Bapak pulang aja sana."

"Kok kamu ngusir saya."

"Habis bapak ngeselin."

"Yaudah saya minta maaf. Kalau gitu kita keluar aja gimana nanti malam?"

"Nggak mau. Pengen di kamar aja. Lagi punya stok film terbaru. Mau ditamatin mumpung besok libur dan nggak ada tugas."

Arsen jadi terdiam. Bingung bagaimana lagi caranya menyanggah ucapan Nira. Heran juga sama ini bocah. Bisa-bisanya omongan dirinya di skak terus.

Arsen menarik napas panjang, lalu menghembuskan dengan perlahan.

"Saya mau mandi dulu. Awas ya. Bapak jangan ngintip."

"Siapa juga yang bakal ngintip. Kayak bagus aja badannya."

Omku MesumTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang