5

928 157 10
                                        

***

Celana jeans super pendek berpadu dengan sweater tebal berwarna hitam menjadi pakaiannya hari ini. Ia turun dari taksinya dengan sekeranjang peralatan mandi, bak aktris yang baru keluar dari vannya, ia mengibaskan rambut panjangnya. Ditutupnya pintu taksi itu, lantas melangkah ke dalam sauna tiga lantai dengan sepatu ketsnya.

"Kau benar-benar luar biasa Lisa," pujinya, sebab dirinya baru saja naik taksi untuk pergi ke sebuah sauna yang berjarak dua jam dari rumahnya. Hanya untuk menemui seorang pemain Go-Stop yang Jennie kenalkan, Lisa pergi sejauh itu dari rumahnya.

Sauna itu terlihat seperti sauna-sauna lainnya. Begitu pintunya di dorong, Lisa langsung bertemu dengan seorang resepsionis di meja depan. Ia keluarkan dompetnya dari sela sabun dalam keranjangnya lantas membayar uang sewanya. Lisa baru melangkah masuk setelah mendapatkan kunci loker serta pakaian dan handuknya.

Dengan satu pasang pakaian berwarna merah muda, gadis itu berbaur dengan seisi sauna. Awalnya ia mengisi perutnya di kedai, membeli semangkuk mie instan dengan telur rebus juga minuman dingin. Sembari menikmati karbohidrat gurih itu, ia amati orang-orang di sekitarnya, mencari Kim Jisoo yang Jennie sebutkan namanya kemarin.

Kim Jisoo pemilik sauna yang kelihatannya biasa-biasa saja itu. Merasa hari masih terlalu terang, selesai makan Lisa memutuskan untuk pergi ke sudut. Ia rebahkan tubuhnya di sana, berbaring menatap jamur di langit-langit sauna. Ia seharusnya pergi mandi, atau sekedar berendam di kolam air hangat sauna itu. Ia seharusnya bergabung dengan beberapa wanita paruh baya yang sedang bermain Go-Stop. Ia harusnya mulai melakukan sesuatu sekarang, namun tubuhnya terlalu malas untuk beraktivitas.

"Lakukan saja nanti, sekarang tidur saja," Lisa menyerah, perlahan-lahan mulai memejamkan matanya di sudut sauna yang tidak seberapa ramai itu. Hanya ada beberapa wanita paruh baya dan anak-anak di sauna siang ini.

Namun belum lama Lisa terlelap, gadis itu terbangun karena mimpi buruknya. Ia buka matanya, berkedip beberapa kali, menatap kosong pada sepasang mata yang juga menatapnya. Mata itu terlihat asing, keduanya berkedip memperhatikan Lisa yang masih berbaring.

"Kau mau memperkosaku?" tanya Lisa, bicara pada wanita berambut hitam pekat yang berjongkok di sebelahnya, memperhatikannya yang tadi terlelap.

"Tidak. Kenapa kau mencariku?" balas wanita itu.

"Kim Jisoo?"

"Kau gadis yang mencari Ghost, kan?"

Perlahan Lisa duduk, namun gadis yang bicara dengannya itu justru bangkit, berdiri kemudian melangkah meminta Lisa mengikutinya. Sembari membawa dompet serta handphonenya, Lisa mengikuti wanita yang juga memakai pakaian serba merah muda itu. Sesekali Kim Jisoo mengibaskan rambutnya sembari berjalan. Ia permainkan rambutnya sendiri, menggulungnya, mengibaskannya, menyisirnya dengan jemarinya.

Lisa hanya memperhatikannya dari belakang, mengikutinya sampai mereka tiba di sebuah ruang istirahat yang kosong. Ruang istirahat untuk karyawan serta pemilik sauna itu. Jisoo mempersilahkan Lisa untuk duduk, ia ambilkan sebotol yoghurt kecil untuk Lisa, menyajikannya, lantas duduk di depan Lisa.

"Ajari aku bermain Go-Stop, selama aku belajar akan ku berikan semua hasil permainanku padamu," pinta Lisa, tanpa berbasa-basi.

Kim Jisoo tentu sudah tahu alasannya datang, Jennie pasti sudah memberitahunya, tapi gadis itu tetap menunjukkan rasa terkejutnya. Bisa jadi, wanita itu terkejut karena tawaran Lisa yang menurutnya terlalu blak-blakan.

"Kau cepat belajar?" tanya si pemilik tempat sauna itu kemudian, setelah ia selesai menimbang-nimbang tawaran Lisa.

"Ya."

Free Pass SellerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang