"Kak, Kakak tidak apa-apa?"
Kami memutuskan untuk duduk sejenak di sebuah restoran. Aku tersenyum tipis ke arah Elen yang terlihat mengkhawatirkan ku.
"Enggak ko. Kakak baik-baik saja."
Mata Elen berkaca-kaca. "Apa Kakak selama ini sudah tahu tentang mereka?"
Aku mengalihkan tatapan ku ke arah lain tidak berani menatap adik ipar ku.
"Kak, kenapa Kakak diam saja kalau Kakak tahu?" Elen terus-terusan mencecar ku dengan pertanyaan.
"Bi..bisakah kita tidak membahas itu?" ucapku dengan tatapan kosong ke depan.
Elen langsung memeluk ku dengan erat. "Maaf, maaf Kak."
Tanpa ku sadari air mata yang sedari ku tahan luruh begitu saja. Sakit, hati ini sakit melihat suami yang ku cintai memilih wanita lain.
"Kayla."
Aku menghapus air mata ku dengan kasar. Aku dan Elen serentak menengok ke belakang dimana ada seorang perempuan berjalan ke arah kami.
"Siapa, Kak?"
"Katherine," gumamku.
"Kayla, kamu jalan keluar nggak ngajak-ngajak aku. Jahat banget ih." Sahabat ku langsung mengambil duduk di samping kanan ku. Tatapannya beralih ke Elen yang berada di samping ku.
"Siapa?" tanyanya padaku.
"Hai, gue Elen adik ipar Kayla." Elen tersenyum ramah sambil menyodorkan tangannya yang dibalas oleh Katherine.
"Gue Katherine, sahabat Kayla."
Elen mengangguk dan melepas jabat tangan mereka. Tatapan Katherine beralih padaku.
"Kalian berdua ngapain ke mall? Tumben juga Kayla mau diajak keluar, biasanya setiap diajak keluar nggak mau."
"Elen yang mengajak ku keluar. Sebenarnya kami bertiga dengan Mas Darren, tapi dia harus pulang lebih dulu karena ada urusan kantor," jawabku dengan sedikit kebohongan.
"Terus sekarang kalian mau pulang?"
Aku dan Elen mengangguk bersamaan.
"Bagaimana kalau aku antar? Kebetulan ke sini tadi bawa mobil sendiri," tawarnya.
Aku memandang Katherine dengan tidak enak hati. "Apa tidak merepotkan? Lagian arah rumahmu ke rumah ku berlawanan."
Katherine memutar bola matanya jengah. "Lo tuh kayak sama siapa aja. Gue sahabat lo sendiri. Udah sewajarnya gue bantu lo."
Aku memilih untuk mengalah setelah Katherine berbicara menggunakan 'lo-gue' yang artinya dia sudah kesal.
"Ya udah, tolong anterin kami pulang ya."
Katherine tersenyum lebar dan berlagak hormat. "Siap ayang beb!"
Aku hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Tatapan ku beralih ke Elen. "Ayo! Sahabat kakak akan mengantar kita pulang."
Elen mengangguk dan kami bertiga pun berjalan beriringan menuju parkiran. Ku amati sedari tadi Elen menjadi lebih diam setelah kedatangan Katherine. Mungkin karena dia tidak begitu nyaman dengan orang baru? Entahlah.
"Kay, kamu duduk depan. Em, Elen lo duduk belakang sendiri nggak apa-apa kan?"
Elen mengangguk sambil tersenyum. "Iya."
Mobil yang kami tumpangi membelah jalan raya yang tidak terlalu ramai karena memang hari ini tidak weekend. Berbicara tentang weekend, kenapa Katherine bisa di sini?
KAMU SEDANG MEMBACA
Married with Mr. Bule [END]
Novela JuvenilJudul lama : Pernikahan atau Permainan Cover by Pinterest Aku tidak menyangka perjalanan study tour ku ke Bali akan mempertemukan ku dengan pria bule itu. Pria bule yang kini resmi menjadi suamiku bahkan disaat umurku belum genap 18 tahun. Berawal d...
![Married with Mr. Bule [END]](https://img.wattpad.com/cover/247897427-64-k89150.jpg)