Sesampainya di depan rumah, kami disambut dengan keberadaan Mas Darren di teras. Jujur aku merasa terintimidasi saat matanya yang tajam itu menatap ku.
"Assalamu'alaikum."
Mas Darren tersenyum tipis sambil mencium kedua tangan Abi dan Umi. "Waalaikumsalam."
Aku mendekat ke arah suamiku dan mencium tangannya. "Mas enggak kerja?"
Mas Darren menggeleng sebagai jawaban. "Diantar siapa?" tanyanya dengan dingin.
Tak lama kemudian Aldo menghampiri kami dengan tas berisi pakaian kotor ku selama dirawat di rumah sakit.
"Ini taruh mana?"
Mas Darren menatap Aldo dengan tajam. "Biar saya yang bawa. Terimakasih sudah mengantar istri dan mertua saya. Perlu saya antar sampai gerbang?"
Aku menatap Aldo sekilas dan menangkupkan kedua tangan ku di dada sebagai permohonan maaf atas sikap Mas Darren. Aldo membalasnya dengan anggukan kepala dan tersenyum tipis.
"Yaudah Kay, gue pulang dulu. Sampaikan salam ke orang tua lo ya. Assalamu'alaikum," pamitnya.
"Waalaikumsalam."
Aldo mengangguk singkat saat menatap Mas Darren.
"Kenapa bisa diantar laki-laki itu?"
Aku menarik pelan tangan Mas Darren menyuruhnya untuk masuk ke dalam rumah. "Nanti Kayla jelaskan. Sekarang Kayla mau makan, laper."
Mas Darren hanya diam menurut saat tangannya ku tarik-tarik dari teras rumah ke ruang makan.
"Umi, Kayla lapar mau makan."
Umi yang sedang berkutat di dapur pun menoleh. "Iya ini Umi lagi panasin lauknya. Kayla kamu panggil Abi di halaman belakang ya."
Aku mengangguk dan meminta Mas Darren untuk duduk lebih dulu. Aku pun beranjak ke halaman belakang rumah dimana Abi sedang duduk sambil menikmati secangkir teh panas yang asapnya masih mengepul.
"Abi, sarapannya sudah siap."
Abi menengok ke arah ku dan melambaikan tangannya menyuruh ku untuk mendekat. "Duduk sini dulu. Abi ingin bicara sama kamu."
Aku pun duduk lesehan di samping Abi. "Mau bicara soal apa, Abi?"
"Bagaimana pernikahan kamu, Nduk? Apa kamu bahagia?" tanya Abi dengan tatapan teduhnya.
"Kayla bahagia, Abi. Namanya rumah tangga pasti ada saja cobaannya. Tapi Kayla yakin mampu menghadapinya," jawabku dengan tersenyum.
"Maafin Kayla Abi karena harus berbohong. Kayla tidak tahu apakah Kayla bahagia setelah menikah dengan Mas Darren atau tidak. Tapi semenjak kami menikah, banyak sekali cobaan datang. Jujur Kayla capek, Abi. Kayla tidak tahu sampai kapan Kayla akan bertahan," batinku.
"Loh! Kenapa malah duduk-duduk di sini? Makanannya sudah siap. Ayo masuk!" Umi datang membuyarkan lamunan ku.
"Eh! Iya Umi." Aku melirik ke arah Abi dan melalui tatapan matanya, Abi menyuruh ku untuk masuk lebih dulu.
Aku pun menyusul Umi dan membantunya membawakan beberapa piring berisi ayam kecap, tumis kangkung, tempe goreng dan sambal terasi. Tidak lama kemudian, Abi datang dan ikut bergabung bersama kami. Kalau tidak salah ini menjadi sarapan bersama pertama dengan Mas Darren yang berstatus sebagai suamiku.
Aku berinisiatif untuk mengambilkan Mas Darren nasi dan lauk pauknya.
"Mas segini sudah cukup?" Mas Darren mengangguk sebagai jawabannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married with Mr. Bule [END]
Teen FictionJudul lama : Pernikahan atau Permainan Cover by Pinterest Aku tidak menyangka perjalanan study tour ku ke Bali akan mempertemukan ku dengan pria bule itu. Pria bule yang kini resmi menjadi suamiku bahkan disaat umurku belum genap 18 tahun. Berawal d...
![Married with Mr. Bule [END]](https://img.wattpad.com/cover/247897427-64-k89150.jpg)