Darren mengerjap-ngerjapkan matanya pelan. Matanya membulat sempurna saat jam menunjukkan pukul sepuluh. Merasa diperhatikan, ia menoleh dan melihat Shopia di depan pintu dengan senampan makanan yang terlihat mengepul.
"Hai, sudah bangun?" Shopia berjalan mendekat dan menaruh nampan berisi makanan itu di atas nakas samping ranjang.
Lalu ia menempelkan punggung tangannya ke jidat Darren. "Sudah turun," gumamnya.
Darren menepis pelan tangan itu. "Kenapa aku bisa ketiduran di sini?" tanyanya dengan mata memicing tajam.
Shopia menghela napas. "Kamu semalem demam Smith, suhu badan kamu naik."
Dia mengambil semangkuk bubur yang masih panas. "Ayo sarapan dulu terus minum obat."
Darren menatap Shopia dengan intens. "Kenapa kamu perduli? Dulu kamu tidak pernah mau mrngurusi ku saat sakit."
Shopia meletakkan dengan kasar mangkuk berisi bubur tadi ke nakas. "Kalau kamu tidak mau makan masakan ku terserah. Tapi jangan ragukan perhatian ku."
Setelah mengatakan itu, Shopia berlari keluar kamar meninggalkan Darren yang mematung. "Apa aku salah bicara?"
🍁🍁🍁
"Ke kantin yuk."
Aku mendongak dan membalas tatapan Katherine. "Yuk, mumpung belum terlalu ramai."
Sesampainya di kantin ternyata sudah ramai sekali.
"Kalau denger bel istirahat aja langsung gercep."
Aku mengangguk menyetujui. "Bener banget, apalagi bel pulang."
"Gak munafik sih, aku juga sama."
Aku tertawa dan Katherine melihat ku dengan dalam. Seketika aku menghentikan tawaku. "Kenapa natap aku kayak gitu?"
Katherine tersenyum. "Kamu cantik kalau ketawa."
Aku tersenyum risih dan mengalihkan pandangan ku ke arah lain.
"Mau pesan apa?"
"Samain aja," jawabku dengan singkat.
Tak lama terdengar suara langkah kaki menjauh dari tempat ku, aku menghela napas panjang.
"Kenapa aku risih dengan sikap Katherine ya? Apa karena aku ke-doktrin dengan perkataan Elen?" batinku.
"Wah-wah. Si jalang berani nunjukin batang hidungnya lagi nih guys."
Aku menatap Clarissa dan antek-anteknya dengan tajam. "Kalian kenapa sih ganggu aku terus?! Apa kalian gak ada kerjaan lain?!"
"Wow! Ternyata udah mulai berani ya sama gue." Clarissa semakin maju mendekati ku.
"Mau apa?!" tanyaku berusaha melawan rasa takut. Tapi tangan gemetar ku tidak bisa menyembunyikannya.
Saat Clarissa mengangkat tangannya ingin menamparku, tiba-tiba Aldo datang dan menahan tangannya.
"Lo sekali aja gak usah bikin keributan bisa?" Aldo menekan setiap perkataannya sambil menatap tajam Clarissa.
Seketika perempuan itu menciut takut.
"Gu..gue cuma mau ngasih pelajaran sama dia." Tunjuk Clarissa ke arah ku dengan tatapan bengis.
"Perempuan murahan kayak dia gak pantas sekolah di sini. Apalagi dia lagi hamil anak haramnya." Clarissa tersenyum remeh.
Seketika semuanya hening. Aku mematung di tempatku.
"Kenapa diem? Bener kan apa kata gue? Lo hamil anak haram."
KAMU SEDANG MEMBACA
Married with Mr. Bule [END]
Fiksi RemajaJudul lama : Pernikahan atau Permainan Cover by Pinterest Aku tidak menyangka perjalanan study tour ku ke Bali akan mempertemukan ku dengan pria bule itu. Pria bule yang kini resmi menjadi suamiku bahkan disaat umurku belum genap 18 tahun. Berawal d...
![Married with Mr. Bule [END]](https://img.wattpad.com/cover/247897427-64-k89150.jpg)