Semenjak kejadian di kapal pada malam itu, Darren menjadi tertarik akan sosok perempuan yang ia tolong. Dan dia memutuskan untuk mengikuti kemanapun perempuan itu pergi. Seperti tidak ada kerjaan lain memang.
Tapi itu semua ia lakukan untuk menuntaskan rasa penasarannya. Kini mereka, Darren dan Alex sedang mengamati perempuan berjilbab itu dari mobil. Bukan mereka, lebih tepatnya hanya Darren. Karena sahabatnya ini sudah teler akibat arak yang mereka minum.
Mata birunya mengamati segala hal yang dilakukan perempuan berjilbab itu. Mulai dari berbincang-bincang dengan salah satu temannya dan melirik ke arahnya.
What?!
"Apa dia curiga?" gumam Darren.
Setelah perempuan itu ditarik menjauh oleh temannya, Darren bernapas lega. Kini ia memilih untuk turun dari mobil dengan mengenakan topi dan kacamata hitam.
"Sudah terlihat seperti penguntit belum?" Darren menyeringai melihat pantulan dirinya sendiri di spion mobilnya.
Matanya melirik ke arah Alex yang tertidur, tanpa membangunkan temannya. Darren bergegas mengikuti perempuan berjilbab tadi.
"Kemana perginya perempuan itu?" gumamnya dengan melirik ke sana kemari.
Langkah kakinya membawanya ke sebuah warung kecil. Ia memesan kopi hitam untuk menghangatkan badannya. Suasana pagi di Bedugul ini cukup dingin.
"Ini kopinya, Tuan."
Darren mengangguk dan memberikan uang sebesar lima puluh ribu pada penjual tersebut.
"Ini kembaliannya, Tuan." Penjual itu menyodorkan uang empat puluh ribu pada Darren.
"Tidak usah, ambil saja kembaliannya."
Tanpa menunggu jawaban dari penjual itu, Darren segera pergi dengan membawa cup berisi kopi panasnya.
Matanya tanpa sengaja melihat empat orang perempuan menaiki perahu. Salah satu di antara perempuan-perempuan itu ada yang menarik perhatiannya. Siapa lagi jika bukan perempuan berhijab yang sedari tadi ia cari.
Tanpa sadar Darren menyunggingkan senyumnya. Dengan sesekali menyeruput kopinya, mata birunya terus melihat segala kelakuan perempuan itu. Mulai dari berteriak karena ketakutan dan tertawa lepas bersama teman-temannya.
Melihat perempuan itu akan turun dari perahu, Darren memutuskan untuk segera kembali ke mobil dan pergi dari tempat itu. Bukan pergi, lebih tepatnya bersembunyi. Karena ia merasa perempuan itu curiga dengan keberadaan mobilnya.
"Eunghh, Dar__"
"Pindah!" serobot Darren dan mendorong tubuh Alex untuk duduk di kursi penumpang di sampingnya.
Alex masih setengah sadar saat didorong Darren, dan sialnya malah aset masa depannya kepentok persneling.
"SIALAN! ANU GUE SAKIT WOY!"
Tanpa mengindahkan teriakan pilu sahabatnya, Darren melajukan mobilnya ke sebuah lapangan yang untungnya tertutup semak-semak lumayan tinggi. Tapi masih bisa melihat ke arah perempuan berjilbab itu.
"Tega banget lo," ucap Alex dengan meringis kesakitan.
Darren hanya menatap sahabatnya dengan ekspresi datarnya. "Apa aku terlihat perduli?"
Ingin sekali Alex menonjok wajah datar milik Darren. Tapi ia masih sayang pada nyawanya.
"Kurang kerjaan banget lo ngikutin tuh cewek," gerutu Alex yang tidak digubris Darren sama sekali.
"Pindah cepetan!"
Alex menghela nafasnya kasar. "Tadi lo nyuruh gue pindah ke sini. Sekarang gue disuruh pindah ke situ lagi. Mau lo apaan sih?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Married with Mr. Bule [END]
Teen FictionJudul lama : Pernikahan atau Permainan Cover by Pinterest Aku tidak menyangka perjalanan study tour ku ke Bali akan mempertemukan ku dengan pria bule itu. Pria bule yang kini resmi menjadi suamiku bahkan disaat umurku belum genap 18 tahun. Berawal d...
![Married with Mr. Bule [END]](https://img.wattpad.com/cover/247897427-64-k89150.jpg)