14

810 149 2
                                        

***

Lee Taeyong ikut sampai kelantai unit apartemen Lisa berada. Pria itu berhenti di depan pintu unit apartemen Lisa, sebab biasanya Lisa akan marah jika seseorang masuk ke tempat pribadinya. Sejak Taeyong pulang dari wajib militernya, ia tidak pernah lagi masuk ke wilayah pribadi teman masa kecilnya itu.

"Masuklah," suruh Lisa, membiarkan pintunya tetap terbuka tidak seperti biasanya.

Taeyong yang selama dua tahun terakhir ini tinggal bersama kekasihnya terkejut saat masuk ke tempat tinggal Lisa. Pakaian dan barang-barang Lisa bercampur dengan sampah, plastik, kotak karton, bubble wrap, botol air mineral kosong, semua sampah yang tidak mengeluarkan bau menemani Lisa di rumah bobrok itu. Perabotannya kusam, sebagian berdebu dan sebagian lainnya rusak.

"Kau harus membersihkan rumahmu, Lisa," kata pertama Taeyong, meski bukan itu alasan utama ia datang menemuinya.

"Aku tahu, tapi aku tidak tahu darimana aku harus memulainya," santai gadis itu, melempar tas jinjingnya ke sofa, bergabung dengan pakaian kotor di sana. "Ini alasanku tidak membiarkanmu masuk ke sini," ucap Lisa, meski Taeyong tidak bertanya.

Lisa menanyakan Eunha. Ia penasaran bagaimana Taeyong bisa datang menemuinya setelah kejadian beberapa jam lalu dan jawabannya sederhana, Taeyong pergi saat Eunha sudah tidur. Lisa mengeluh mendengarnya, mengatakan kalau Taeyong justru akan membuat segalanya jadi semakin rumit. Eunha pasti akan sangat marah kalau tahu kekasihnya berkunjung ke rumah wanita lain di tengah malam, meski mereka tidak melakukan apapun di sana.

"Aku akan pindah keluar kota," ucap Lisa, mengatakan alasan sebenarnya ia mengizinkan Taeyong masuk, sebab mereka tidak akan bertemu lagi. "Jadi berhentilah mengkhawatirkanku, khawatirkan saja kekasihmu, orangtuamu, keluargamu, ada banyak orang yang masih butuh perhatianmu."

"Kau juga keluargaku. Kau adikku-"

"Oppa, kau tahu saat itu aku tidak sungguh-sungguh, kau bukan oppaku, hentikan," potong Lisa.

"Maaf karena aku meninggalkanmu," jawab Taeyong. "Kalau aku tidak pergi ke militer, kau tidak akan sendirian. Maafkan aku. Aku tahu kau kecewa karena itu aku berusaha menebusnya. Maafkan aku, kembali lah sekarang, hm?" bujuk Taeyong namun kata-kata yang keluar dari mulut pria itu justru membuat dada Lisa merasa sangat nyeri.

"Kemana aku harus kembali?" tanya Lisa. "Diriku yang dulu? Dia sudah tidak ada. Aku sudah menyingkirkannya. Lisa yang selalu butuh bantuanmu, dia sudah tidak ada. Aku bisa hidup sendirian sekarang. I don't need any people," yakin gadis itu. "Gadis yang oppa khawatirkan, sudah tidak ada lagi," tegasnya, sama sekali tidak terdengar menyenangkan bagi Taeyong.

Lisa yang Taeyong kenal sekarang hanyalah seorang gadis yang dibicarakan tetangga-tetangganya. Pelacur yang menggoda pria di bar, wanita simpanan pria tua hidung belang, si pengeruk emas dalam rumah tangga orang lain. Sejak mereka berpisah dua tahun lamanya karena Taeyong pergi wajib militer, Lisa tidak pernah lagi membagi ceritanya pada Taeyong. Namun Taeyong tidak menyadarinya.

Sesekali mereka masih bertemu, sesekali mereka masih makan bersama. Lisa masih menjaga jarak amannya dari Taeyong, sebab ia tidak ingin kehilangan satu-satunya orang baik dalam hidupnya. Seorang yang selalu mengkhawatirkannya tanpa perlu ia minta. Tapi kemudian Taeyong mulai mengencani wanita lain. Saat itu lah Lisa sadar kalau ia tidak bisa terus mengikat pria baik itu. Ia tidak bisa terus jadi adik pria baik itu, Taeyong tidak bisa terus menjadi oppanya.

Aku tidak bisa menjalin hubungan apapun dengannya, tapi aku juga tidak suka kehilangannya— dilema Lisa saat itu, membuat segalanya jadi semakin rumit. Meski pada dasarnya manusia memang rumit, Lisa membenci situasi rumit itu. Karenanya ia bangun jarak yang lebih jauh lagi diantara ia dan Taeyong. Sampai pada akhirnya, Lisa kehilangan perasaannya untuk Taeyong. Ia sudah membuktikan pada dirinya sendiri kalau ia bisa hidup bahkan tanpa bantuan Taeyong sekali pun.

"Aku tidak punya pekerjaan, tapi aku punya uang," ucap Lisa, menghapus satu persatu rasa khawatir Taeyong agar pria itu tidak punya lagi alasan untuk menjaganya tetap dekat. Ia buka dua kotak hadiah di ruang tengahnya, menunjukan tumpukan uang di dalam sana. "Semua kotak ini, isinya uang, aku punya uang, lebih banyak dari uangmu, iya 'kan?" ucap Lisa, menendang pelan benteng kotak hadiahnya di sana.

