Terlalu sakit yang aku rasakan hingga air mata tidak sanggup untuk keluar. Itu yang aku rasakan sekarang, hanya menatap kosong keluar jendela taxi yang ku tumpangi.
Deringan ponsel di tas pun tidak aku hiraukan sama sekali. Aku butuh sendiri, aku butuh waktu dan aku butuh ketenangan.
"Sudah sampai, Mbak."
Aku memberikan dua lembar uang seratus ribuan. "Terimakasih, Pak," ucapku sembari tersenyum tipis.
Hal pertama yang aku rasakan saat menginjak halaman rumah Abi dan Umi adalah pulang, rasa rindu akan tempat dimana dirimu dulu mengadu dan berkelu kesah. Tanpa sadar air mataku menetes.
Dengan langkah pelan aku berjalan mendekati rumah sederhana yang gerbangnya terbuka lebar, seolah-olah memang menanti kehadiran ku datang.
Sesampainya di depan pintu, aku hanya mematung dan ragu untuk mengetuk. Setelah beberapa menit meyakinkan hati, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengetuk pintunya.
Tok..tok..tok
"Iya tunggu sebentar!"
Aku menunduk dan meremas ujung bajuku. Aku takut, aku takut Abi dan Umi akan sedih.
Ckklek
"Loh! Kayla!"
Aku mendongak dan segera berhambur ke pelukan wanita yang telah berjasa melahirkan ku ke dunia. Aku menahan tangis ku dengan menggigit bibir ku.
"Kamu kenapa di sini? Dimana suamimu?"
Aku melepaskan pelukan kami dan tersenyum. "Kayla izin menginap boleh?"
Umi menatapku dalam dan tak lama kemudian Umi mengangguk. "Boleh, Nduk. Rumah ini akan selalu terbuka untuk anak Umi satu-satunya."
Aku tersenyum dan bersyukur dalam hati Umi mau mengerti. Pasti Umi sudah bisa menebak apa yang terjadi padaku. Aku tidak pandai untuk berbohong dan menyembunyikan sesuatu darinya. Cepat atau lambat pasti Umi akan tahu.
"Ya sudah, kamu istirahat saja dulu. Pasti capek kan?" Aku mengangguk dan memeluk Umi sekali lagi.
"Terimakasih banyak, Umi. Kayla janji akan cerita."
Umi hanya mengangguk dan aku melangkah menuju lantai dua, dimana kamar ku berada. Tidak ada perubahan sama sekali, aku yakin Umi pasti yang membersihkan kamar ku selama aku tinggal dengan Mas Darren.
Mengingat pria itu, membuat rasa sakit di hati ku semakin nyeri.
"Ya Allah, mengapa Engkau memberikan cobaan yang begitu berat kepada hamba? Hamba mohon, berikanlah hamba-Mu ini kemudahan untuk menghadapinya. Aamiin."
🍁🍁🍁
Darren dan Shopia berjalan menuju apotek untuk menebus resep obat yang diberikan dokter.
"Smith, ada apa?"
Darren mengulas senyumnya dan menggeleng. "Tidak apa-apa."
Shopia berdecak sebal. "Aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja."
Sekali lagi Darren menggeleng pelan dan tersenyum tipis. Sejujurnya dia sendiri pun bingung. Entah kenapa dirinya tiba-tiba kepikiran dengan Kayla, istrinya.
"Sus, apa Anda melihat perempuan memakai jilbab warna pink dan warna baju yang sama keluar dari sini?"
"Saya tidak melihatnya, Dok."
"Akh! Dimana kamu?"
Darren menoleh penasaran dengan keributan itu. Dia melihat seorang pria berjas putih yang sepertinya salah satu dokter di sini sedang kalang kabut seperti mencari seseorang. Tapi, dia merasa familiar dengan wajah dokter itu. Ah! Bukannya dia dokter yang melamar istrinya di depannya sendiri?
KAMU SEDANG MEMBACA
Married with Mr. Bule [END]
Teen FictionJudul lama : Pernikahan atau Permainan Cover by Pinterest Aku tidak menyangka perjalanan study tour ku ke Bali akan mempertemukan ku dengan pria bule itu. Pria bule yang kini resmi menjadi suamiku bahkan disaat umurku belum genap 18 tahun. Berawal d...
![Married with Mr. Bule [END]](https://img.wattpad.com/cover/247897427-64-k89150.jpg)