Banyak suster yang berlalu lalang. Para orang tua dari pasien terlihat duduk memenuhi kursi tunggu.
"Bagaimana dengan keadaannya, Dok?" tanyaku saat melihat dokter yang menangani Darren keluar dari ruang pemeriksaan.
"Pak Darren tidak apa-apa. Untung saja segera dibawa ke rumah sakit. Jika tidak, beliau akan kehabisan banyak darah."
Aku berucap syukur dalam hati. "Alhamdulillah Ya Allah."
"Kalau begitu saya boleh masuk, Dok?" tanyaku.
"Tentu saja boleh," jawab dokter pria itu dengan tersenyum ramah.
"Terimakasih, Dokter Abraham," ucapku dengan mengeja nama dokter itu.
"Sama-sama."
Tanpa menunggu dokter itu pergi, aku langsung masuk ke ruang rawat Darren. Aku melihatnya sedang duduk bersandar dengan ponsel di tangannya.
"Bagaimana keadaan kamu, Mas? Masih ada yang sakit?" tanyaku yang membuat Darren mengalihkan pandangannya.
"Tidak ada," jawabnya singkat.
Aku tidak berkata apa-apa lagi. Melihatnya yang sepertinya tidak suka ku ganggu, aku memilih untuk diam saja. Karena bosan, akhirnya aku membuka media sosialku yang sudah lama tidak ku buka.
"Muhammad Abraham?"
Aku membuka akun instagram milik orang yang meminta mengikutiku.
"Ini bukannya dokter tadi ya?" gumamku saat melihat beberapa postingan fotonya yang memakai jas putih khas seorang dokter.
Aku memperhatikan fotonya dengan seksama, hingga tangan seseorang merampas ponsel yang berada di genggamanku.
"Apa yang__"
Aku mengurungkan niatku untuk protes saat melihat Darren menatap ku dengan tajam.
"Suamimu sedang sakit dan kamu asik-asikkan memandangi foto pria lain?"
Aku mengernyitkan dahi tidak paham. "Kayla hanya memastikan pria yang ada di foto itu benar dokter yang memeriksa Mas tadi atau tidak."
Darren menggeram tidak suka. "Tetap saja kamu melihat fotonya. Kamu tahu bukan, hukum seorang wanita bersuami yang menatap pria lain?"
Aku terhenyak sesaat, sebelum sebuah kecupan ringan mendarat di pipi ku.
"Untuk apa punya suami tampan, kalau kamu masih melirik pria lain?"
🍁🍁🍁
Setelah kejadian dimana Mas Darren mengecup pipi ku tadi, sekarang dia menjadi lebih hangat. Hangat dalam artian, dia tidak lagi menganggapku seolah-olah tidak ada. Meskipun dia masih menunjukkan ekspresi datarnya itu.
Tok..tok..tok
Aku mengalihkan pandangan ku dari novel yang ku baca saat melihat dokter itu datang lagi.
"Permisi, saya datang untuk mengganti perban Pak Darren."
Aku mengangguk mempersilahkan. Dokter itu membuka perban di kaki Darren dengan telaten dan penuh hati-hati.
"Apakah masih terasa nyeri?" tanya dokter itu.
"Lumayan," jawab Darren ketus.
Dokter itu hanya tersenyum melihat respon tak ramah dari Darren.
"Sudah selesai."
Aku tersenyum pada dokter itu, tanpa menatap langsung matanya. "Terimakasih, Dok."
Aku mengantar dokter itu keluar, namun saat aku ingin kembali masuk, dokter itu memanggilku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married with Mr. Bule [END]
Fiksi RemajaJudul lama : Pernikahan atau Permainan Cover by Pinterest Aku tidak menyangka perjalanan study tour ku ke Bali akan mempertemukan ku dengan pria bule itu. Pria bule yang kini resmi menjadi suamiku bahkan disaat umurku belum genap 18 tahun. Berawal d...
![Married with Mr. Bule [END]](https://img.wattpad.com/cover/247897427-64-k89150.jpg)