"Darimana kau mendapatkannya? Pria hidung-"

"Judi," potong Lisa. "Oppa benar-benar percaya kalau aku pelacur? Tentu saja percaya, aku yang bilang kalau aku bisa tidur dengan siapapun yang mau membayarku," ucapnya, bertanya dan menjawab sendiri pertanyaannya. "Kenapa oppa terkejut? Appaku juga berjudi, bahkan menerima suap, bergabung dengan gangster kecil di wilayahnya lalu bunuh diri. Teman-temannya di tempat judi yang mengajariku berjudi. Siapa sangka kalau ternyata putrinya juga bisa bermain sahabat dirinya? Dia pasti bangga."

"Kau juga bergabung dengan gangster itu? Lisa, kau berjanji tidak akan gagal seperti ayahmu."

"Persetan dengan janji itu! Saat cintamu ku tolak dan gagal, kau masih menyebutnya cinta. Tapi kenapa kenapa kau menyebut janji dan mimpi yang tidak bisa ku tepati sebagai kegagalan?!" kesal Lisa, mengingat alasan ia menampar Eunha tadi, karena gadis itu membicarakan orangtuanya.

Taeyong memalingkan wajahnya. Sembari menunduk ia gigit bibirnya sendiri. Tiba-tiba saja kepalanya jadi pening. Ia tidak bisa menerima kenyataan yang ada di depannya. Dulu pelacur, sekarang penjudi dan bisa jadi lebih buruk karena Lisa kelihatannya bergabung dalam geng yang sama seperti ayahnya— nilai Taeyong, alasan kepalanya berdenyut sangat keras.

Lee Taeyong lahir dari seorang ayah polisi, sama seperti Lisa. Sementara ayah Lisa mati bunuh diri setelah ketahuan menerima suap, ayah Taeyong justru naik jabatan karena menangkap sekelompok gangster dan membuktikan kalau rekan kerjanya menerima suap. Lima belas tahun lalu keluarga mereka berada di titik yang benar-benar bertolak belakang. Lisa hancur bersama keluarganya, sedang kehidupan Taeyong membaik karena jabatan ayahnya. Meski tidak sekolah dan kuliah di luar negeri seperti Lisa, mereka bisa bergaul, mereka bisa berteman, sangat dekat seolah tidak ada yang bisa memisahkan. Meski kemudian harmoni itu berakhir karena romansa yang seharusnya tidak ada di sana.

"Kau hanya berjudi, iya kan?" tanya Taeyong kemudian. Ia berusaha keras terdengar tenang, namun rasa khawatir tetap tergambar jelas dari suaranya. "Kau tidak bergabung dengan geng apapun, iya kan? Kau tidak melakukan kesalahan lain selain berjudi, iya kan?" desak pria itu namun Lisa hanya diam. "Katakan tidak, jangan hanya diam. Kau tidak melakukan kesalahan lain selain berjudi 'kan?" ulang pria itu. "Baiklah kalau kau tidak melakukan kesalahan lain selain berjudi. Kau bisa berhenti sekarang. Tidak perlu khawatir, kau bisa berhenti sekarang, tidak ada yang tahu-"

"Aku melakukannya. Kejahatan lainnya. Penipuan, narkoba, suap, aku terlibat," potong Lisa, namun Taeyong tidak mau menerimanya. Lisa tidak mungkin melakukan semua itu. Lisa yang Taeyong kenal tidak mungkin melakukan semua kesalahan itu. "Atas dasar apa kau begitu meragukannya? Apa menurutmu ada penjudi yang bisa mengumpulkan semua ini hanya dalam sepuluh tahun? Kau pikir aku sangat hebat sampai tidak pernah kalah? Kalau aku memang sehebat itu, aku pasti tinggal di kasino sekarang," tanya Lisa, sebab Taeyong masih berusaha menolak kenyataannya.

"Tidak. Kau tidak mungkin melakukan kesalahan itu, kau pintar, Lisa. Kau tidak mungkin melakukannya!" tegas Taeyong, menolak keras kenyataan yang berdiri tegak di depannya.

"Kesalahan, kejahatan dan dosa, mereka punya namanya masing-masing, kenapa oppa menyamakan mereka? Apa yang aku lakukan bukan kesalahan, ini kejahatan. Sekarang oppa sudah mengetahuinya, langsung dari mulutku sendiri, kenapa kau tidak bisa mempercayainya? Padahal oppa percaya kalau aku pelacur, seperti yang orang-orang bilang," jebak Lisa. "I'm perfectly sober, jangan perlakukan aku seolah aku sedang tersesat. Tidak semua orang yang malang melakukan kejahatan sepertiku. Aku, dengan sadar melakukan semua kejahatan itu, tidak ada yang memaksaku, tidak ada yang mengancamku. Aku juga sadar saat memberitahumu sekarang. Karena itu jangan mengkhawatirkanku. Aku tahu apa yang ku lakukan, aku tahu resikonya dan aku bersedia menerima resiko itu. Aku bukan gadis polos itu lagi."

***

Free Pass SellerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang